Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

IHSG Merah Parah, Asing Net Buy Tapi Saham Rontok! Saatnya Cicil Big Bank Jelang Dividen?

Cholifatun Nisak • Rabu, 25 Februari 2026 | 16:10 WIB

 

 

IHSG Merah Parah, Asing Net Buy Tapi Saham Rontok! Saatnya Cicil Big Bank Jelang Dividen?
IHSG Merah Parah, Asing Net Buy Tapi Saham Rontok! Saatnya Cicil Big Bank Jelang Dividen?

RADAR TULUNGAGUNG– IHSG merah parah meski investor asing tercatat net buy dalam perdagangan terbaru. Kondisi ini membuat banyak pelaku pasar bingung. Di satu sisi, dana asing masuk cukup besar. Di sisi lain, mayoritas saham justru ditutup di zona merah.

Secara angka, penurunan indeks memang tidak terlalu dalam. Namun secara pergerakan saham, market terasa sangat berat. Fenomena IHSG merah parah ini terlihat dari banyaknya saham yang tetap melemah meskipun masuk daftar pembelian asing.

Data transaksi menunjukkan beberapa saham berkapitalisasi besar diborong investor asing. Di antaranya Bank Mandiri, Telkom Indonesia, Astra International, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia. Nilai pembelian bahkan mencapai ratusan miliar rupiah.

Namun anehnya, saham-saham tersebut tidak semuanya menguat signifikan. Banyak yang tetap berakhir merah. Artinya, tekanan jual dari investor domestik masih cukup besar dan mampu menahan laju kenaikan.

Asing Net Buy, Kenapa Saham Tetap Turun?

Dalam kondisi normal, saham yang dibeli asing cenderung menguat. Net buy asing sering dianggap sebagai sinyal akumulasi dan pertanda positif bagi pasar. Namun pada situasi IHSG merah parah kali ini, pola tersebut tidak sepenuhnya terjadi.

Analis melihat adanya distribusi dari pelaku pasar lokal. Dengan kata lain, saat asing masuk, investor domestik justru memanfaatkan momentum untuk melepas saham. Tekanan jual inilah yang membuat harga tetap tertekan.

Beberapa saham yang tercatat dilepas asing hanya dalam jumlah relatif kecil dibanding pembelian di big caps. Artinya, secara keseluruhan dana asing masih masuk. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa pasar sedang berada dalam fase konsolidasi, bukan tren turun besar.

Perlu Cut Loss Saat Market Merah?

Pertanyaan klasik muncul: apakah perlu cut loss saat IHSG merah parah?

Prinsip utama dalam trading adalah disiplin dan manajemen risiko. Namun keputusan cut loss tidak bisa dilakukan secara emosional. Jika penurunan tidak disertai sentimen negatif besar dan asing masih akumulasi, aksi jual panik justru berpotensi merugikan.

Banyak trader mengalami penyesalan bukan karena cut loss, melainkan karena harga saham justru rebound sehari setelah dilepas. Oleh karena itu, langkah yang lebih bijak adalah mengecek broker summary, memantau arus dana, serta mencermati sentimen yang berkembang.

Jika distribusi asing besar dan muncul berita negatif signifikan, barulah cut loss bisa dipertimbangkan. Namun jika tekanan lebih banyak berasal dari lokal sementara asing masih net buy, pasar bisa saja berbalik arah dalam waktu dekat.

Big Bank Menarik Jelang RUPS dan Dividen

Di tengah IHSG merah parah, saham perbankan besar justru dinilai mulai menarik untuk dicermati. Apalagi memasuki periode RUPS dan pembagian dividen yang umumnya berlangsung Maret hingga April.

Beberapa saham yang menjadi perhatian antara lain Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia.

Bank-bank BUMN secara historis rutin membagikan dividen karena kontribusinya terhadap penerimaan negara. Momentum jelang RUPS sering dimanfaatkan investor untuk mengakumulasi saham, terutama saat harga sedang terkoreksi.

Strategi yang bisa diterapkan adalah mencicil pembelian secara bertahap, bukan langsung masuk penuh. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko jika volatilitas masih berlanjut.

Selain bank besar, saham bank daerah dan swasta seperti Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Bank CIMB Niaga, serta Bank Danamon Indonesia juga memiliki potensi dividen menarik.

Momentum Akumulasi?

Meski IHSG merah parah, kondisi ini belum tentu menandakan awal tren bearish panjang. Selama arus dana asing masih masuk dan tidak ada sentimen makro besar yang mengguncang, pelemahan bisa saja hanya bersifat sementara.

Investor disarankan tetap tenang, tidak gegabah, dan fokus pada saham fundamental kuat. Fase koreksi sering kali menjadi momentum akumulasi bagi pelaku pasar jangka menengah hingga panjang.

Dengan pendekatan disiplin dan strategi yang terukur, market merah justru bisa menjadi peluang, bukan ancaman.

 

Editor : Cholifatun Nisak
#IHSG merah parah #Dividen bank 2026 #Asing net buy #Strategi cicil saham #Saham perbankan