Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita M. Tura Wahya Menjadi Kolektor Barang Antik Berawal dari Batu Akik, Koleksi Keris Sering Jadi Incaran

Nanda Nila Alvinda • Sabtu, 1 Juli 2023 | 02:00 WIB
IMPIAN: M Tura Wahya Wibawa saat menunjukkan beberapa barang antik koleksinya.
IMPIAN: M Tura Wahya Wibawa saat menunjukkan beberapa barang antik koleksinya.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Pesona dari barang-barang antik membius pemuda berusia 27 tahun itu untuk kian mendalami keindahannya. Bermula dari ketertarikan, kini dia menjadi kolektor barang antik jenis keris dengan sejuta makna dari pusaka jenis tikam tersebut.

Awalnya, M. Tura Wahya Wibawa tertarik untuk mengoleksi barang-barang antik saat demam batu akik. Batu-batu permata tersebut kian membawanya untuk mengenal barang-barang antik lainnya seperti keris. “Awalnya itu waktu kelas 3 SMP, sekitar 2011 lalu. Waktu itu bermula suka dengan batu-batu permata atau batu akik. Nah, dari situ mulai mengenal barangbarang antik lainnya,” jelasnya Rabu (28/6).

Minatnya akan pesona barang antik seperti batu permata tersebut menjadikannya salah satu dari 23 juri batu jenis pirus seIndonesia. Dengan predikat yang mentereng itulah, dia mulai beralih untuk mengoleksi barang antik keris jenis tosan aji. “Ya itu karena sekolah juga dan sampai menjadi juri batu akik pirus. Predikat itu hanya ada 23 orang juri se-Indonesia,” ucapnya.

Kemudian untuk mengoleksi keris sendiri, dia tidak sembarangan memilih pusaka tikam tersebut. Dia hanya mengoleksi barang antik keris dari jenis material, kualitas, dan lamanya tahun pembuatan. “Ya karena itu semua memengaruhi harga dari keris itu. Jadi, semakin bagus jenis materialnya, kualitasnya, dan semakin lama tahun pembuatannya maka semakin mahal,” paparnya. Langkanya keris koleksi milik pria yang akrab disapa Tura ini membuat banyak kolektor benda pusaka tersebut berbondongbondong menawar barang koleksinya.

Menurutnya, tidak ada patokan khusus untuk menentukan harga senjata tikam tersebut. “Kalau yang benar-benar disimpan itu hanya beberapa. Kalau ngomong harga, setiap komponen keris itu punya harganya sendiri. Jadi kalau ngomong harga, mulai dari ratusan ribu hingga miliaran itu juga ada,” ungkapnya. Pria asal Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, ini pun mengaku bahwa memang sejatinya terdapat standar kualitas dari banderol mahar barang antik keris tersebut. Seperti dari segi material, keutuhan barang, dan kelangkaan barang. “Jadi, harganya memang relatif, tapi ada standar kualitas untuk mahar keris itu,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga berupaya untuk menggeser mindset masyarakat umum yang kerap mengecap keris sebagai barangbarang mistis. Menurutnya, pusaka keris ini merupakan bukti sejarah bahwasanya bangsa ini kaya. “Ya mindset itu yang perlu diubah. Karena pusaka keris itu peninggalan dan bukti kayanya bangsa kita,” tutupnya.(*/c1/rka)

Editor : Nanda Nila Alvinda
#koleksi keris #kolektor akik #barang antik