Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kumpulan Komunitas Gelar Gerakan Razia Perut Lapar

Choirurrozaq • Kamis, 15 Juli 2021 | 20:38 WIB

Sejak PPKM darurat di Tulungagung dilaksanakan, banyak pedagang yang menjerit karena jualan mereka tidak laku. Dari situlah, puluhan pemuda membuat razia perut lapar. Siapa pun boleh berdonasi untuk membeli nasi para pedagang yang tidak laku akibat jam malam. Selanjutnya akan dibagikan kepada tunawisma, tukang becak, penunggu rumah sakit, dan sebagainya.


 


MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung.


 


Malam itu tampak puluhan pemuda sedang mempersiapkan motor mereka. Bukan untuk balap liar atau ugal-ugalan di jalan, melainkan hendak melakukan gerakan sosial. Itu sebagai bentuk kepedulian kepada pedagang malam hari yang terdampak pemberlakuan jam malam. Gerakan itu mereka namakan “razia perut lapar”.


Salah satu tim pelaksana razia perut lapar, Firman Agung S. mengatakan, ide untuk membuat gerakan razia perut lapar ini karena rasa keprihatian yang mendalam terhadap dampak pemberlakuan jam malam selama PPKM darurat di Tulungagung. Pihaknya menilai bahwa dengan pemerintah memberlakukan jam malam, hingga kini belum ada solusi untuk mengatasi dampak yang dirasakan oleh pedagang yang bekerja pada malam hari. “Kan pemerintah itu hanya memberikan imbauan agar pedagang tidak berjualan di atas 20.00. Padahal banyak dagangan para pedagang yang belum terjual dan membuat mereka harus merugi karena tidak laku,” tuturnya.


Berbekal uang patungan yang dikumpulkan, mereka dalam satu minggu bisa melakukan razia perut lapar sebanyak tiga kali. Dalam satu kali gerakan mereka bisa membeli 150-200 nasi bungkus dari puluhan pedagang yang berjualan pada malam hari, khususnya pedagang yang baru saja terkena razia oleh aparat. “Ada beberapa komunitas yang mengakomodasi. Di antaranya Tulungagung All Star’s, Ngaride Motorcycle, Ngaride Motorwoman, Onderan, Ngaji Ngopi, Bhara, dan banyak dari kalangan masyarakat umum,” terangnya.


Firman menjelaskan, setelah membeli nasi di pedagang, mereka akan membagikan kepada tunawisma, tukang becak, tukang parkir, hingga penunggu pasien yang berada di rumah sakit. Mereka akan menyisir wilayah kota Tulungagung hingga wilayah perbatasan kota Tulungagung. “Kesan yang kami dapatkan ketika membagi nasi bungkus kepada mereka tidak bisa digambarkan lagi. Karena ketika melihat senyum dari mereka itu memacu semangat kami untuk terus melakukan razia perut lapar. Meski hanya nasi bungkus, setidaknya rasa kemanusiaan kami masih ada di tengah kondisi yang tidak mendukung ini,” jelasnya.


Pria tiga bersaudara itu mengungkapkan, ketika melakukan gerakan, ada yang membuat mereka merasa waswas. Misalnya ketika melakukan razia perut lapar, berpapasan dengan aparat yang beroperasi pada jam malam. “Karena kami pernah hendak dibubarkan oleh aparat ketika melakukan razia perut lapar,” ungkapnya.


Pria asal Ngunut itu berpesan, semoga gerakan sosial razia perut lapar ini bisa membuat komunitas lain ikut tergerak untuk memupuk rasa kemanusiaan. Razia perut lapar ini akan dilakukan sampai berakhirnya PPKM darurat di Tulungagung. “Gerakan ini kami dasarkan pada nilai Pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka dari itu, semoga akan ada gerakan baru yang berumunculan dalam merespons kondisi kini pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq