Sentra Kopi Cethe Tulungagung, Tradisi Nyete yang Sulap Endapan Kopi Jadi Seni Lukis Rokok

Davina Ar Raafika • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 20:20 WIB
Sentra Kopi Cethe Tulungagung dikenal lewat tradisi nyete, seni melukis batang rokok menggunakan endapan kopi yang pernah memecahkan rekor MURI. (GEMINI AI)
Sentra Kopi Cethe Tulungagung dikenal lewat tradisi nyete, seni melukis batang rokok menggunakan endapan kopi yang pernah memecahkan rekor MURI. (GEMINI AI)

TULUNGAGUNG - Sentra Kopi Cethe Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati kopi tradisional, tetapi juga sebagai pusat budaya nyete, yakni tradisi mengoleskan endapan kopi halus ke batang rokok hingga membentuk motif artistik. Kebiasaan yang lahir dari warung-warung kopi petani ini berkembang menjadi seni rupa khas Tulungagung dan bahkan pernah mencatat rekor MURI pada peringatan Hari Jadi Tulungagung tahun 2006.

Tradisi tersebut diulas dalam video Cethe Tulungagung Ketika Endapan Kopi Disulap Jadi Seni Lukis di Batang Rokok yang ditayangkan kanal JTNTV.

Video menjelaskan bahwa nyete merupakan bagian dari budaya ngopi Tulungagung yang berbeda dengan latte art di kafe modern. Media yang digunakan bukan busa susu, melainkan ampas atau endapan kopi halus yang dioleskan ke kertas rokok.

Apa Itu Tradisi Nyete?

Nyete adalah kegiatan mengoleskan ampas kopi ke batang rokok untuk menciptakan pola atau gambar di permukaan kertas rokok.

Motif yang muncul dapat berupa garis, lengkungan, hingga bentuk-bentuk artistik lain sesuai kreativitas pembuatnya.

Karena menggunakan endapan kopi sebagai bahan utama, tradisi ini kemudian identik dengan budaya kopi cethe di Tulungagung.

Berasal dari Kebiasaan Petani

Menurut penjelasan dalam video, nyete bermula dari kebiasaan para petani di masa lalu.

Setelah bekerja di sawah, mereka biasa beristirahat di warung kopi sambil merokok.

Pada masa itu, ampas kopi yang digunakan masih berupa kopi kasar yang disebut kopi keletik dan dioleskan pada rokok kelobot.

Fungsi Awalnya Bukan Seni

Tujuan awal nyete sebenarnya sangat sederhana.

Ampas kopi dioleskan agar rokok lebih awet saat dihisap.

Selain itu, endapan kopi dipercaya memberi tambahan aroma dan rasa yang lebih mantap pada rokok.

Fungsi praktis tersebut kemudian berkembang menjadi aktivitas yang lebih kreatif.

Dari Kebiasaan Menjadi Seni Rupa

Seiring waktu, nyete tidak lagi sekadar cara menikmati rokok.

Kebiasaan ini menyebar di kalangan pemuda hingga orang tua.

Semakin sering seseorang menyete, semakin banyak variasi motif yang dapat diciptakan.

Dari sinilah nyete mulai dipandang sebagai bentuk seni rupa khas Tulungagung.

Baca Juga: Kasus HIV/AIDS di Tulungagung Bergeser ke Remaja, 630 Usia Sekolah Terdiagnosis Sejak 2006, KPAD Minta Edukasi Diperkuat

Motif Tercipta dari Endapan Kopi

Keunikan nyete terletak pada media dan bahan yang digunakan.

Seniman nyete tidak memakai cat atau tinta, melainkan endapan kopi yang diambil dari dasar cangkir.

Tekstur kopi yang halus memungkinkan pembuat menggambar pola-pola detail di atas batang rokok.

Rekor MURI pada Hari Jadi Tulungagung 2006

Popularitas nyete mencapai salah satu puncaknya pada tahun 2006.

Dalam rangka Hari Jadi Tulungagung, diselenggarakan perlombaan nyete dengan jumlah peserta sangat besar.

Ajang tersebut berhasil memecahkan rekor MURI sebagai lomba nyete dengan peserta terbanyak.

Pencapaian itu menegaskan posisi nyete sebagai identitas budaya daerah.

Kreativitas Berlanjut ke Media Porselen

Perkembangan nyete tidak berhenti pada batang rokok.

Sejak tahun 2008, Sasang Prio Santoso mengembangkan ide mengaplikasikan motif endapan kopi ke media porselen seperti cangkir.

Langkah tersebut membuat corak nyete memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi sarana pelestarian motif bercorak batik.

Seni Nyete Memiliki Nilai Ekonomi

Penggunaan motif kopi pada porselen menunjukkan bahwa budaya nyete dapat dikembangkan menjadi produk kreatif.

Corak yang sebelumnya hanya muncul di batang rokok kemudian hadir pada benda-benda yang bisa dipasarkan.

Dengan demikian, tradisi kopi cethe tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga berpotensi mendukung ekonomi kreatif lokal.

Sentra Kopi Cethe Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

Keberadaan tradisi nyete membuat sentra kopi cethe memiliki daya tarik yang berbeda dibanding warung kopi biasa.

Pengunjung tidak hanya datang untuk minum kopi, tetapi juga untuk menyaksikan proses pembuatan motif pada rokok.

Interaksi antara kopi, seni, dan budaya inilah yang menjadi kekuatan utama kawasan kopi cethe Tulungagung.

Warung Mak Waris dan Kopi Hijau Khas Tulungagung

Video juga merekomendasikan beberapa tempat ngopi yang identik dengan budaya cethe.

Salah satunya adalah Warung Mak Waris, tempat yang dikenal menyajikan kopi hijau khas Tulungagung.

Kopi ini memiliki rasa dan aroma yang berbeda dari kopi hitam pada umumnya dan sering menjadi rujukan penikmat kopi tradisional.

Warkop Pingka Jadi Jujukan Anak Muda

Selain Mak Waris, Warkop Pingka juga disebut sebagai lokasi favorit anak muda.

Warung tersebut berada di pinggir Kali Ngowo dan dikenal memiliki suasana santai untuk berkumpul.

Kehadiran tempat-tempat seperti ini menunjukkan bahwa budaya ngopi Tulungagung terus hidup di berbagai generasi.

Budaya Ngopi Menyatukan Generasi

Nyete berkembang dari aktivitas petani, lalu diteruskan oleh generasi muda.

Proses pewarisan ini membuat budaya kopi cethe tetap bertahan di tengah perubahan gaya hidup.

Warung kopi menjadi ruang pertemuan tempat tradisi lama dan kreativitas baru saling bertemu.

Baca Juga: Ranu Gumbolo Tulungagung Masih Jadi Favorit Camping, Tiket Masuk Rp10 Ribu dengan Suasana Hutan Pinus

Berbeda dari Tren Kafe Modern

Dalam video ditekankan bahwa nyete memiliki karakter yang berbeda dari tren kafe modern.

Jika latte art mengandalkan busa susu dan mesin kopi, nyete justru lahir dari kesederhanaan warung kopi tradisional.

Perbedaan tersebut menjadi ciri khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Endapan Kopi Jadi Medium Ekspresi

Bagi pelaku nyete, endapan kopi bukan sekadar sisa minuman.

Ampas kopi berubah menjadi medium untuk mengekspresikan kreativitas.

Setiap goresan di batang rokok mencerminkan keterampilan dan kebiasaan yang diasah melalui praktik berulang.

Warung Kopi sebagai Ruang Budaya

Tradisi nyete memperlihatkan peran penting warung kopi dalam kehidupan sosial Tulungagung.

Warung tidak hanya menjadi tempat membeli minuman, tetapi juga ruang berbagi cerita, berkumpul, dan mempertahankan tradisi.

Dari tempat inilah budaya cethe terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Identitas Khas Tulungagung

Keunikan nyete membuat Tulungagung memiliki identitas budaya yang mudah dikenali.

Ketika daerah lain dikenal lewat kuliner atau kerajinan tertentu, Tulungagung memiliki kombinasi kopi, seni, dan tradisi merokok yang khas.

Identitas tersebut semakin kuat setelah nyete mendapat pengakuan melalui rekor MURI dan pengembangan motif ke produk kreatif.

Penutup

Secara keseluruhan, Sentra Kopi Cethe Tulungagung menawarkan lebih dari sekadar pengalaman minum kopi.

Tradisi nyete yang bermula dari kebiasaan petani mengoleskan ampas kopi pada rokok kini berkembang menjadi seni rupa khas daerah dengan pengakuan nasional melalui rekor MURI tahun 2006.

Didukung keberadaan warung legendaris seperti Mak Waris dan ruang nongkrong generasi muda seperti Warkop Pingka, budaya kopi cethe tetap hidup sebagai perpaduan antara tradisi, kreativitas, dan identitas masyarakat Tulungagung.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt JTNTV
Sentra Kopi Cethe nyete Tulungagung kopi cethe Tulungagung Warung Mak Waris budaya ngopi Tulungagung