Wisata Dlingo Bantul Bukan Cuma Alam, Ada Kerajinan Bambu dan Warangka Keris Langka

BANTUL – Wisata Dlingo Bantul menyimpan kekayaan yang lebih luas daripada panorama perbukitan dan petualangan jeep.
Di kawasan Muntuk dan Mangunan, wisatawan dapat menemukan sentra kerajinan bambu yang diwariskan lintas generasi, pengrajin warangka keris yang mempertahankan keterampilan tradisional, hingga tempat kuliner yang menyajikan makanan khas pedesaan di tengah persawahan. Potensi ini menunjukkan bagaimana wisata alam, budaya, dan ekonomi masyarakat dapat dikembangkan dalam satu perjalanan.
Daya tarik tersebut terlihat dalam kegiatan jelajah Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perjalanan dimulai dari Puncak Becici, kemudian berlanjut melewati jalur alam, perkampungan pengrajin, hingga destinasi kuliner tradisional.
Baca Juga: Debut di RFF 2026, Merakit Perahu Production Angkat Pesan Perjuangan dan Komunikasi Keluarga
Kerajinan Bambu Menjadi Identitas Kampung Muntuk
Salah satu destinasi yang menarik perhatian adalah sentra kerajinan bambu di Karangasem, Muntuk, Dlingo. Di kawasan ini, aktivitas produksi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Wisatawan dapat menyaksikan proses pembuatan berbagai produk, mulai dari mengolah bahan baku, menganyam, menghaluskan permukaan, hingga mengemas barang untuk dipasarkan.
Produk yang dihasilkan cukup beragam. Ada tampah, wadah makanan, tempat buah, tudung saji, tempat hantaran, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya. Sejumlah pengrajin juga membuat produk berdasarkan desain atau permintaan konsumen.
Supri, salah satu pengelola sentra kerajinan, menjelaskan bahwa keterampilan mengolah bambu berawal dari warisan nenek moyang. Dahulu, masyarakat membuat produk tradisional seperti tampah dan berbagai perlengkapan rumah tangga. Seiring perubahan kebutuhan pasar, jenis produk terus dikembangkan.
Inovasi tersebut menjadi salah satu cara pengrajin mempertahankan usaha di tengah perubahan selera konsumen. Sebagian produk bahkan mulai dipasarkan ke luar negeri, sementara generasi muda memanfaatkan penjualan daring untuk memperluas jangkauan pembeli.
Selain memiliki nilai ekonomi, kerajinan bambu menawarkan alternatif bahan alami untuk sejumlah kebutuhan rumah tangga. Produk ini juga memiliki daya tarik estetis karena dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan desain.
Kunjungan wisatawan memberikan kesempatan untuk mengenal proses produksinya secara langsung, sekaligus membuka peluang pemasaran melalui pengalaman berbelanja di tempat.


