Pabrik Gula (PG) Modjopanggoong terus ikut berupaya meminimalisasi penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Hal ini terlihat dari pelaksanaan fogging secara berkala. Selain itu, seluruh karyawan juga diimbau menerapkan 3M Plus.
RACHMAD NUR YAHYA, Kauman, Radar Tulungagung
Dalam upaya mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan cikungunya, kegiatan fogging dilaksanakan di area rumah dinas Magersari, PG Modjopanggoong. Pelaksanaan dimulai kemarin Sabtu (26/1) dengan melibatkan dua petugas fogging yang bergerak secara sistematis dari pintu ke pintu dengan pengawalan ketat oleh petugas keamanan pabrik.
Fogging ini bertujuan untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti dewasa yang menjadi faktor utama penyebaran DBD. Selain itu, langkah ini diharapkan mampu menekan risiko penyebaran penyakit yang kerap meningkat di musim penghujan akibat banyaknya genangan air yang menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
General Manager PG Modjopanggoong, Sugiyanto, dalam keterangannya mengimbau seluruh warga untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan. Dia menegaskan bahwa fogging hanyalah salah satu cara pengendalian sementara dan bukan solusi utama. “Fogging hanya membasmi nyamuk dewasa dalam waktu singkat. Jika kita tidak melakukan pembersihan lingkungan secara rutin, siklus perkembangbiakan nyamuk akan terus berulang,” ujar Sugiyanto.
Sugianto juga mengimbau selama libur panjang ini seluruh bak mandi dan penampungan air dalam pabrik PG Modjopanggoong dan kamar mandi di rumah-rumah dinas untuk dikosongkan. Dia juga mengajak seluruh warga untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui langkah sederhana yang efektif. “Mari kita bersama-sama menerapkan pola hidup bersih. Dengan lingkungan yang bersih, kita tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga menciptakan tempat tinggal yang nyaman bagi keluarga kita,” tambahnya.
Fogging dikenal efektif untuk membunuh nyamuk dewasa secara cepat. Namun, langkah ini tidak sepenuhnya mampu memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. Oleh karena itu, pencegahan utama tetap harus dilakukan, salah satunya dengan menerapkan metode 3M Plus.
Yakni, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan drum secara rutin; menutup rapat tempat-tempat penampungan air untuk mencegah nyamuk bertelur; mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk; serta ditambah dengan langkah-langkah tambahan seperti menggunakan kelambu saat tidur, menanam tanaman pengusir nyamuk, hingga menabur bubuk abate di tempat genangan air yang sulit dibersihkan.
Langkah ini dianggap lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan fogging yang sifatnya sementara. Kombinasi antara fogging dan penerapan kebiasaan hidup bersih akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam menekan angka penyebaran penyakit.
Kegiatan fogging ini menjadi wujud nyata komitmen PG Modjopanggoong dalam menjaga kesehatan lingkungan kerja dan tempat tinggal karyawan. Tidak hanya sebagai langkah pencegahan, kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi semua pihak tentang pentingnya peran bersama dalam memberantas penyakit.
Sugiyanto berharap langkah ini dapat meningkatkan kesadaran warga untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. “Kami percaya, sinergi antara fogging dan kesadaran warga untuk menjaga kebersihan adalah kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan aman dari ancaman penyakit seperti DBD dan cikungunya,” tutupnya.
Dengan pelaksanaan rutin seperti ini, PG Modjopanggoong optimistis dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan bebas dari ancaman penyakit menular. Upaya ini sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana kesadaran bersama dapat menjadi benteng utama dalam menjaga kesehatan masyarakat.***