RADAR TULUNGAGUNG - Perjuangan Sumiran menjaga eksistensi wayang kulit di Trenggalek bisa dikatakan tidak mudah.
Apalagi saat ini minat masyarakat di sekitar Trenggalek dalam mengoleksi wayang sangat minim.
Pria asal Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Trenggalek ini mengaku, pada awal kariernya sebagai perajin wayang kulit, permintaan wayang sangat tinggi.
Baik dari kalangan dalang maupun peminat wayang itu sendiri.
"Dulu pada awal 2000-an, pesanan wayang kulit melimpah. Sampai pada 2020, peminat wayang hanya sedikit. Saat ini hanya pelanggan setia saja," jelasnya.
Sampai saat ini, selain menerima pesanan, dia juga terus memproduksi wayang untuk dijual kepada para pencinta seni dan dalang dari berbagai daerah.
Tak hanya wayang untuk pementasan, dia juga menciptakan berbagai hiasan dinding bernuansa pewayangan.
"Hasil karya saya telah tersebar luas, sampai ke Surabaya dan berbagai daerah lainnya," imbuhnya.
Dengan ketekunan dan kecintaannya terhadap seni tradisional, dia terus menjaga warisan budaya ini agar tetap hidup dan dinikmati oleh generasi mendatang.
Meski tak mudah dalam merawat wayang kulit, dia tetap menjaga warisan orang tuanya.
"Yang penting tekun dalam bekerja sebagai perajin wayang kulit. Meski saat ini minat masyarakat berkurang, saya tetap merawat warisan tradisi," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana