RADAR TULUNGAGUNG - Peluang MSCI 2026 kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda-tanda rebound dalam sepekan terakhir. Meski belum signifikan, penguatan ini cukup memberi napas bagi saham-saham konglomerat yang sebelumnya tertekan hingga auto rejection bawah (ARB).
Peluang MSCI 2026 dinilai menjadi salah satu sentimen utama yang menggerakkan pasar. Apalagi setelah pertemuan sejumlah konglomerat dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, IHSG perlahan bangkit dari tekanan. Saham-saham grup besar seperti Bakrie, Salim, hingga Merdeka Copper Gold mulai mencatatkan kenaikan.
Namun, apakah peluang MSCI 2026 benar-benar mampu membawa IHSG rebound lebih panjang? Ataukah ini hanya fase awal pemulihan sebelum volatilitas kembali terjadi?
IHSG Rebound Usai Tekanan MSCI
Sebelumnya, pasar sempat terpukul setelah MSCI membekukan sejumlah saham yang berpotensi masuk ke indeks global tersebut. Dampaknya, IHSG yang sempat berada di atas 9.000 langsung ambles tajam.
Kini, setelah pengumuman rebalancing small cap dan munculnya harapan revisi kebijakan free float menjadi minimal 15 persen, sentimen pasar mulai membaik. Pelaku pasar berharap finalisasi MSCI pada April mendatang membawa kabar positif.
Di tengah musim rilis laporan keuangan emiten, investor juga menanti kinerja terbaru sebagai penopang fundamental indeks.
Saham Konglomerat Mulai Menghijau
Sejumlah saham konglomerat mencatat rebound signifikan. PANI melonjak 23 persen dalam sepekan. BRMS naik 9 persen, BUMI menguat 10 persen, dan DEWA melesat 11,8 persen.
Dari grup Merdeka, saham emas (MDKA dan entitas terkait) ikut terdongkrak seiring kenaikan harga emas global. Saham RAJA dan BUVA yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro juga melonjak lebih dari 20 persen secara mingguan.
PTRO menguat 16,8 persen, CUAN naik 12 persen, sementara BRPT dan ADRO turut bergerak positif.
Meski demikian, analis mengingatkan bahwa penguatan ini masih berbasis narasi dan ekspektasi. Tanpa dukungan fundamental dan kepastian MSCI, reli bisa bersifat sementara.
BUMI Paling Siap Masuk MSCI?
BUMI disebut sebagai kandidat kuat jika peluang MSCI 2026 kembali terbuka. Dari sisi free float, likuiditas, dan kapitalisasi pasar, BUMI dinilai memenuhi kriteria, terutama untuk indeks small cap.
Secara teknikal, saham ini membentuk pola higher low yang mengindikasikan fase bottoming setelah sempat menyentuh level 200-an. Namun, investor yang terjebak di harga 300–400 tetap perlu strategi averaging down bertahap dengan manajemen risiko ketat.
Fundamental BUMI juga mengalami perbaikan dibanding 2018. Ekuitas sudah positif, neraca lebih sehat, serta diversifikasi bisnis ke emas, tembaga, dan bauksit. Target kontribusi non-batu bara dipatok 50 persen, meski saat ini baru sekitar 10 persen.
ADMR dan ADRO: Transformasi Energi
Dari grup Tohir, ADMR memiliki prospek jangka panjang melalui bisnis aluminium dan hilirisasi smelter. Namun free float yang belum mencapai 15 persen membuka peluang aksi korporasi seperti rights issue.
Sementara ADRO sebagai induk usaha tengah bertransformasi menjadi integrated energy player. Dengan valuasi price to book value (PBV) sekitar 0,8 kali, ADRO tergolong murah dibanding anak usahanya.
ADRO juga memiliki 85 persen saham ADMR dan 15 persen AADI yang berpotensi menjadi sumber dividen. Transformasi ke energi hijau menjadi katalis jangka panjang.
Emas dan RAJA, Apa Katalisnya?
Saham emas dari grup Merdeka diuntungkan kenaikan harga emas global. Proyeksi harga emas yang berpotensi menembus USD 6.000 per troy ounce menjadi sentimen positif. Rencana dual listing di Hong Kong serta potensi masuk ETF global (GDX) bisa menarik investor asing.
Namun secara kinerja, pendapatan emiten emas tercatat turun tajam, bahkan mencetak rugi bersih. Artinya, reli harga lebih didorong ekspektasi dibanding fundamental saat ini.
RAJA juga menarik perhatian setelah koreksi tajam membuat valuasinya lebih murah. Rencana IPO anak usaha dan program buyback hingga Rp250 miliar menjadi penopang sentimen.
Mana Paling Murah?
Dari sisi valuasi, ADRO menjadi yang termurah dengan PBV sekitar 0,8 kali. BUMI di kisaran 3,8 kali, ADMR 3,1 kali, RAJA 6 kali, sementara saham emas relatif mahal di atas 17 kali.
Namun dari sisi laba bersih, mayoritas emiten mengalami penurunan akibat melemahnya harga batu bara dan tekanan komoditas.
Artinya, peluang MSCI 2026 memang membuka ruang optimisme. Tetapi keberlanjutan rebound tetap bergantung pada kepastian kebijakan MSCI, kinerja keuangan kuartalan, serta stabilitas global.
Investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko dan tidak hanya mengandalkan sentimen semata.
Editor : Dinar Ananda Putri