Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bernostalgia 'Mlonco' Wartawan 'Culun'

S
Penulis: Soenarwoto❯
Nostalgia wartawan senior di Tulungagung. Kisah lucu "mlonco" wartawan culun, dunia redaksi, dan persahabatan yang penuh makna.(Gemini ai)
Nostalgia wartawan senior di Tulungagung. Kisah lucu "mlonco" wartawan culun, dunia redaksi, dan persahabatan yang penuh makna.(Gemini ai)

Advertisement

KEMARIN malam saya ngopi bareng dengan tiga teman di Kopinkmie. Tiga teman itu Aris Sudanang (Direktur Radar Tulungagung), Hanik Purwanto (mantan Pemred Tabloid Nyata dan pernah jadi redaktur Tabloid Wanita Indonesia), dan Anggi Septian (Redaktur Radar Tulungagung). Paling tua saya, dan paling muda Anggi--begitu panggilan Anggi Septian.

Obrolan malam itu lebih banyak membincang masa muda, ketika dulu masing-masing kita jadi redaktur. Alih-alih minum kopi sambil bernostalgia. Karena saya paling senior, maka Anggi yang bertubuh gembul seperti "Guru Gembul" itu meminta saya duluan yang berkisah.

"Ini saya minta Pak Wot bercerita dulu,. Kalau Pak Wot yang bercerita pasti ada karomahnya," kelakar Anggi. Mendengar permintaan itu saya diam sesaat dan tersenyum.

Advertisement

"Waduh, seperti wali saja punya karomah. Kalau maqom saya ini orang biasa dan suangat biasa, ya cukuplah punya maunah hehe. Eh, maunah juga belum tentu. Mungkin kalau 'remah-remah" masih ada," kata saya kepada Anggi dengan bercanda. Remah-remah itu "serpihan sisa roti" yang masih bisa dimakan.

Tiga teman yang mendengar manggut-manggut dan tersenyum. Agar celoteh saya terdengar jelas, Aris Sudanang meminta karyawan Kopinkmie untuk mengecilkan volume musik yang diputarnya terlalu keras. "Betul Pak Aris, nanti cerita Pak Wot nggak terdengar," timpal Anggi.

Suara musik caffe pun sudah mengecil. Setelah itu saya bertanya, "Banyak kisah yang menarik saat saya jadi wartawan, redaktur, dan jelek-jelek begini juga pernah lho jadi Kepala Biro Republika Jawa Timur. Terus yang mana ini yang harus saya ceritakan."

Advertisement

Saya berlagak bingung. "Yang mana saja boleh, biar saya bisa tahu kisahnya," sergah Anggi dengan cepat dan tangkas. Mendengar itu dalam hati saya bergumam, "Keren" juga ini anak muda. Anggi." Ia saya anggap muda karena umurnya sepantaran anak saya.

Bersamaan itu saya langsung ingat saat "mlonco" wartawan-wartawan "culun". 

Masih "freshgraduate" dan "kaplak" yang masih juga tak bisa menulis berita. Saya ingat saat mlonco anak buah (wartawan). Saya kalau mlonco itu tidak pakai marah-marah, tapi saya suruh bikin kopi atau masak mie.

"Tidak seperti redaktur-redaktur jaman kolonial, mlonco wartawannya dengan dibentak-bentak dan dimarah-marahi. Tapi kalau saya, wartawan saya ajak duduk disamping kursi redaktur, tapi sebelumnya harus buatkan dulu kopi atau mie," kata saya.

Advertisement

Artikel Terkait

Wajah "Kebinatangan" Haji Kita

Wajah "Kebinatangan" Haji Kita

Penulisan Kasus korupsi Haji 2024 menjadi refleksi tentang niat ibadah, sifat kebinatangan manusia, dan makna haji yang seharusnya karena Allah.

Kopi "Londo" Ireng

Kopi "Londo" Ireng

Londo Ireng menjadi bahan sindiran wartawan senior Soenarwoto. Lewat tulisan “Kopi Londo Ireng”, ia meracik kritik politik dengan humor.

Nggowes dan Filosofinya

Nggowes dan Filosofinya

Direktur Radar Tulungagung Aris Sudanang membagikan filosofi nggowes. Menurutnya, jalan menanjak dan menurun mencerminkan perjalanan hidup.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer