Penulis : Zahwa Rizqika Aini, Mahasiswa PKL dari Jurusan Komunikasi dan Penyiaran IsIam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Tulungagung
TULUNGAGUNG – Pandemi Covid-19 berdampak signifikan bagi UMKM di Kabupaten Tulungagung.
Tak terkecuali usaha milik Zakaria, seorang pengusaha sarung batik sejak 2012. Ia sempat mengalami bagaimana usahanya merosot di masa pandemi Covid-19.
Alih-alih berhenti atau berpaling ke usaha lain, Zakaria memilih mempertahankan usaha sarungnya.
Pengalaman mampu mempertahankan bisnis sarung di masa pandemi Covid-19 membuat Zakaria makin matang dalam menjalankan bisnis. Di tengah menjalankan bisnis, ada dua prinsip usaha yang dipegang Zakaria.
Awalnya, pebisnis muda ini hanya menjual sarung produksi dari perusahaan lain. Seiring waktu, usaha itu berkembang hingga memiliki tempat produksi sendiri di Pekalongan.
Zakaria mengaku, jika hanya menjual sarung tanpa mampu memproduksi mandiri, usaha itu tidak akan bisa bersaing di pasar global.
“Kalau kita hanya menjualkan merek orang lain, kita nggak bisa kan bersaing di pasar yang sekarang, karena pasar sekarang kan global, belum tentu ciri khas dari produk itu menjadikan value yang diterima di masyarakat,” ungkap Zakaria, Selasa (25/6/2024).
Memasuki masa pandemi Covid-19, Zakaria benar-benar memutar otak untuk mempertahankan usaha sarung.
Tidak cukup itu, Zakaria juga mencoba berinisiatif membuat online shop. Inisiatif ini ia ambil untuk mengembangkan jangkauan pasar dan menekan biaya pemasaran.
Namun di satu sisi, Zakaria menilai, tipikal pembeli di online shop cenderung tertarik dengan harga murah atau tidak memprioritaskan kualitas.
Karena itu, ia lebih memilih fokus dengan outlet ketimbang online shop. Menurutnya, outlet memiliki value (nilai, Red) pasar tersendiri.
Sarung merupakan salah satu kain yang identik untuk kalangan muslim. Keidentikan itu memacu Zakaria memilih umat muslim sebagai target pasarnya.
Namun tak disangka, kalangan nonmuslim pun ada banyak yang membeli produk sarungnya untuk acara kebudayaan atau sekadar mengoleksinya.
Selama menjalankan usaha, Zakaria merupakan pengusaha yang berpegang teguh pada prinsip bersedekah. Prinsip itu berusaha ia lakoni baik saat mendapat banyak rezeki atau sedang surut.
"Kita di umat Islam kan diajarkan, bahwasanya sebagian dari rejeki kita itu punyanya orang. Nah itu yang artinya menjadi motivasi walaupun toko laku nggak laku kita tetep bersedekah, dalam arti mengeluarkan." ujarnya, Selasa (25/6/2024).
Zakaria telah mengembangkan usaha sarung ini sudah 18 tahun lamanya. Baginya, menjalankan bisnis itu membutuhkan konsistensi.
Karenanya sewaktu pandemi Covid-19, Zakaria memilih mempertahankan bisnis sarung walaupun berdarah-darah, ketimbang berganti jenis uhaha.
Menurutnya, ketika berganti jenis usaha itu justru menghabiskan modal untuk mempelajari bidang usaha yang baru.
Sedangkan keteguhan Zakaria menekuni satu bisnis itu belajar dari prinsip pengusaha China. Orang China cenderung menekuni satu bidang bisnis hingga sukses, meskipun telah diterpa banyak hambatan dan rintangan.
Selain itu, Zakaria juga mengamini prinsip bersedekah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Menurutnya cara ini merupakan upaya mendapatkan kelancaran dalam menjalankan usaha.
"Kalau motivasinya ya teteplah bersedekah dan mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa." tutur Zakaria, Selasa (25/6/2024).(tra)
Editor : Intan Puspitasari