KABUPATEN BLITAR - ‘Desa Petasan’ tampaknya menjadi indentitas lain Desa Karangbendo Kecamatan Ponggok. Nyaris setiap tahun, wilayah di Blitar utara ini menggunakan mercon untuk memeriahkan momen, seperti saat idul fitri. Tak hanya itu, ada seorang warga yang selama ini cukup aktif memproduksi benda berbahaya tersebut.
“Yo akeh (ya banyak,Red) yang buat, itu sudah hal biasa,” ujar warga Dusun Tegalrejo Kecamatan Karangbendo Kecamatan Ponggok, Atinah.
Menurutnya, warga di desa ini memiliki budaya bermain petasan. Bahkan, pemandangan orang meracik atau membuat mercon sendiri sudah menjadi pemandangan biasa di desa tersebut. “Terlebih menjelang musim bulan puasa dan hari raya idul fitri,” imbuhnya.
Sejak kecil, kata dia, sering melihat saudaranya berkumpul hanya untuk membuat petasan. Para tetangga suka meminta kertas bekas di rumahnya. Selain orang dewasa, anak-anak kecil juga tidak sedikit yang ikutan dengan kebiasaan itu.
Ditanya soal, tempat membeli bahan baku petasan, Atinah mengaku tidak tahu. Menurutnya, kegiatan memebuat petasan itu hanya untuk senang-senang saja. Dia tidak pernah mengetahui soal pembuatan dalam skala besar apalagi untuk tujuan dijual. “Nggak tau aku, sudah nggak pernah buat,” ucapnya.
Di lokasi berbeda, Ropipah membenarkan petasan yang diproduksi tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Sebagian warga menggunakan benda berbahaya tersebut untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Misalnya darman, yang rumahnya hancur akibat ledakan minggu malam kemarin.
Sepengetahuan dia, produksi petasan ini dilakukan bersama dua orang anaknya dan beberapa tetangga. Namun, dia enggan memberikan nama siapa tetangga itu. “Sudah ngungsi tadi! Jadi kita nggak tahu,” sahut wanita berhijab ini.
Sebutan desa petasan ini tampaknya tidak hanya di Kecamatan Ponggok. Informasi yang berhasil dihimpun, tradisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain. Misalnya, di Kecamatan Udanawu dan Kecamatan Wonodadi.
Setiap tahun, jajaran kepolisian sebenarnya melakukan operasi mercon. Sayangnya, fenomena main main dengan mercon ini masih tetap terwariskan hingga kini. (mg2/hai) Editor : Endah Sriwahyuni