RADAR TULUNGAGUNG- IHSG melemah pada perdagangan terbaru meski investor asing tercatat melakukan net buy sekitar Rp600 miliar. Kondisi IHSG melemah ini menjadi sorotan analis pasar yang menilai tekanan terjadi akibat faktor teknikal dan sentimen global, terutama dari Amerika Serikat.
Dalam analisis yang disampaikan kanal YouTube Cuan Lord, IHSG melemah dinilai sebagai retracement wajar setelah indeks menyentuh area resistance penting. Secara teknikal, indeks sempat menguji garis MA namun mengalami penolakan (reject), sehingga memicu tekanan jual.
IHSG melemah, tetapi masih ditopang MA10 dan MA20. Artinya, pelemahan ini belum sepenuhnya mengubah struktur tren jangka pendek. “Masih dalam batas wajar karena struktur reversal masih tahap awal,” demikian analisis yang disampaikan.
Baca Juga: Saham BUMI Anjlok 7,43 Persen ke 274, Asing Net Sell Ratusan Miliar, Tekanan Jual Masih Menguat
IHSG Melemah Dipicu Tekanan Eksternal
Dari sisi makro, ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat turut membayangi pergerakan indeks. Sentimen global tersebut membuat pelaku pasar cenderung wait and see.
Secara teknikal, posisi indeks saat ini masih berada di atas beberapa indikator penting, termasuk MA10, MA20, dan area Fibonacci. Namun, analis mengingatkan agar investor tidak terlalu euforia saat terjadi pantulan.
Struktur IHSG disebut belum cukup solid. Oleh karena itu, pelaku pasar diminta mencermati pergerakan saat pembukaan (opening) perdagangan berikutnya untuk melihat apakah akan ada perlawanan atau tekanan lanjutan.
Selain IHSG, sejumlah saham yang sebelumnya direkomendasikan juga menjadi perhatian, di antaranya Bank Nationalnobu (NOBU), Barito Pacific (BRPT), dan Bumi Resources (BUMI).
NOBU dan BP Capai Target Kenaikan
Untuk saham NOBU, pergerakan harga dinilai sudah mencapai target area penting di kisaran 680–700 sebelum melesat ke 745. Jika mengambil posisi di 700 dan menjual di 745, potensi keuntungan mencapai sekitar 6 persen. Bahkan dari 680 ke 745, kenaikan mendekati 9 persen.
Saham BP juga mencatatkan performa signifikan. Harga sempat menyentuh 258–260 sebelum naik hingga 296, mencatatkan potensi kenaikan sekitar 14 persen dalam waktu relatif singkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun IHSG melemah, peluang tetap terbuka di saham-saham tertentu yang bergerak sesuai area teknikalnya.
Baca Juga: Tak Hanya Gurih, Risol Matcha dan Cokelat Ramaikan Takjil Ramadan di Sumbergempol Tulungagung
SMGR Masih Konsolidasi
Berbeda dengan dua saham sebelumnya, SMGR masih bergerak di area penting 3.110 hingga 3.170. Pergerakan saham ini dinilai masih membutuhkan kesabaran karena belum menunjukkan akselerasi signifikan.
Area penopang berada di kisaran 2.950, sementara target terdekat berada di 3.260. Potensi kenaikan relatif tipis dalam jangka pendek, sehingga strategi taking profit cepat (YPC) disarankan bagi yang sudah memperoleh keuntungan.
BUMI dan DEWA Masih Dalam Tekanan
Sementara itu, saham Bumi Resources (BUMI) terpantau mengalami pelemahan cukup tajam dan ditutup di bawah area penting 276. Dalam tiga hari terakhir, terindikasi adanya distribusi dari investor asing.
Level krusial berikutnya berada di 258 sebagai penopang, dan 238 sebagai support terakhir. Jika level tersebut jebol, potensi penurunan lanjutan terbuka.
Baca Juga: Tolak Impor 105.000 Pickup dari India, KSPI: Ancam Nasib Buruh dan Kontrak Pekerja Pabrik Otomotif
Hal serupa terjadi pada saham DEWA yang mendekati area 55. Level 55–535 menjadi support penting, sementara resistance terdekat berada di 600. Pergerakan saat opening perdagangan berikutnya akan menjadi penentu arah selanjutnya.
BRPT dan CUAN Tertahan Resistance
Saham Barito Pacific (BRPT) kembali gagal menembus area resistance dan terpantau mengalami aksi jual asing. Area 1.950–2.000 menjadi zona penting yang perlu dipertahankan.
Sementara saham CUAN masih berkutat di area 1.640 sebagai support kunci. Meski sempat menguat, tekanan jual kembali muncul sehingga harga tertahan di sekitar tumpukan moving average.
Secara keseluruhan, meski IHSG melemah, peluang tetap ada bagi trader yang disiplin membaca area support dan resistance. Investor diimbau tidak menelan mentah-mentah rekomendasi saham tanpa analisis mandiri.
Pasar saham tetap dinamis dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari teknikal hingga sentimen global. Kewaspadaan dan manajemen risiko menjadi kunci utama di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.828 per Dolar AS, Harga Emas dan Batu Bara Turun, Saham MDKA Menguat
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani