Persiapan Pensiun ASN, Ini Strategi Atur Keuangan dan Manfaat yang Perlu Diketahui

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Persiapan pensiun ASN perlu dilakukan sejak dini. Pahami manfaat pensiun, THT, dana darurat, hingga strategi mengatur keuangan sebelum purna bakti.(pinterest)
Persiapan pensiun ASN perlu dilakukan sejak dini. Pahami manfaat pensiun, THT, dana darurat, hingga strategi mengatur keuangan sebelum purna bakti.(pinterest)

JAKARTA - Persiapan pensiun ASN perlu dilakukan sejak masih aktif bekerja. Selain mengandalkan pensiun bulanan, peserta juga perlu memahami manfaat yang tersedia serta menyiapkan dana darurat, aset, dan perlindungan keluarga.

Materi mengenai persiapan pensiun ASN tersebut disampaikan dalam sebuah sosialisasi yang membahas program Taspen, manfaat pensiun, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, hingga literasi keuangan.

Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa peserta perlu mengetahui berbagai manfaat yang dapat diterima ketika memasuki masa purna bakti. Salah satunya adalah program Tabungan Hari Tua (THT).

Manfaat THT dapat berbeda-beda bagi setiap peserta. Dalam pemaparan disebutkan, manfaat terendah yang diterima peserta ketika memasuki usia pensiun berada di kisaran Rp3 juta. Sementara manfaat tertinggi yang telah diproses disebut berada pada kisaran puluhan juta rupiah.

Peserta juga dapat melihat gambaran estimasi manfaat THT melalui aplikasi yang disebut dalam materi sosialisasi. Fitur tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan manfaat yang akan diterima ketika memasuki batas usia pensiun.

Gambaran Manfaat Pensiun ASN

Selain THT, peserta juga perlu memahami manfaat pensiun bulanan. Dalam materi tersebut disebutkan, estimasi pensiun dapat dihitung berdasarkan 2,5 persen dari gaji pokok terakhir dikalikan masa kerja.

Baca Juga: Tarif Parkir Insidental Tulungagung Diingatkan, Motor Rp 3 Ribu dan Mobil Rp 5 Ribu

Besaran tersebut memiliki batas maksimal 75 persen dan minimal 40 persen dari gaji pokok. Namun, besaran yang diterima secara akurat tetap mengacu pada dokumen SK pensiun.

Untuk pensiunan yang meninggal dunia, terdapat manfaat berupa uang duka wafat. Besarannya disebut mencapai tiga kali penghasilan pensiun terakhir dan diberikan kepada ahli waris.

Selain itu, terdapat pensiun terusan yang dibayarkan selama empat bulan berturut-turut kepada ahli waris. Untuk pensiun janda atau duda, besarannya disebut sekitar 36 persen dari gaji pokok. Sementara untuk kondisi tewas, manfaat yang disebutkan mencapai 72 persen dari gaji pokok.

Materi tersebut juga menggambarkan kisaran pensiun berdasarkan golongan ASN. Untuk golongan I, manfaat pensiun disebut berada di kisaran Rp2 juta hingga sekitar Rp2,5 juta. Sementara golongan lainnya memiliki kisaran yang berbeda sesuai pangkat dan masa kerja.

Komponen pensiun bulanan juga terdiri atas beberapa bagian. Di antaranya pensiun pokok, tunjangan istri dan anak, tunjangan beras, serta potongan terkait layanan kesehatan.

Pentingnya Dana Darurat dan Perencanaan Keuangan

Persiapan pensiun ASN tidak hanya berkaitan dengan mengetahui besaran manfaat. Peserta juga didorong memiliki perencanaan keuangan sejak masih aktif bekerja.

Baca Juga: Pendaftar BPD Tulungagung Capai 4.646 Orang, Ribuan Warga Berebut Kursi di 256 Desa

Dalam materi literasi keuangan, peserta diperkenalkan dengan pola pembagian 50:30:20. Sebanyak 50 persen penghasilan dialokasikan untuk kebutuhan utama, 30 persen untuk keinginan, sedangkan 20 persen disisihkan untuk tabungan dan investasi.

Porsi 20 persen tersebut juga dapat digunakan untuk membangun dana darurat sebelum mulai berinvestasi. Dana darurat diperlukan untuk menghadapi kebutuhan yang tidak terduga, seperti kondisi sakit, bencana, maupun kewajiban pembayaran tertentu.

Dalam materi yang disampaikan, dana darurat disarankan berada pada kisaran tiga hingga enam bulan biaya hidup. Perhitungannya dapat mempertimbangkan kebutuhan pokok, biaya sewa, tagihan, hingga pembayaran utang.

Peserta juga diingatkan untuk mempersiapkan aset dan perlindungan keluarga. Aset yang perlu diperhatikan antara lain penghasilan, rumah, kendaraan, kesehatan, dan keluarga.

Untuk aset fisik seperti kendaraan, perlindungan dapat dipertimbangkan melalui asuransi umum. Sementara perlindungan kesehatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Untuk keluarga, salah satu pilihan yang disebutkan adalah asuransi jiwa.

Hal tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan pensiun ASN karena pendapatan setelah purna bakti dapat mengalami perubahan. Dalam materi sosialisasi disebutkan adanya penurunan pendapatan pensiun ASN sekitar 70 persen dibandingkan ketika masih aktif bekerja.

Karena itu, peserta disarankan mulai menghitung kebutuhan hidup setelah pensiun sejak dini. Dengan begitu, pensiun bulanan, manfaat THT, tabungan, aset, dan perlindungan yang dimiliki dapat dipersiapkan untuk menopang kehidupan setelah purna bakti.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Persiapan Pensiun ASN Tabungan Hari Tua taspen pensiun ASN literasi keuangan