Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan, 9,48 Juta Orang Turun Kelas dalam 5 Tahun dan Ekonomi Mulai Terancam

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:50 WIB
Kelas menengah Indonesia turun 9,48 juta orang. Simak penyebab, dampak ekonomi, dan strategi menghadapi krisis daya beli.(Pinterest)
Kelas menengah Indonesia turun 9,48 juta orang. Simak penyebab, dampak ekonomi, dan strategi menghadapi krisis daya beli.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Kelas menengah Indonesia tengah menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat dalam beberapa tahun terakhir. Jumlah kelompok masyarakat yang selama ini menjadi penggerak utama konsumsi nasional tercatat mengalami penurunan drastis, dengan jutaan orang terpaksa turun kelas akibat meningkatnya biaya hidup dan melemahnya daya beli.

Kondisi kelas menengah Indonesia menjadi perhatian setelah data menunjukkan adanya penyusutan sekitar 9,48 juta orang dalam periode 2019 hingga 2024. Penurunan tersebut membuat jumlah kelas menengah kini berada di sekitar 47,85 juta orang atau sekitar 17 persen dari total penduduk.

Menciutnya kelas menengah Indonesia tidak hanya berdampak pada kondisi rumah tangga, tetapi juga mulai terasa bagi dunia usaha. Perusahaan menghadapi perubahan perilaku konsumen, mulai dari penurunan penjualan, stok barang yang menumpuk, hingga tekanan terhadap arus kas bisnis.

Baca Juga: Tak Sekadar Ujian, Mahasiswa PGSD Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung Tampilkan Karya dan Kreativitas

Daya Beli Melemah, Kelas Menengah Mulai Mengurangi Konsumsi

Kelas menengah selama ini dikenal sebagai kelompok yang menjaga roda perekonomian berjalan karena memiliki kemampuan konsumsi yang stabil. Namun, kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak seimbang dengan peningkatan pendapatan membuat banyak masyarakat mulai melakukan penyesuaian.

Pengeluaran untuk makanan menjadi salah satu beban terbesar. Pada 2024, porsi pengeluaran makanan kelas menengah meningkat menjadi sekitar 41,67 persen dari total konsumsi. Kondisi ini membuat masyarakat mulai mengubah gaya hidup, termasuk mengurangi aktivitas makan di luar, berbelanja barang bermerek, hingga mengurangi kegiatan hiburan.

Selain makanan, biaya tempat tinggal juga mengalami peningkatan. Pengeluaran untuk perumahan naik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sementara biaya transportasi, listrik, bahan bakar, dan komunikasi juga terus memberikan tekanan tambahan bagi rumah tangga.

Akibatnya, banyak keluarga kelas menengah mulai lebih selektif dalam membeli barang. Mereka tidak lagi terlalu mempertimbangkan merek atau gengsi, tetapi lebih mengutamakan harga yang sesuai kemampuan.

Baca Juga: Dari Kegelisahan Pribadi, Ayu Kartika Putri Bangun Blog untuk Suarakan Isu Perempuan dan Keadilan Gender

Sektor Manufaktur Melemah dan Ancaman PHK

Salah satu penyebab menurunnya jumlah kelas menengah adalah melemahnya sektor manufaktur. Padahal, sektor ini selama ini menjadi penyerap tenaga kerja besar, terutama bagi pekerja dengan latar belakang pendidikan non-sarjana.

Ketika industri manufaktur melemah, risiko pemutusan hubungan kerja meningkat. Data ketenagakerjaan juga menunjukkan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan terus menjadi perhatian.

Banyak masyarakat akhirnya berpindah ke sektor informal seperti pengemudi transportasi online, pekerja lepas, pedagang kecil, hingga pekerjaan harian. Namun, sektor informal sering kali tidak memberikan perlindungan sosial yang sama seperti pekerjaan formal.

Tekanan ekonomi yang semakin besar juga membuat sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, hingga kepemilikan rumah. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya bergantung pada pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Strategi Perusahaan Hadapi Perubahan Konsumen

Perubahan daya beli masyarakat membuat perusahaan harus beradaptasi. Menurunkan harga dengan memberikan diskon menjadi salah satu strategi yang sering digunakan untuk menghabiskan stok dan menjaga arus kas.

Namun, strategi tersebut memiliki risiko karena keuntungan perusahaan menjadi semakin tipis. Jika dilakukan terus-menerus, perusahaan bisa mengalami kerugian.

Beberapa perusahaan global berhasil menghadapi kondisi serupa dengan menerapkan strategi efisiensi. Perusahaan seperti Walmart mampu menjaga harga tetap murah dengan memanfaatkan skala ekonomi, pembelian dalam jumlah besar, serta rantai pasok yang efisien.

Selain efisiensi, perusahaan juga dapat menciptakan pasar baru melalui inovasi. Strategi ini dikenal sebagai blue ocean strategy, yaitu menghadirkan produk yang berbeda dan sesuai kebutuhan konsumen.

Diversifikasi produk juga menjadi langkah penting agar bisnis tetap bertahan. Dengan menawarkan pilihan produk yang lebih luas, perusahaan dapat menjangkau berbagai segmen konsumen.

Pemerintah Diminta Perkuat Kelas Menengah

Pemulihan kelas menengah Indonesia membutuhkan peran pemerintah melalui kebijakan yang mampu meningkatkan daya beli masyarakat.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memperkuat investasi di sektor padat karya seperti manufaktur. Dengan bertambahnya lapangan kerja, pendapatan masyarakat dapat kembali meningkat.

Selain itu, pemerintah juga perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, menekan biaya pendidikan, kesehatan, serta mempermudah akses masyarakat terhadap perumahan.

Kelas menengah memiliki peran besar dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Jika jumlahnya terus menyusut, target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 akan menghadapi tantangan yang lebih besar.

Karena itu, memperkuat kelas menengah bukan hanya soal meningkatkan konsumsi, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi nasional dan menciptakan masa depan yang lebih kuat.

 

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Kelas menengah Indonesia #pertumbuhan ekonomi #ekonomi indonesia #phk #daya beli masyarakat