TULUNGAGUNG - Isnatun, seorang pedagang peralatan berbahan besi sudah berjualan di Pasar Wage Kabupaten Tulungagung sejak 31 tahun silam.
Asam manis berjualan di salah satu pasar terbesar di Kabupaten Tulungagung ini telah dirasakan oleh perempuan kini sudah berusia 63 tahun ini.
Kini tidak ada harapan lain selain berdagang untuk melanjutkan hidup.
Salah satu pasar ikonik di Kabupaten Tulungagung yakni Pasar Wage ini menyimpan cerita kejayaan di masanya.
Isnatun salah satu pedagang yang merasakan masa keemasan dari pasar tradisional tersebut.
Bahkan ia berhasil menunaikan ibadah haji dari hasil keuntungannya berdagang di pasar tersebut.
Salah Satu Pedagang di Pasar Wage, Isnatun mengatakan, telah berdagang di pasar wage Tulungagung sejak tahun 1993.
Dari dulu juga ia menyediakan beragam peralatan yang terbuat dari besi.
Mulai dari peralatan pertanian, pertukangan dan peralatan rumah tangga. Asal terbuat dari besi pasti tersedia di lapak milik Isnatun.
“Berdagang di sini itu sudah lama, sudah sejak tahun 1993. Semua peralatan yang terbuat dari besi ada di sini,” jelasnya Sabtu (28/1/2024).
Masa keemasan pasar wage ini menurutnya dimulai sejak tahun 2000an hingga tahun 2015.
Ditahun itu, dia mengistilahkan berdagang sampil merem saja pasti banyak yang beli. Konsumen pun terbagi dari dua macam, yakni pembeli borongan dan pembeli tunggal.
Pada masa itu, pembeli borongan sedang marak sehingga dalam satu hari ratusan peralatan dapat ia jual.
Bahkan keuntungannya pada masa itu, dapat memberangkatkannya ke tanah suci ditahun 2015.
“Dulu itu istilahnya jualan sambil merem saja sudah laris mas, banyak yang beli. Ratusan peralatan bisa terjual dalam satu hari. Ya alhamdulillah sampai bisa berangkat haji,” ucapnya.
Namun, cerita-cerita masa keemasan itu kini hanya tinggal cerita yang ada diingatan Isnatun.
Kini diusianya yang senja, 63 tahun, ia terpaksa berdamai dengan panas matahari untuk berkomunikasi dengan orang yang lalu lalang di depan kiosnya.
Tentu tujuannya agar orang itu bisa mampir untuk membeli salah satu dari dagangannya.
“Sekarang itu sepi mas, udah jarang yang beli. Ya upaya yang saya lakukan ya menawarkan ke orang yang lewat. Siapa tau ada yang lagi membutuhkan peralatan yang saya jual,” paparnya.
Diusianya yang tidak muda lagi, ada saja pembeli culas yang memanfaatkan kondisi Isnatun. Tak jarang mereka memberikan uang lebih kecil dari harga yang telah disepakati.
Misal harganya Rp40 ribu, Isnatun hanya diberikan uang Rp20 ribu. Namun dengan pengalaman puluhan tahun, cara itu tidak berlaku bagi Isnatun.
“Ya alasannya juga tidak sadar, padahal kita sudah berjualan dari lama. Jadi meski pun sudah tua, tapi baunya uang Rp10 ribu sama Rp20 ribu sudah hafal,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra