PEMALANG - Bisnis kerupuk rambak di Desa Pencangaan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menjadi sumber penghidupan banyak warga dengan produksi mencapai sekitar satu kuintal per hari. Kerupuk hasil produksi rumahan tersebut dipasarkan ke pasar-pasar di wilayah Comal, Pemalang, hingga Pasar Wiladesa di Pekalongan.
Liputan CNN Indonesia memperlihatkan aktivitas warga yang sejak pagi hari sibuk menjemur kerupuk rambak di halaman rumah dan area terbuka desa.
Kerupuk rambak di kawasan Pantura tidak sekadar camilan, tetapi juga dianggap sebagai pelengkap hidangan yang hampir selalu tersedia di warung makan, rumah tangga, dan tempat kuliner setempat.
Desa Pencangaan Jadi Sentra Kerupuk Rambak
Desa Pencangaan di Kecamatan Comal dikenal sebagai salah satu sentra produksi kerupuk rambak di Kabupaten Pemalang.
Sejak pagi, warga sudah mulai menata lembaran kerupuk untuk dijemur di bawah sinar matahari.
Aktivitas tersebut menjadi pemandangan yang umum dijumpai di lingkungan desa.
Adonan Dibuat Secara Manual
Proses produksi dimulai dari pencampuran bahan baku.
Tepung tapioka, tepung terigu, dan bumbu dicampur menjadi satu.
Pengadonan dilakukan secara manual menggunakan tangan agar seluruh bahan dan bumbu tercampur merata.
Satu Resep Menghasilkan 54 Loyang
Setelah adonan siap, adonan dicetak menggunakan loyang.
Proses pengukusan dilakukan menggunakan tungku kayu bakar.
Waktu pengukusan sekitar 20-30 menit setelah air benar-benar mendidih.
Dalam satu kali pembuatan, satu resep adonan dapat menghasilkan sekitar 54 loyang.
Lembaran Dijemur Selama Empat Jam
Adonan yang telah dikukus didinginkan terlebih dahulu.
Setelah itu, lembaran kerupuk dikeluarkan dari loyang untuk dijemur.
Pada tahap pertama, sekitar 28 lembar dijemur selama kurang lebih empat jam, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Dipotong dan Dijemur Kembali Dua Hari
Setelah cukup kering, lembaran kerupuk dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil.
Potongan tersebut kemudian dijemur kembali selama sekitar dua hari.
Tahap kedua ini bertujuan agar kerupuk benar-benar kering sebelum masuk proses selanjutnya.
Dicuci dengan Air Mengalir
Kerupuk yang telah kering kemudian dicuci menggunakan air mengalir.
Pekerja tidak menggunakan teknik khusus dalam proses pencucian.
Tujuannya untuk menghilangkan sisa minyak atau kotoran yang menempel pada permukaan kerupuk.
Penggorengan Dua Wajan Jadi Kunci
Setelah dicuci dan dikeringkan kembali, kerupuk masuk ke tahap penggorengan.
Penggorengan dilakukan menggunakan dua wajan atau dua tahap.
Teknik ini disebut sangat penting agar kerupuk dapat mengembang sempurna dan menghasilkan bentuk yang bagus.
Menurut penjelasan dalam liputan, menggoreng satu kali langsung di wajan panas dapat membuat kerupuk gagal mengembang.
Dikemas dalam Bungkus Kecil dan Besar
Kerupuk yang sudah matang kemudian dikemas oleh para pekerja.
Tahap pertama menggunakan plastik kemasan kecil.
Selanjutnya, 10 bungkus kecil dimasukkan lagi ke dalam plastik yang lebih besar untuk memudahkan distribusi dan penjualan.
Harga Jual Mulai Rp7.000
Untuk produk mentah, harga kerupuk rambak dibanderol sekitar Rp7.000.
Sementara kerupuk yang sudah matang dijual sekitar Rp35.000 per kilogram.
Dalam kemasan kecil, harga jualnya sekitar Rp4.000 per bungkus.
Dipasarkan hingga Pekalongan
Setelah dikemas, produk didistribusikan ke berbagai pasar tradisional.
Wilayah pemasaran meliputi pasar-pasar di Comal dan Pemalang.
Distribusi juga menjangkau Pasar Wiladesa di Pekalongan.
Jaringan pemasaran antarkabupaten tersebut membantu menjaga perputaran produksi harian para perajin.
Produksi Harian Capai Satu Kuintal
Rata-rata produksi kerupuk rambak di sentra tersebut mencapai sekitar satu kuintal per hari.
Angka ini menunjukkan skala produksi yang cukup besar untuk usaha rumahan berbasis desa.
Tingginya produksi didorong oleh permintaan pasar yang relatif stabil di wilayah Pantura.
Kerupuk Rambak Sudah Menjadi Budaya Kuliner Pantura
Di kawasan Pantura, kerupuk rambak memiliki posisi khusus dalam budaya makan masyarakat.
Kerupuk ini hampir selalu tersedia sebagai makanan pendamping di warung dan rumah makan.
Masyarakat biasa menikmatinya bersama bakso maupun berbagai hidangan sehari-hari.
Menjadi Pelengkap Berbagai Hidangan
Kebiasaan mengonsumsi kerupuk rambak tidak terbatas pada satu jenis makanan.
Produk ini digunakan sebagai pelengkap berbagai menu, mulai dari makanan berkuah hingga lauk rumahan.
Karena itu, permintaan kerupuk rambak cenderung hadir dalam aktivitas konsumsi harian masyarakat.
Produksi Bergantung pada Cuaca
Proses penjemuran yang memakan waktu beberapa hari membuat produksi sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Tahap pertama membutuhkan sinar matahari sekitar empat jam.
Tahap kedua membutuhkan penjemuran hingga dua hari agar kerupuk benar-benar kering.
Jika cuaca tidak mendukung, proses pengeringan dapat menjadi lebih lama.
Kayu Bakar Masih Dipertahankan
Pengukusan menggunakan tungku kayu bakar masih dipertahankan dalam proses produksi.
Metode ini menunjukkan bahwa sebagian besar tahapan masih mengandalkan teknik tradisional.
Meskipun sederhana, proses tersebut mampu menghasilkan produksi dalam jumlah besar secara konsisten.
Tenaga Kerja Lokal Berperan Penting
Dari pengadonan, penjemuran, pemotongan, hingga pengemasan, sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh warga sekitar.
Keterlibatan masyarakat lokal membuat industri kerupuk rambak menjadi salah satu aktivitas ekonomi penting di Desa Pencangaan.
Usaha ini tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja di tingkat desa.
Nilai Ekonomi dari Produk Tradisional
Kerupuk rambak yang dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram menunjukkan bahwa produk tradisional masih memiliki nilai ekonomi yang kuat.
Dengan produksi sekitar satu kuintal per hari, perputaran usaha berlangsung setiap hari mengikuti kebutuhan pasar.
Permintaan dari warung makan dan rumah tangga menjadi salah satu penopang utama keberlanjutan bisnis ini.
Penutup
Secara keseluruhan, bisnis kerupuk rambak di Desa Pencangaan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, memperlihatkan bagaimana industri pangan tradisional dapat bertahan melalui proses produksi yang detail dan melibatkan banyak tenaga kerja lokal.
Mulai dari pengadonan manual, pengukusan dengan tungku kayu bakar, penjemuran dua tahap, pencucian, hingga penggorengan dua wajan, setiap tahapan berperan menentukan kualitas kerupuk agar dapat mengembang sempurna.
Dengan produksi sekitar satu kuintal per hari dan pemasaran hingga Pekalongan, kerupuk rambak Pemalang tetap menjadi bagian penting dari ekonomi desa sekaligus budaya kuliner masyarakat Pantura yang hampir selalu menghadirkan kerupuk sebagai pendamping berbagai hidangan sehari-hari.
Editor : Davina Ar RaafikaSumber : Yt CNN Indonesia