Saham MLPT Rencanakan Stock Split 1:25, Jumlah Saham Beredar Naik Jadi 46,87 Miliar

Davina Ar Raafika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 18:25 WIB
Saham MLPT berencana stock split 1:25. Jumlah saham beredar naik menjadi 46,87 miliar dan perdagangan nominal baru mulai 29 Juli 2026. (Google)
Saham MLPT berencana stock split 1:25. Jumlah saham beredar naik menjadi 46,87 miliar dan perdagangan nominal baru mulai 29 Juli 2026. (Google)

JAKARTA - Saham MLPT milik PT Multipolar Technology Tbk berencana melakukan stock split dengan rasio 1:25 untuk meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas akses investor ritel di pasar modal. Rencana aksi korporasi ini akan dimintakan persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.

Informasi tersebut disampaikan dalam program MILENOMICS di kanal IDX Channel Insight berjudul MLPT Rencanakan Stock Split 1:25, Ini Tujuannya. Dalam pembahasan tersebut dijelaskan detail mekanisme stock split, perubahan jumlah saham beredar, hingga jadwal pelaksanaan jika memperoleh persetujuan pemegang saham.

Rencana stock split MLPT menjadi perhatian pelaku pasar karena rasio pemecahan yang diusulkan tergolong besar, yakni satu saham lama akan dipecah menjadi 25 saham baru.

MLPT Ajukan Stock Split 1:25

PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mengajukan rencana pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:25.

Tujuan utama aksi korporasi ini adalah meningkatkan likuiditas perdagangan saham MLPT di Bursa Efek Indonesia.

Selain itu, perusahaan juga ingin memperluas akses investor ritel agar harga saham menjadi lebih terjangkau setelah pemecahan.

Persetujuan Akan Diminta di RUPSLB

Rencana stock split tersebut tidak langsung berlaku otomatis.

Perusahaan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui RUPSLB yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.

Keputusan akhir mengenai pelaksanaan stock split akan ditentukan dalam rapat tersebut.

Satu Saham Lama Menjadi 25 Saham Baru

Dalam mekanisme yang diusulkan, setiap satu saham lama MLPT akan dipecah menjadi 25 saham baru.

Akibatnya, jumlah saham beredar akan meningkat signifikan dari sekitar 1,87 miliar saham menjadi sekitar 46,87 miliar saham.

Perubahan ini merupakan konsekuensi langsung dari rasio stock split yang cukup besar.

Nilai Nominal Saham Turun dari Rp100 Menjadi Rp4

Selain jumlah saham, nilai nominal per saham juga akan berubah.

Nilai nominal yang semula Rp100 per saham akan menjadi Rp4 per saham setelah stock split.

Perubahan nominal tersebut dilakukan agar total nilai modal tetap konsisten meskipun jumlah lembar saham bertambah.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Jadwal Pelaksanaan Jika Disetujui

Apabila memperoleh persetujuan pemegang saham, perusahaan telah menyiapkan jadwal pelaksanaan.

Pencatatan saham tambahan direncanakan pada 7 Juli 2026.

Sementara perdagangan saham dengan nilai nominal baru dijadwalkan mulai berlaku pada 29 Juli 2026.

Tujuan Utama: Likuiditas dan Investor Ritel

Dalam pembahasan disebutkan bahwa stock split dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan.

Dengan harga per lembar yang lebih rendah setelah pemecahan, saham diharapkan lebih mudah dijangkau investor ritel.

Peningkatan partisipasi investor ritel dinilai dapat membuat transaksi saham menjadi lebih aktif.

Mengapa Stock Split Sering Dilakukan Emiten?

Stock split tidak mengubah nilai ekonomi perusahaan secara langsung.

Aksi ini lebih berfokus pada perubahan jumlah lembar saham dan penyesuaian harga per lembar di pasar.

Karena itu, tujuan yang ditekankan MLPT adalah aspek likuiditas dan aksesibilitas investor.

Dampak pada Jumlah Saham Beredar

Kenaikan jumlah saham dari 1,87 miliar menjadi 46,87 miliar merupakan salah satu perubahan paling mencolok.

Bertambahnya jumlah saham beredar biasanya membuat unit perdagangan menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diperdagangkan oleh investor ritel.

Namun, pembahasan dalam video tidak menyampaikan perubahan terhadap fundamental perusahaan akibat stock split tersebut.

Perdagangan dengan Nominal Baru Mulai 29 Juli 2026

Jika seluruh proses berjalan sesuai jadwal, perdagangan saham MLPT dengan nominal Rp4 per saham akan dimulai pada 29 Juli 2026.

Tanggal tersebut menjadi titik dimulainya transaksi dengan struktur saham hasil stock split.

Investor yang telah memiliki saham sebelum pelaksanaan akan menerima penyesuaian jumlah saham sesuai rasio 1:25.

Isu Lain yang Dibahas dalam Program

Selain MLPT, program MILENOMICS juga membahas sejumlah isu ekonomi dan pasar lainnya.

Salah satunya adalah peringatan dari S&P Global Ratings dan Moody’s terkait rencana pengendalian ekspor komoditas oleh pemerintah Indonesia.

Kedua lembaga pemeringkat tersebut menilai kebijakan sentralisasi dan pengawasan ekspor yang lebih ketat berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi makro dan profil kredit perusahaan tambang.

Risiko pada Ekspor Komoditas

Dalam pembahasan disebutkan bahwa perdagangan komoditas utama seperti batubara, CPO, nikel, dan ferronikel dikhawatirkan dapat terhambat jika pengendalian ekspor diperketat.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi penerimaan devisa negara.

Di sisi lain, kebijakan tersebut disebut didorong untuk memastikan nilai tambah sumber daya alam dinikmati di dalam negeri dan mendukung hilirisasi industri nasional.

Baca Juga: Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Menerima Penghargaan Pembina Koperasi Andalan, Diserahkan Langsung Oleh Menteri Koperasi 

OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi

Program juga menyinggung rencana kenaikan produksi minyak oleh negara-negara OPEC+.

Kenaikan target produksi diperkirakan sekitar 188.000 barel per hari untuk Juli 2026.

Namun, keputusan tersebut tetap dipertimbangkan di tengah gangguan pengiriman minyak dari kawasan Teluk akibat konflik dan ketidakstabilan di Selat Hormos.

Indika Energy Bagikan Dividen

Isu lain yang dibahas adalah pembagian dividen PT Indika Energy Tbk (INDY).

Perusahaan membagikan dividen tunai sebesar 3,01 juta dolar AS atau sekitar Rp53,2 miliar, setara dengan 50 persen laba bersih tahun buku 2025.

Distribusi dividen final tunai dijadwalkan pada 19 Juni 2026.

Kinerja Keuangan Indika 2025

Sepanjang 2025, Indika mencatat pendapatan sebesar 2,03 miliar dolar AS, turun 16,8 persen secara tahunan.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 40,3 persen menjadi 6,02 juta dolar AS.

Data tersebut disampaikan sebagai bagian dari pembahasan pasar dan emiten dalam program.

Isu Under Invoicing Ekspor

Pada bagian akhir, program menyoroti isu under invoicing ekspor komoditas nasional.

Presiden Prabowo Subianto disebut mengungkap adanya praktik manipulasi harga ekspor dan kecurangan perdagangan pada komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batubara, dan paduan besi selama periode 1991-2024.

Kerugian negara akibat praktik tersebut diperkirakan mencapai 908 miliar dolar AS atau sekitar Rp15.400 triliun.

Fokus Utama Tetap pada MLPT

Meski membahas berbagai isu ekonomi, fokus utama program tetap pada rencana stock split MLPT.

Rasio 1:25 menjadikan aksi korporasi ini salah satu pemecahan saham dengan perubahan jumlah lembar yang sangat besar.

Bagi investor, perhatian utama tertuju pada hasil RUPSLB 29 Juni 2026 dan implementasi perdagangan dengan nominal baru pada 29 Juli 2026.

Penutup

Secara keseluruhan, saham MLPT berencana melakukan stock split 1:25 untuk meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas akses investor ritel.

Jika disetujui dalam RUPSLB 29 Juni 2026, jumlah saham beredar akan meningkat dari 1,87 miliar menjadi 46,87 miliar saham, dengan nilai nominal berubah dari Rp100 menjadi Rp4 per saham.

Pencatatan saham tambahan dijadwalkan pada 7 Juli 2026, sementara perdagangan saham MLPT dengan nominal baru direncanakan mulai berlaku pada 29 Juli 2026.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt IDX Channel Insight
saham MLPT stock split MLPT PT Multipolar Technology Tbk RUPSLB MLPT 2026 stock split 1:25 MLPT