Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Eksistensi Produk Rajut

Endah Sriwahyuni • Senin, 13 Februari 2023 | 21:07 WIB
Photo
Photo
KOTA BLITAR – Karya rajut ternyata masih diminati hingga kini. Meskipun segementasi pasarnya hanya sebatas kaum perempuan, aksesoris ini bisa digunakan untuk segala usia.

“Paling banyak permintaan itu yang casual, seperti sling bag dan hand bag,”ucap perajin tas rajut, Wiwik Wulansari kemarin (10/2).

Menurutnya, produk rajut masih eksis karena unik. Selain itu, karya ini diproduksi secara manual alias handmade. Sehingga tiap-tiap produknya memiliki ciri tertentu. Bebeda dengan pabrikan yang rata-rata identik karena dibuat menggunakan cetakan yang sama. “Selain unik, rajut ini produk handmade jadi masih banyak yang suka,” katanya.

Harga kadang jadi kendala pemasaran karya rajut. Selain kebutuhan bahan baku, proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lebih lama. Akibatnya, harga karya rajut ini tergolong cukup mahal.

FINISHING: Kualitas bagian dalam tas atau dompet ternyata menjadi pertimbangan penting pasar. (DONI SETIAWAN/ RADAR BLITAR)

Untuk masalah ini, Sari -sapaan akrab Wiwik Wulansari- memiliki cara yang sedikit tidak lazim. dia memilih produksi dalam jumlah banyak untuk menekan biaya prdokusi.

Hal ini bukan tanpa risiko. Sebab, butuh modal besar ketika memutuskan strategi ini. Di sisi lain, kerja keras untuk pemasaran harus dilakukan agar perputaran modal bisa berjalan dengan baik. “positifnya kami mimili stok yang melimpah. Menurut kami ini juga bagian penting dari pelayanan. Karena pasar butuh cepat,” terangnya.

Saat ini, karya rajut miliknya dibanderol dengan harga Rp 35 ribu sampai Rp 400 ribu. Konon, itu lebih murah jika dibandingkan dengan harga pasaran.

Kendati lebih terjangkau, sari memastikan produk rajut miliknya memiliki kualitas premium. Baginya, cacat pada karya berdampak buruk untuk kelangsungan usaha. Karena ini pula, pihaknya menempatkan beberapa personel yang bertugas sebagai quality control. “Yang paling susah itu di finishing. Utamanya untuk bagian dalam tas atau dompet. Meski tidak tampak dari luar, ternyata itu menjadi pertimbangan orang sebelum membeli produk,” katanya. (hai) Editor : Endah Sriwahyuni
#Kabupaten Blitar #tas rajut #produk rajut #kyra bag #Kota Blitar #kyra gallery