Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjuangan Nur Hikmawati untuk Membantu Meringankan Beban Para Janda

Choirurrozaq • Selasa, 15 Desember 2020 | 18:30 WIB
perjuangan-nur-hikmawati-untuk-membantu-meringankan-beban-para-janda
perjuangan-nur-hikmawati-untuk-membantu-meringankan-beban-para-janda

Terinsipirasi dari sosok ayah, melandasi Nur Hikmawati bertekad untuk mendirikan Himpunan Janda Berkarya (HIJAB). Cerita pilu para janda menjadi kekuatan tersendiri bagi warga Desa Sambirejo, Kecamatan Trenggalek tersebut. 


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek


PAGI-PAGI pada hari penuh berkah (Jum’at, Red), jalan kabupaten Gondangrejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Trenggalek dipenuhi para ibu-ibu. Sekilas tidak ada yang aneh, mereka terlihat menjajakan sayurannya seperti berada di pasar. 


Ada beberapa spot kios yang berjejer di lokasi itu. Kios-kios itu menghadap ke arah barat. Yang diketahui kios-kios itu dikelilingi areal persawahan. Para ibu-ibu itu punya julukan tersendiri untuk tempat tersebut, mereka menyebutnya Mewah (Mepet sawah, Red). 


Aktivitas pasar seperti yang dilakukan para mak-mak itu berbeda dengan pasar pada umumnya. Makanan dan sayuran yang di tata di atas meja kayu itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Kumpulan mak-mak itu disebut dengan HIJAB. 


HIJAB itu diinisiasi Nur Hikmawati, kemudian dibantu dengan dua rekannya: Erlina Efendi dan Sutri Estiwi. Dari mereka, para mak-mak yang berakhir menjanda pun merasa mendapatkan setitik cahaya ditengah kegelapan untuk mereka bisa kembali melanjutkan hidup. 


Berada di salah satu kios, duduk di bangku yang terbuat dari bambu, Nur -panggilannya- bercerita bahwa awal mendirikan HIJAB hanya cerita kepiluan yang mereka dapat. Tiap kali mengundang para janda, hanya tangisan kesedihan yang muncul. Ingatan mereka masih terngiang tentang kisah kelam masa silam, sampai akhirnya mereka pun terpaksa menjanda. “Setiap kali kumpul, mereka tak mampu menahan air mata,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. 


Kesedihan mak-mak janda tersimpan kuat dalam ingatan Nur. Tak sedikit diantara mereka berujung menjanda karena suami telah meninggal dunia. Dan, suatu hal yang membuat mereka sangat terpuruk, yaitu ketika mereka merasa tak mampu menafkahi buah hatinya. Bahkan, ada juga janda yang sempat terbesit usaha untuk bunuh diri. 


Cerita pilu itu membuat Nur bertekad untuk membantu para janda yang mengalami keterpurukan. Dia pun teringat ketika orang tuanya dulu juga semangat untuk membantu para anak yatim. Tak ayal, sebagian hasil usaha jualan majalah itu dia sisihkan untuk mencukupi kebutuhan para janda dan anak yatim. “Sekitar pada 2014 jualan majalah,” kata Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) ini. 


Nur mengakui omzet dari jualan majalah dulu hanya sekitar Rp 100 ribu. Tentu, omzet itu pun tidak cukup untuk membantu para janda dan anak yatim. Namun, tekad Nur mengantarkan dirinya untuk lebih giat mencari konsumen. Bahkan sampai menjualnya dengan cara door to door (dari rumah ke rumah, Red). “Pada konsumen saya bilang, omzet sebagian akan didonasikan untuk para anak yatim. Hati para konsumen pun tersentuh hingga mau berdonasi. Sejak itu omzetnya pun naik hingga Rp 1 juta,” ujarnya yang kemudian kain jilbab itu Nur gunakan untuk mengusap air matanya. 


Pengalaman itu membuat Nur meyakini bahwa Sang Pencipta akan memberikan jalan ketika punya niat baik. Semula omzet tidak cukup untuk membiayai kebutuhan orang yang membutuhkan, kemudian omzet itu menjadi cukup untuk membantu mereka. “Saya beralih usaha dengan berjualan kue, usai majalah tersebut berhenti produksi. Karena waktu itu tren orang-orang mulai beralih menggunakan smartphone,” ujarnya.


Usaha kue atau kuliner itu kini adalah wadah untuk para janda menggali pundi-pundi rupiah. Anggota HIJAB yang didirikan empat tahun silam kini sudah berkurang, dari semula 28 orang menjadi 25 orang. Sementara anak yatim ada 36 orang. "Semoga tidak tambah," ungkapnya.


Seorang ibu mengaku bernama Rupatayah, dia bercerita, suami dan anak semata wayang-nya meninggal dalam waktu yang berdekatan. Wanita berjilbab itu pun kini hidup sebatang kara. Dulu, dia pernah mencoba bunuh diri, namun upaya itu gagal. "Saya merasa sudah tidak punya apa-apa dalam hidup, anak saya meninggal setelah suami," ujarnya.


Tak berselang lama, dia diajak untuk ikut HIJAB, meskipun enggan saat awal-awal. Dia menutup diri dari masyarakat untuk menghindari stigma sebagai janda. Lambat laun, Rupatayah bisa membuka diri dengan keluarganya yang bernasib sama. "Alhamdulillah kini saya punya keluarga baru, membuat saya semangat untuk melanjutkan hidup," ujarnya.(*)

Editor : Choirurrozaq