Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nasib Penarik Perahu Penyebrangan Tradisonal

Choirurrozaq • Kamis, 6 Mei 2021 | 19:49 WIB
nasib-penarik-perahu-penyebrangan-tradisonal
nasib-penarik-perahu-penyebrangan-tradisonal


Sudah jatuh ketimpa tangga pula, pameo ini mungkin tepat menggambarakan kondisi pelaku jasa perahu penyebrangan tradisional Pema Ekspress yang berada di Lingkungan IV, Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut. Sejak adanya pembangunan jembatan dan kebijakan larangan mudik membuat omzet mereka mengalami penurunan yang drastis.


MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Ngunut, Radar Tulungagung


Terlihat tiga orang sedang menarik perahu penyeberangan tradisonal di Kecamatan Ngunut, meski jumlah penumpang tak lebih dari jari tangan. Tak ada antrean kendaraan yang menumpuk, seperti tahun lalu ketika menjelang Lebaran. Bahkan tak jarang mereka harus berhenti lama untuk menunggu kendaraan yang hendak menyeberang sungai Brantas tersebut.


Kondisi air kini terlihat lebih dangkal dari pada sebelumnya. Itu terlihat dari bekas air yang mulai memudar di bibir sungai. Keadaan seperti membuat mereka harus bekerja lebih ekstra untuk menarik perahu untuk menuju dari satu titik ke titik lainya. Wajar jika baju mereka basah, karena keringat bercucur deras. Di belakang kemudi perahu tradisional itu juga  tampak beberapa orang tengah menyodot pasir dari dalam sungai Brantas.


Salah satu pekerja perahu penyeberangan tradisional Pema Ekspress, Nur menceritakan, bahwa keberadaan perahu penyeberangan tradisional yang menghubungkan Kecamatan Ngunut dengan Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, sudah sejak delapan tahun silam. Setidaknya dari perahu ini, bisa menghidupi 11 kepala keluarga (KK). “Kalau untuk kapal besar ini sejak 2013 lalu. Biasanya dalam satu hari itu kami dibagi menjadi dua tim,” ujarnya.


Pria pawakan tubuh tegap itu mengungkapkan, sejak adanya jembatan Ngujang II, secara langsung berdampak pada pendapatan jasa penyebrangan perahu tradisonal. Pasalnya, banyak pengendara yang saat ini lebih memilih menggunakan jembatan dari pada perahu penyeberangan. Hal ini tidak hanya dirasakan pihaknya saja, namun juga dirasakan jasa penyebrangan yang tidak jauh dari keberadaan jembatan Ngujang tersebut. Bahkan jasa penyeberangan yang ada di Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, berhenti beroperasi. “Karena ada jembatan Ngujang II itu, dampaknya sangat terasa bagi kami,” ungkapnya.


Saat disinggung mengenai berapa jumlah penurunan, dia tidak bisa mengungkapkan secara pasti berapa jumlah omzet kini. Namun,  jika dulu itu, kendaraan yang menggunakan jasa penyebrangan perahu tradisional selalu memenuhi sudut ruang perahu. Tapi sekarang, bagian depan (anjungan, Red) dan belakang (buritan, Red) perahu jarang sekali terisi oleh kendaraan yang hendak menyeberang. Setidaknya penurunan memang drastis. “Dari tahun ke tahun jumlah penumpang mengalami penurunan. Kalau diperkirakan untuk tahun ini, penurunan mencapai 35 persen,” ungkapnya.


Pria asli Kecamatan Ngunut itu mejelaskan, kondisi ini juga diperparah dengan adanya pandemi Covid-19. Meski tidak langsung berdampak, dengan adanya kebijakan pembatasan, secara tidak langsung juga mempengaruhi jumlah penumpang. Bahkan mendekati Lebaran tahun ini, sangat sepi dari kendaraan. Mungkin juga disebabkan adanya larangan mudik dari pemerintah. “Sebelum ada pandemi itu, dulu menjelang Lebaran. Perahu selalau penuh dengan kendaraan. Tapi sekarang bisa dilihat sendiri, hanya sedikit sekali kendaraan. Belum lagi sekarang banyak penyebrangan yang menggunakan kapal lebih besar,” jelasnya sambil menunjuk beberapa kendaraan penumpang.


Nur mengatakan, kini problem yang harus dihadapi adalah pendangkalan sungai Brantas. Hal itu membuat mereka kesulitan untuk menggerakan perahu dari satu ujung ke ujung lainya. Karena  ketika sungai dangkal, beban perahu menjadi semakin berat. “Problem  kini air terlalu surut. Ini menyebabkan kami kesusahan untuk menarik perahu. Kami harus mengeluarkan tenaga ekstra,” pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq