Bisnis Kerupuk Rambak Modal Rp6 Juta, Pak Harto Bantul Kini Produksi 1,2 Ton per Bulan

Davina Ar Raafika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 19:05 WIB
Bisnis kerupuk rambak Pak Harto di Bantul berkembang dari modal Rp6 juta menjadi produksi 1,2 ton per bulan dan dipasarkan hingga Lampung. (Google)
Bisnis kerupuk rambak Pak Harto di Bantul berkembang dari modal Rp6 juta menjadi produksi 1,2 ton per bulan dan dipasarkan hingga Lampung. (Google)

BANTUL - Bisnis kerupuk rambak milik Pak Harto di Kelurahan Mwuran, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, berkembang dari usaha bermodal Rp6 juta menjadi produksi sekitar 1,2 ton per bulan. Kerupuk kulit buatannya kini dipasarkan ke berbagai daerah seperti Semarang, Temanggung, Magelang, hingga Lampung melalui jaringan pengepul.

Perjalanan usaha tersebut diulas dalam video kanal YouTube Lempar Dadu yang menampilkan proses produksi kerupuk kulit secara lengkap, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengemasan.

Pak Harto menyebut usaha ini telah dirintis sejak 2012. Ia memulai bisnis dari skala kecil dengan membeli tiga lembar kulit sapi dan peralatan sederhana sebelum berkembang menjadi produksi tonase bulanan.

Memilih Kulit Sapi Jantan

Menurut Pak Harto, bahan baku utama yang digunakan adalah kulit sapi jantan.

Kulit jenis ini dipilih karena menghasilkan kerupuk yang lebih mudah mekar saat digoreng.

Bahan baku didatangkan dari beberapa daerah, antara lain Boyolali, Magetan, dan wilayah Jawa Timur.

Tahap Awal Pembersihan Kulit

Proses produksi dimulai dari pembersihan kulit sapi.

Kulit direbus sambil terus diaduk agar bagian bawah tidak menjadi kaku.

Setelah matang, kulit dipindahkan ke dalam air dingin lalu diangkat untuk proses berikutnya.

Dikerok hingga Benar-Benar Bersih

Tahap selanjutnya adalah pengerokan sisa bulu.

Pekerja mengerok permukaan kulit hingga benar-benar bersih.

Tujuannya agar hasil kerupuk nantinya berwarna putih dan tidak terdapat sisa bulu yang menempel.

Modal Awal Hanya Rp6 Juta

Pak Harto mengungkapkan bahwa modal awal usahanya sekitar Rp6 juta.

Sebesar Rp2,5 juta digunakan untuk membeli peralatan produksi.

Sisa modal dipakai untuk membeli tiga lembar kulit sapi sebagai bahan baku pertama.

Pencucian Lanjutan Setelah Direbus

Setelah proses perebusan, kulit kembali disikat dan dicuci menggunakan air bersih.

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada permukaan kulit.

Tahap ini dianggap penting untuk menjaga kualitas bahan sebelum dikeringkan.

Baca Juga: Langkah Awal Pengelolaan Dapodik Versi 2027, Ini Tahapan yang Wajib Dilakukan Sekolah agar Data Valid

Disemprot Gas dan Dijemur 2-3 Hari

Kulit kemudian disemprot menggunakan gas untuk memastikan tidak ada sisa bulu yang tertinggal.

Setelah itu, kulit dirajang dan dijemur di bawah sinar matahari.

Lama penjemuran berkisar dua hingga tiga hari, tergantung ketebalan kulit dan kondisi cuaca.

Dipotong dengan Ukuran Sekitar 2 Sentimeter

Kulit yang telah kering dipotong-potong menggunakan pisau khusus.

Ukuran potongan sekitar dua sentimeter.

Bagian kulit yang tebal, seperti bagian leher, dipisahkan dari bagian yang lebih tipis agar proses pengolahan berikutnya lebih merata.

Varian Asinan Menggunakan Bumbu Khusus

Untuk varian kerupuk asinan, potongan kulit direbus kembali dalam air bumbu.

Bumbu yang digunakan terdiri dari garam halus, royco, bawang, dan daun jeruk nipis.

Daun jeruk digunakan untuk membantu menghilangkan bau amis pada kulit sapi.

Setelah dibumbui, kulit kembali dijemur sebelum masuk ke tahap pengungkepan.

Pengungkepan Jadi Kunci Kerupuk Bisa Mekar

Pak Harto menekankan bahwa tahap paling menentukan adalah pengungkepan.

Kulit kering dimasukkan ke wajan besar berisi minyak sekitar tiga jerigen.

Proses dilakukan melalui beberapa tahapan api, mulai dari api besar kemudian dikecilkan secara bertahap selama berjam-jam.

Menurutnya, pengaturan api inilah yang menjadi kunci utama agar kerupuk bisa mengembang dan mekar dengan sempurna.

Produksi Mencapai 1,2 Ton per Bulan

Dari usaha yang dirintis sejak 2012, kapasitas produksi kini mencapai sekitar 1,2 ton per bulan.

Peningkatan produksi terjadi seiring bertambahnya permintaan dari berbagai daerah.

Skala usaha yang awalnya rumahan kini telah berkembang menjadi produksi dalam jumlah besar.

Dijual ke Pengepul dan Dikirim ke Luar Kota

Kerupuk yang telah diungkep kemudian dikemas dalam ukuran tertentu, misalnya 50 kilogram per kemasan.

Produk dijual kepada pengepul untuk didistribusikan ke luar daerah.

Daerah tujuan yang disebut dalam video antara lain Semarang, Temanggung, Magelang, dan Lampung.

Harga Jual Rp100 Ribu-Rp130 Ribu per Kilogram

Harga jual kerupuk kulit berkisar antara Rp100.000 hingga Rp130.000 per kilogram.

Perbedaan harga dipengaruhi oleh kualitas dan jenis produk yang dipasarkan.

Dengan volume produksi yang besar, usaha ini mampu menjangkau pasar antarkota dan antarpulau.

Perjalanan Jatuh Bangun Selama Bertahun-Tahun

Pak Harto mengakui bahwa membangun usaha tidak selalu berjalan mulus.

Ia mengalami berbagai tantangan dalam proses produksi maupun pemasaran.

Namun, konsistensi menjaga kualitas produk menjadi prinsip yang terus dipertahankan sejak awal merintis usaha.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Kualitas Jadi Prioritas Utama

Dalam pesannya, Pak Harto menekankan pentingnya menjaga kualitas barang.

Menurutnya, kualitas menentukan kepercayaan pelanggan dan keberlanjutan usaha.

Ia memilih mempertahankan standar produksi meskipun prosesnya memerlukan waktu dan tenaga yang besar.

Tidak Mudah Menyerah

Pak Harto juga berpesan agar pelaku usaha tidak mudah menyerah ketika menghadapi jatuh bangun bisnis.

Ia menilai setiap usaha pasti mengalami fase sulit sebelum berkembang.

Pengalaman memulai dari modal kecil menjadi salah satu alasan mengapa ia mendorong orang lain untuk tetap berani mencoba.

Berhasil Membeli Mobil dan Rumah

Dari hasil usaha kerupuk rambak, Pak Harto menyebut kini telah mampu membeli tiga unit mobil dan tiga rumah.

Pencapaian tersebut diperoleh setelah lebih dari satu dekade menjalankan bisnis secara konsisten.

Ia memandang hasil tersebut sebagai buah dari kerja keras dan ketekunan menjaga usaha.

Tidak Pelit Berbagi Ilmu

Menariknya, Pak Harto menyatakan tidak ingin pelit ilmu.

Ia terbuka apabila ada orang lain yang ingin belajar merintis usaha kerupuk kulit.

Menurutnya, berbagi pengetahuan tidak akan mengurangi rezeki dan justru dapat membantu orang lain memulai usaha.

Penutup

Kisah bisnis kerupuk rambak Pak Harto di Bantul menunjukkan bagaimana usaha rumahan dapat berkembang menjadi produksi sekitar 1,2 ton per bulan dengan jaringan pemasaran lintas daerah.

Berawal dari modal Rp6 juta pada 2012, usaha ini tumbuh melalui proses produksi yang detail, mulai dari pemilihan kulit sapi jantan, perebusan, pengerokan bulu, penjemuran, pembumbuan, hingga pengungkepan yang menjadi kunci kerupuk mekar sempurna.

Dengan harga jual Rp100.000-Rp130.000 per kilogram dan distribusi ke Semarang, Temanggung, Magelang, hingga Lampung, bisnis kerupuk kulit Pak Harto menjadi contoh UMKM pangan tradisional yang berkembang melalui konsistensi kualitas, ketekunan, dan keberanian bertahan menghadapi jatuh bangun usaha.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt Lempar Dadu
bisnis kerupuk rambak kerupuk kulit Bantul usaha kerupuk kulit Pak Harto UMKM kerupuk kulit Yogyakarta