MALANG - Kayutangan Heritage atau Kajoetangan kini menjadi salah satu ikon wisata sejarah paling strategis di Kota Malang. Kawasan ini memadukan arsitektur kolonial Belanda dengan kehidupan kampung tua yang hidup, menjadikannya destinasi favorit wisatawan sekaligus ruang ekonomi kreatif bagi warga setempat.
Kampung Heritage yang Menjaga Jejak Sejarah
Kampung Heritage Kajoetangan telah dihuni sejak abad ke-13 dan menyimpan sekitar 22 bangunan bersejarah yang dibangun pada periode 1870–1920. Rumah-rumah tua ini tetap terawat dan difungsikan sebagai hunian, ruang budaya, hingga titik interaksi wisata. Beberapa spot ikonik yang sering dikunjungi antara lain Rumah Namsin, Gubuk Ningrat, Rumah Jamu, serta Jembatan Pedestrian yang menghubungkan berbagai sudut kampung.
Koridor Kayutangan Lebih Rapi Berkat Kabel Bawah Tanah
Sejak Januari 2026, wajah Koridor Kayutangan semakin tertata setelah pemasangan sistem kabel bawah tanah (ducting). Langkah ini membuat lanskap kota lebih bersih, aman, dan estetik, sekaligus mendukung konsep kawasan heritage yang ramah pejalan kaki. Pada malam hari, koridor ini berubah menjadi pusat aktivitas dengan musik jalanan, lampu temaram, serta deretan kafe bertema Malang Tempo Doeloe.
Surga Kuliner dan UMKM Lokal
Kayutangan Malang kini menjadi etalase ratusan UMKM kuliner dan kreatif. Pengunjung dapat menikmati aneka makanan khas, kopi lokal, hingga jajanan tradisional sambil menyusuri gang-gang bernuansa retro. Kawasan ini tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga motor penggerak ekonomi warga sekitar.
Informasi Kunjungan Terbaru 2026
Kayutangan Heritage berada di Jl. Jenderal Basuki Rahmat, Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Koridor jalan dapat diakses 24 jam dan paling ramai saat malam minggu, sementara area kampung umumnya buka pukul 07.00–18.30 WIB, dengan beberapa titik diperpanjang hingga 22.00 WIB pada akhir pekan. Tiket masuk kawasan kampung berkisar Rp5.000–Rp10.000 dan biasanya sudah termasuk kartu pos kenang-kenangan.
Untuk kenyamanan wisatawan, Gedung Parkir Kayutangan telah resmi beroperasi sejak Januari 2026, mengurangi kemacetan sekaligus mempermudah akses menuju kawasan cagar budaya ini.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya