Batik di Tulungagung memiliki sejarah yang panjang. Hal itu bisa terlihat dari peninggalan tempat produksi batik Tulungagung, salah satunya adalah omah gajah yang berada di Desa Simo, Kecamatan Kedungwaru. Dahulu tempat tersebut merupakan pusat produksi batik di Tulungagung, namun akibat agresi Belanda dan banjir besar membuat omah gajah berhenti memproduksi batik hingga kini.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung.
Kurang lebih 500 meter dari Balai Desa Simo, Kecamatan Kedungwaru terlihat bangunan megah dengan konsep rumah Belanda atau sering disebut loji Dari depan terdapat tulisan tahun 1916 masehi, yang menunjukkan bahwa rumah tersebut sudah berumur kurang lebih 104 tahun sejak didirikan. Bangunan tersebut diberi nama Omah Gajah, karena terdapat ukiran gajah pada bagian depan rumah. Dan dulunya bangunan tersebut menjadi tempat produksinya batik Tulungagung.
Salah satu keluarga pemilik Omah Gajah, Jhon Heru mengatakan, Omah Gajah ini memiliki sejarah yang panjang, terutama terkait dengan batik di Tulungagung. Omah Gajah tersebut didirikan oleh kakek wareng-nya yang bernama Haji Umar, untuk digunakan sebagai tempat produksi batik. Dia tidak mengetahui dengan pasti apa nama batik yang diprodukasi pada 1916 itu. “Dulu omah gajah ini dijadikan sebagai tempat produksi batik Tulungagung. Pada saat saat itu produksi batik sudah dilakukan sebelum kemerdekaan Indonesia,” tuturnya.
Pria yang terhitung sebagai generasi ke lima itu menceritakan, jadi seratus tahun lalu, omah gajah dijadikan tempat pembuatan batik, dengan melibatkan masyarakat sekitar. Namun adanya agresi militer Belanda pada 1946, membuat produksi batik di omah gajah menurun. Bahkan pada saat itu Omah Gajah dijadikan sebagai poliklinik untuk para tentara terluka. Setelah Indonesia benar-benar merdeka, produksi batik dimulai lagi namun tidak sebanyak 30 tahun lalu.
Hingga puncaknya pada sekitar 1976, Omah Gajah diterjang banjir dari luapan sungai. Bencana tersebut membuat produksi batik benar-benar tutup total. “Jadi ada dua faktor yang membuat kejayaan batik produksi omah gajah menghilang. Pertama, karena agresi militer Belanda dan kedua adalah akibat banjir yang tak kunjung surut. Akibat banjir, keluarga kami memutuskan untuk meninggalkan Omah Gajah dan banyak dari masyarakat juga meninggalkan wilayah Desa Simo pada saat itu,” ujar Jhon, 'sapaan akrabnya.
Pria 56 tahun itu menyayangkan tidak ada sama sekali sisa-sisa batik yang diproduksi dari Omah Gajah itu. Padahal dahulu, banyak orang dari luar negeri berdatangan untuk membeli batik produksi Omah Gajah. “Saya melihat dari foto-foto keluarga saya, ada beberapa orang dari luar negeri membeli batik dari sini,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Simo, Mahmud menambahkan, adanya Omah Gajah membuktikan bahwa Desa Simo pernah menjadi pusat produksi batik di Tulungagung. Dan Omah Gajah menjadi saksi bisu kejayaan batik Tulungagung. Karena dengan adanya bangunan itu, banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pembatik, dan tentu hal itu menopang perekonomian warga sekitar. “Tak bisa dipungkiri bahwa Omah Gajah adalah sebagai bukti sejarah batik Tulungagung,” tambahnya.
Bahkan dahulu tidak hanya Omah Gajah saja, tapi banyak tempat produksi batik di Simo. Tapi akibat banjir yang hampir menenggelamkan seluruh rumah akibat luapan Sungai Ngrowo, banyak tempat produksi batik berhenti dan tidak menyisakan peninggalannya. Saat ini yang tersisa hanyalah Omah Gajah itu. “Sebenarnya dulu banyak tempat produksi batik, tapi hingga saat ini yang tersisa hanyalah Omah Gajah,” papar pria asli Desa Simo itu.
Mahmud mengungkapkan, disebut Omah Gajah karena terdapat gambar gajah di bagian depan bangunan tersebut. Dan gajah itu menjadi salah satu ikon dalam batik yang diproduksi. Batik yang dihasilkan juga sampai mengundang orang dari luar negeri. Maka tak heran baik hasil produksi Omah Gajah sangat terkenal pada saat itu. “Gambar gajah itu semacam ikon dari model batik produksi Omah Gajah,” ungkapnya.
Pria 60 tahun itu mengatakan telah berupaya menjadikan Omah Gajah sebagai salah satu cagar budaya di Tulungagung. Pihaknya sudah berkomunikasi dengan ahli waris dan memohon kepada Pemkab Tulungagung untuk membantu menjadikan Omah Gajah sebagai cagar budaya. Karena bangunan tersebut sarat akan nilai sejarahnya. “Dulu di Omah Gajah sering dijadikan sebagai tempat pergelaran festival tradisional, dan juga pernah didatangi oleh kementerian. Maka kami berharap Pemkab Tulungagung bisa membantu untuk menjadikan Omah Gajah sebagai cagar budaya. Karena jika hanya dari Pemdes Simo saja, tidak akan mampu untuk menjadikannya sebagai cagar budaya,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq