RADAR TULUNGAGUNG - Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan tekanan berat selama empat pekan berturut-turut.
Di tengah pelemahan pasar kripto global, termasuk tekanan tajam pada Bitcoin, kabar peluncuran Robinhood Chain sebagai blockchain anyar justru memberi warna berbeda dalam dinamika industri aset digital.
Hingga perdagangan siang waktu AS, Bitcoin tercatat turun lebih dari 10 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Aset kripto terbesar di dunia itu sempat bergerak liar dari level tertinggi USD 73.968 hingga menyentuh kisaran USD 60 ribuan.
Tren negatif ini menandai pekan keempat berturut-turut Bitcoin mencetak kinerja mingguan yang merah.
Tak hanya Bitcoin, Ether juga merosot hampir 12 persen, sementara Solana anjlok lebih dari 15 persen.
Kinerja ini bahkan tertinggal dibanding pasar saham tradisional seperti indeks S&P 500 yang justru naik hampir 1 persen dalam periode yang sama.
Tekanan Suku Bunga dan Sikap The Fed
Sejumlah analis menilai pelemahan Bitcoin kali ini berbeda dengan siklus bearish sebelumnya.
Chief Equity Strategist Stifel, Barry Bannister, menilai Bitcoin belum menunjukkan karakter sebagai lindung nilai terhadap pelemahan dolar AS.
Menurutnya, pergerakan Bitcoin kini lebih menyerupai saham teknologi yang terlalu mahal (overextended tech stock) dan sangat sensitif terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Jika bank sentral AS tak segera memangkas suku bunga, tekanan terhadap pasar kripto diperkirakan masih berlanjut.
Namun pandangan berbeda datang dari Executive Chairman MicroStrategy, Michael Saylor.
Ia tetap optimistis Bitcoin akan mengungguli kinerja S&P 500 dalam empat hingga delapan tahun ke depan.
Saylor bahkan meyakini performa Bitcoin bisa dua hingga tiga kali lebih baik dibanding indeks saham utama tersebut.
Forum Digital Finance dan Regulasi Kripto
Di tengah volatilitas pasar, CNBC menggelar Digital Finance Forum 2026 yang mempertemukan regulator dan pelaku industri.
Salah satu isu utama adalah regulasi aset digital yang masih menjadi perdebatan antara SEC dan CFTC di Amerika Serikat.
Ketua CFTC yang baru, Michael Celig, membahas RUU Clarity Act yang tengah dibahas di Kongres.
Regulasi ini bertujuan memperjelas definisi sekuritas dalam aset digital, sehingga tidak lagi menimbulkan kebingungan hukum seperti selama ini.
CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, menyebut kondisi pasar saat ini terasa lebih membingungkan dibanding bear market sebelumnya.
Jika sebelumnya keruntuhan dipicu kasus besar seperti Luna dan FTX, kali ini tidak ada “smoking gun” yang jelas, meski harga terjun dalam.
Robinhood Chain Resmi Uji Coba Testnet Publik
Di tengah tekanan harga Bitcoin dan ketidakpastian regulasi, Robinhood justru melangkah agresif.
Platform trading tersebut resmi meluncurkan public testnet untuk blockchain miliknya yang diberi nama Robinhood Chain.
Robinhood Chain dibangun sebagai Ethereum Layer 2 berbasis Arbitrum. Fokus utamanya adalah tokenisasi aset dunia nyata (real world assets) seperti saham dan ETF.
General Manager Robinhood Crypto, Johann Kerbrat, menjelaskan bahwa pengembangan ini merupakan kelanjutan dari peluncuran saham dan ETF yang ditokenisasi di Uni Eropa.
Saat ini, Robinhood telah menyediakan lebih dari 2.000 aset dalam format tokenized.
Menurutnya, visi jangka panjang Robinhood adalah menghadirkan sistem keuangan yang sepenuhnya berjalan on-chain.
Dengan memanfaatkan keamanan dan desentralisasi Ethereum serta fleksibilitas Arbitrum, Robinhood ingin membangun ekosistem yang menggabungkan keuangan tradisional dan kripto.
Beberapa penyedia infrastruktur seperti Alchemy, LayerZero, dan Chainlink disebut sudah mulai membangun di jaringan tersebut.
Testnet publik ini menjadi langkah awal sebelum peluncuran mainnet resmi.
Tokenisasi Saham Jadi Tren Wall Street
Minat terhadap tokenisasi saham juga meningkat di kalangan institusi besar.
Bursa Efek New York (NYSE) dan Nasdaq dilaporkan tengah mengembangkan platform perdagangan sekuritas yang ditokenisasi.
Robinhood menilai tokenisasi sebagai solusi atas berbagai keterbatasan sistem lama, seperti waktu settlement T+1, jam perdagangan yang tidak 24/7, serta sulitnya transfer aset antar broker secara instan.
Dengan tokenisasi berbasis blockchain, transaksi dapat dilakukan secara real-time, transparan, dan lebih efisien biaya.
Robinhood juga optimistis kompetisi dari platform lain seperti eToro justru menjadi sinyal positif bahwa adopsi teknologi ini semakin luas.
Di tengah tekanan harga Bitcoin dan volatilitas pasar kripto, inovasi seperti Robinhood Chain menunjukkan bahwa transformasi industri aset digital tetap berjalan.
Apakah langkah ini mampu mengembalikan sentimen positif pasar? Pelaku industri kini menanti kejelasan regulasi dan arah kebijakan suku bunga sebagai penentu fase berikutnya.
Editor : Vidya Sajar Fitri