BI Rate Sulit Turun hingga Akhir 2026, Ini Faktor yang Jadi Pertimbangan

Nadhifatul Azmi Nur Azizah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:18 WIB
BI Rate dinilai sulit turun hingga akhir 2026 karena ketidakpastian inflasi, harga minyak, rupiah, The Fed, dan arus modal asing.
BI Rate dinilai sulit turun hingga akhir 2026 karena ketidakpastian inflasi, harga minyak, rupiah, The Fed, dan arus modal asing.

JAKARTA - Peluang BI Rate turun hingga akhir 2026 dinilai semakin kecil di tengah ketidakpastian harga minyak dan inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Bank Indonesia juga diperkirakan akan mencermati arah kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, serta perkembangan arus modal asing sebelum menentukan langkah suku bunga berikutnya.

Menurut narasumber dalam pembahasan tersebut, ketidakpastian perang antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu faktor utama yang membuat ruang penurunan BI Rate terbatas. Konflik dapat kembali memanas atau memasuki fase damai sehingga pergerakan harga minyak dunia masih sulit diprediksi.

Kondisi itu berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi. Karena itu, peluang Bank Indonesia melakukan pemangkasan suku bunga sampai akhir 2026 dinilai semakin sulit.

Baca Juga: Disdik Tulungagung Tak Mau Gegabah Lantik Kepala Sekolah, Khawatir Timbulkan Efek Domino

Perhatian kemudian beralih pada kemungkinan kenaikan BI Rate. Namun, ruang untuk menaikkan suku bunga juga akan bergantung pada sejumlah indikator, termasuk perbedaan tingkat suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat.

Narasumber menjelaskan bahwa BI Rate telah mengalami kenaikan sekitar 100 basis poin, sementara suku bunga The Fed belum berubah. Kondisi tersebut membuat spread antara BI Rate dan Fed Fund Rate semakin besar.

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan akan menjaga spread tersebut. Apabila The Fed tidak mengubah Fed Fund Rate hingga akhir 2026, BI juga dinilai berpeluang tidak melakukan perubahan suku bunga.

Baca Juga: 526.689 Formasi Guru Disiapkan, PPPK Paruh Waktu Berpeluang Jadi Penuh Waktu

Rupiah dan Inflasi Jadi Penentu

Pergerakan nilai tukar rupiah menjadi faktor lain yang akan diperhatikan. Bank Indonesia akan melihat apakah volatilitas dan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut atau justru mulai mereda.

Pergerakan rupiah tersebut dapat menentukan ruang bagi kenaikan BI Rate. Jika tekanan terhadap nilai tukar masih kuat, kebijakan suku bunga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan bersama kondisi inflasi dan faktor eksternal.

Dari sisi inflasi, harga minyak menjadi perhatian karena konflik Timur Tengah masih berlangsung dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap harga-harga bahan pokok dan membuat prospek inflasi menjadi lebih menantang.

Baca Juga: Plt Bupati Ahmad Baharudin Berangkatkan Perseta 1970 U-17 ke Piala Soeratin Jatim

Sementara itu, arah kebijakan The Fed juga menjadi perhatian penting. Risalah rapat The Fed yang akan dirilis menjadi bahan untuk membaca penilaian bank sentral Amerika Serikat terhadap kondisi makroekonomi, mulai inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga pasar tenaga kerja.

Perkembangan pasar tenaga kerja Amerika Serikat sebelumnya disebut mengejutkan karena mengalami penurunan di luar ekspektasi. Kondisi tersebut ikut memangkas proyeksi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Sebelumnya, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September disebut berada di atas 50 persen. Namun, setelah data tenaga kerja tersebut dirilis, proyeksi pasar turun menjadi sekitar 30 persen.

Baca Juga: Pantai Gemah Tulungagung Jadi Pilihan Healing, Ada Laut Biru, Hutan Pinus hingga Wahana Seru

Arah The Fed menjadi semakin penting karena kebijakan bank sentral Amerika Serikat dapat memengaruhi keputusan Bank Indonesia dan pergerakan modal global.

Outflow Asing Masih Jadi Tantangan

Arus modal asing juga menjadi perhatian karena pasar keuangan Indonesia masih menghadapi tekanan outflow. Sejak awal tahun, sentimen terhadap pasar Indonesia disebut cukup negatif.

Salah satu faktor yang disebut memicu outflow adalah perubahan pada indeks MSCI pada akhir Januari yang kemudian diikuti penurunan indeks. Tekanan berlanjut pada Februari setelah konflik Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dunia.

Baca Juga: 8 Pantai Tulungagung yang Wajib Masuk Daftar Liburan, Tiket Mulai Rp5 Ribu

Investor kemudian cenderung mengurangi eksposur terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. Pemerintah bersama Bank Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk kembali menarik minat pelaku pasar.

Kenaikan suku bunga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik investasi asing. Selain itu, dari sisi SRBI, kupon dan yield juga dinaikkan sebagai bagian dari langkah menarik kembali arus modal asing.

Namun, suku bunga bukan satu-satunya pertimbangan investor. Pelaku pasar juga memperhatikan inflasi dan tren nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan dapat mengurangi daya tarik investasi karena investor harus memperhitungkan potensi imbal hasil sekaligus risiko nilai tukar.

Baca Juga: 5 Wisata Tulungagung Terbaru yang Cocok untuk Liburan Keluarga, Ada Waterpark hingga Spot Instagramable

Tantangan lain datang dari kenaikan yield obligasi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman. Kenaikan tersebut turut dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi akibat meningkatnya harga minyak dunia.

Yield yang lebih tinggi di negara maju dapat membuat investor kembali melirik pasar developed market dibandingkan emerging market. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan capital outflow dari Indonesia dan menjadi tantangan bagi pasar keuangan nasional hingga akhir 2026.

Source: https://www.youtube.com/@CNBC_ID

Editor : Nadhifatul Azmi Nur Azizah
BI Rate Arus Modal Asing bank indonesia the fed rupiah