BLITAR-Muhammad Mahmud termasuk pemuda yang memiliki nyali nekat. Meski pernah bekerja nyaman dan gaji ideal, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, ini memilih resign dan membuka usaha sendiri. Yakni, jasa tambal ban online.
Sebelum menjadi pelayan jasa tambal ban, Mahmud juga diterima kerja di perusahaan perakitan mobil di Jawa Barat. Sayangnya, orang tua tidak mengizinkan karena sudah lanjut usia dan mendukung Mahmud untuk bekerja di kampung halaman.
Dia tidak patah semangat dan berusaha bangkit. Dia lantas bergabung dengan komunitas sosial di Blitar Raya saat pandemi Covid-19. Dari aksi sosial ini, hatinya tergerak untuk membantu sesama dan menumbuhkan ide untuk membuat tambal ban online.
Memang saat awal membuka usahanya ini, Mahmud menerima cibiran dan gunjingan. Namun, semua keraguan yang dilontarkan oleh teman hingga saudara itu justru menjadi dorongannya untuk bekerja lebih keras.
“Dulu saat pandemi Korona, pemerintah menerapkan pembatasan kegiatan. Sehingga membuat warung, toko, dan jasa tutup saat malam hari. Dari hal itu, saya merasa kasihan jika ada pengendara roda dua atau empat yang tiba-tiba terkena apes karena ban bocor. Ini menjadi titik awal usaha saya,” ungkapnya.
Berbekal alat seadanya, Mahmud berkeliling Kota Blitar untuk menyebar brosur usaha jasa tambal ban miliknya. Bahkan, motor yang digunakan untuk operasional tambal ban ini buah dari penghasilan pekerjaan sebelumnya. Usaha pantang menyerah yang dilakukan Mahmud membuat usahanya banyak dikenal orang.
Dia hanya berbekal sepeda motor lawas. Dalam pelayanannya, dia mengutamakan kecepatan dan kualitas.
“Saya pasang tarif tambal ban untuk motor sekitar Rp 25 ribu saat siang sampai sore. Sedangkan untuk malam Rp 30 ribu. Untuk mobil kisaran Rp 60-70 ribu, dari ganti ban serep sampai selesai pasang. Di atas pukul 20.00, saya tambah Rp 5 ribu dari tarif normal,” tutur pemuda 23 tahun ini.
Kini, rata-rata Mahmud bisa mengantongi pendapatan Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu tiap hari dari usaha tambal ban online tersebut. Pelanggannya bukan hanya dari Kota Blitar, melainkan juga dari luar kota yang sedang singgah di Bumi Bung Karno. Rata-rata ada 5 hingga 6 pelanggan tiap hari dan pekerjaannya cukup santai.
Selama ini pelanggan Mahmud mayoritas adalah pengendara sepeda motor, meski tidak jarang juga ada mobil. Jasa tambal ban online ini selalu ramai panggilan, terlebih saat malam hari ketika tambal ban konvensional sudah pada tutup.
Di awal mendirikan usaha, Mahmud hanya berpandangan bahwa saat ini semua serba online atau digital. Dengan begitu, dia berkeyakinan usaha tambal ban online-nya bisa sukses dan berkembang di masa depan.
Biaya operasi usaha jasa tambal ban online Mahmud ini cukup murah. Dalam sehari, dia rata-rata hanya mengeluarkan uang Rp 10 ribu rupiah untuk biaya bensin motor yang digunakannya berkeliling ke sejumlah titik panggilan.
“Alhamdulilah, penghasilan dari tambal ban online bisa membantu untuk merenovasi rumah. Mungkin berkah orang tua juga, meski kelihatannya sepele, tapi dapat bermanfaat bagi keluarga,” pungkasnya. (*/c1/hai)
Editor : Doni Setiawan