BI Rate Tetap 5,75 Persen, Bank Indonesia Fokus Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

Nadhifatul Azmi Nur Azizah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:42 WIB
BI Rate tetap 5,75 persen. Bank Indonesia fokus menjaga rupiah, inflasi, likuiditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.
BI Rate tetap 5,75 persen. Bank Indonesia fokus menjaga rupiah, inflasi, likuiditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75 persen, sementara Lending Facility dipertahankan sebesar 6,5 persen.

Keputusan tersebut menjadi bagian dari kebijakan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Selain menjaga rupiah, kebijakan suku bunga juga diarahkan untuk menjaga pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Bank Indonesia juga tetap mempertimbangkan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu, selain mempertahankan suku bunga acuan, bank sentral akan memperluas sejumlah kebijakan insentif dan kebijakan pendukung lainnya.

Baca Juga: BPNT Tahap 3 Agustus 2026 Cair Rp600 Ribu? Ini 3 Kemungkinan Asal Saldo KKS

Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan aliran masuk modal asing sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. BI juga akan berupaya meningkatkan likuiditas serta mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Kebijakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing. Dengan demikian, bauran kebijakan BI tidak hanya berfokus pada suku bunga, tetapi juga mencakup stabilitas nilai tukar dan kondisi likuiditas di sistem keuangan.

Kebijakan Makroprudensial Tetap Longgar

Di sisi makroprudensial, Bank Indonesia menyatakan kebijakan tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat melalui peningkatan kredit atau pembiayaan kepada sektor riil.

Baca Juga: BPNT Tahap 3 2026 Mulai Cair? Saldo Rp600 Ribu Muncul di KKS BNI

Meski diarahkan untuk mendorong penyaluran pembiayaan, kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan stabilitas sistem keuangan. Artinya, ekspansi kredit menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan kondisi sistem keuangan.

Arah kebijakan ini berjalan berdampingan dengan kebijakan moneter BI yang mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen. Bank Indonesia menempatkan stabilitas rupiah, pencapaian sasaran inflasi, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebagai bagian dari pertimbangan kebijakan.

Sasaran inflasi yang ingin dijaga berada pada level 2,5 persen plus-minus 1 persen untuk 2026 dan 2027. Target tersebut menjadi salah satu acuan dalam pelaksanaan kebijakan bank sentral.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Bakal Jadi Penuh Waktu, Guru Penuh Waktu Dapat Kesempatan Seleksi PNS

Pembayaran Digital Terus Diperluas

Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, Bank Indonesia juga mempertahankan arah kebijakan sistem pembayaran untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Salah satu fokusnya adalah memperluas akseptasi pembayaran digital. BI juga akan memperkuat struktur industri sistem pembayaran serta meningkatkan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.

Perluasan pembayaran digital menjadi bagian dari kebijakan BI untuk mendukung kegiatan ekonomi. Penguatan struktur industri dan infrastruktur diharapkan berjalan seiring dengan perkembangan aktivitas pembayaran yang semakin membutuhkan sistem yang andal dan tahan terhadap berbagai gangguan.

Baca Juga: 101 SPPG di Tulungagung Sudah Kantongi SLHS, Pemkab Perketat Pengawasan Keamanan Makanan

Dengan keputusan mempertahankan BI Rate, Bank Indonesia melanjutkan bauran kebijakan yang mencakup moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Fokusnya mencakup penguatan stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga sasaran inflasi, memperbaiki kondisi likuiditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia juga akan melanjutkan kebijakan untuk meningkatkan aliran modal asing dan memperdalam pasar uang serta pasar valuta asing. Sementara dari sisi pembiayaan, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendorong kredit ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Meta Description: BI Rate tetap 5,75 persen. Bank Indonesia fokus menjaga rupiah, inflasi, likuiditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.

Source: https://www.youtube.com/@KanalBankIndonesia

Editor : Nadhifatul Azmi Nur Azizah
BI Rate kebijakan moneter bank indonesia ekonomi indonesia rupiah