KABUPATEN BLITAR - Tanggal 16 Agustus dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Karena peristiwa itulah, akhirnya Indonesia bisa merdeka setelah ratusan tahun dijajah. Siapa sangka, salah satu pemuda di balik peristiwa bersejarah tersebut merupakan putra daerah asal Blitar.
Di sisi utara jalan nasional, tidak jauh dari Stasiun Garum, Kabupaten Blitar, terdapat patung setengah badan dengan figur pria berpeci. Di sebelah patung terdapat tulisan berukuran besar yang bertuliskan “Taman Sukarni”. Taman tersebut sengaja dibuat untuk mengenang jasa Sukarni selama kemerdekaan Indonesia.
Dari taman, sekitar 900 meter ke barat terdapat gang, lalu masuk ke selatan. Kurang lebih 500 meter terdapat rumah tua perpaduan rumah joglo dan gaya Belanda. Ya, di rumah itulah Sukarni dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya. Hingga kini, rumah tersebut masih terjaga keaslian bangunannya. Rumah itu dimanfaatkan warga untuk kegiatan masyarakat atas seizin keluarga Sukarni.
Sosok Sukarni selalu dikaitkan dengan peristiwa penculikan Rengasdengklok menjelang Kemerdekaan Indonesia. Padahal, Sukarni dapat dikatakan sebagai penentu kemerdekaan Republik Indonesia. Sebab, berkat kegigihannya, pada waktu itu Sukarni berhasil membujuk Soekarno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Lahir dengan nama Sukarni Kartodiwirjo pada 14 Juli 1916 lalu, Sukarni kecil dikenal sebagai sosok yang pemberani dan memiliki jiwa patriotisme yang tinggi. Masa kecilnya dihabiskan di Kelurahan Sumberdiren, Kecamatan Garum.
Sayangnya, Sukarni tidak lama menetap di Blitar. Sebab, Sukarni memasuki bangku sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara dengan sekolah menengah pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda. Sukarni bertolak ke Bandung dan tinggal bersama presiden Pertama Indonesia, Soekarno. “Menurut cerita, sejak kecil Pak Lek Sukarni senang ngajak gelut (duel, Red) orang-orang Belanda,” ungkap Bambang Tri Santoso, kerabat Sukarni yang rumahnya tidak jauh dari rumah pahlawan Sukarni, kepada Jawa Pos Radar Blitar kemarin (15/8).
Sang Istri, Ninik Denarsih merupakan keponakan dari Sukarni. Sore itu, di teras belakang rumahnya, mereka membagikan kenangan sosok Sukarni kepada tim Jawa Pos Radar Blitar. Mereka mencoba menguatkan ingatannya karena kala itu mereka masih kecil.
Dalam ingatan mereka, sosok Sukarni memang pribadi yang berani dan berjiwa patriot tinggi. Sejak kecil, Sukarni sudah anti terhadap orang-orang Kolonial. Pada masa itu, Kelurahan Sumberdiran memang menjadi pusat permukiman orang-orang Belanda. Di area patung Sukarni, dulunya terdapat pabrik gula terbesar di Jawa Timur. Ketika orang-orang Belanda selesai bekerja, Sukarni dengan berani selalu mencari gara-gara dengan mereka. “Entah karena badung dan punya jiwa nasional yang tinggi, Pak Sukarni selalu menantang orang Belanda yang lewat,” tuturnya.
Pria berkacamata itu mengungkapkan, Sukarni memiliki peran penting untuk mewujudkan kemerdekaan. Di usia yang terbilang muda, Sukarni bersama rekannya, Wikana dan Chaerul Saleh serta tokoh pemuda lainnya, menculik Ir Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok. Menculik bukan dalam artian negatif, tetapi dengan tujuan mendesak mereka untuk segera menyatakan kemerdekaan. “Kalau Pak Sukarni tidak nekat pasti Indonesia merdeka bukan di tanggal 17 Agustus, melainkan masih menunggu keputusan dari Jepang,” imbuhnya.
Sukarni memiliki karir politik yang cemerlang. Berkali-kali Sukarni dicari oleh polisi Belanda karena aktivitas politiknya. Tak terhitung berapa kali mendekam dipenjara. Tak jarang, pria dengan karakter berpeci miring itu berhasil kabur atau memang sudah waktunya bebas.
Sore itu, tim Jawa Pos Radar Blitar juga disambungkan dengan putri bungsu Sukarni, Emilia Iragiliati Sukarni, yang menetap di Kota Malang. Melalui sambungan telepon, Mimil -sapaan akrabnya- membagikan kisah Sukarni yang begitu dekat dengan keluarga.
Di balik sifatnya yang tegas dan berani, Sukarni merupakan pribadi yang ceria dan suka menjahili anak-anaknya seperti orang tua pada umumnya. Sukarni menyukai masakan padang. Sang istri, Nursjiar Machmoed merupakan keturunan Padang. Selama Sukarni mendekam di penjara, Nursjiar tak pernah absen mengirim masakan padang untuk Sukarni. “Iya, papa suka bercanda dengan kami, ya seperti orang tua lainnya,” ungkap perempuan yang menjadi dosen Sastra Inggris di salah satu universitas ternama di Malang ini.
Mimil menjadi salah satu saksi perjuangan Sukarni dalam mewujudkan kemerdekaan. Sukarni juga yang mengusulkan naskah proklamasi kemerdekaan ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Karir politik Sukarni pascakemerdekaan semakin kentara. Pertemuannya dengan Tan Malaka melahirkan Partai Murba. Sukarni juga pernah ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat Cina.
Tak hanya itu, di awal pemerintahan Soeharto, Sukarni didapuk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung lembaga tinggi bentukan orde baru. Berkat peristiwa Rengasdengklok, Sukarni mendapat gelar Pahlawan Nasional meskipun setelah 69 tahun Indonesia merdeka. Anugerah tersebut diberikan langsung oleh Presiden Jokowi pada 2014 lalu dan diterima langsung oleh Emilia Iragiliati Sukarni. (mg1/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan