RADAR TULUNGAGUNG - Siapa sangka, dari sekadar ikut ayahnya ke warung kopi untuk melihat orang bermain catur, seorang anak kecil di Tulungagung kini menjelma menjadi pelatih muda yang melahirkan atlet-atlet berprestasi.
Dialah Calvin Kresna Afandy, 27, guru sekaligus pelatih catur yang tinggal di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.
Calvin mengenal catur sejak usia 5 tahun, meski baru benar-benar paham cara bermainnya saat duduk di bangku kelas 5 SD.
Bakatnya tumbuh bukan dari sekolah, melainkan dari lingkungan sekitar. “Dulu sering ikut ayah ke warung kopi, lihat orang main catur, lama-lama ikut mencoba,” kenangnya.
Tahun 2009 menjadi titik balik. Masih duduk di kelas 5 SD, Calvin memberanikan diri ikut lomba tingkat kabupaten yang digelar di SMK Perwari Tulungagung.
Tak disangka, dengan modal belajar dari buku dan latihan otodidak, dia langsung meraih juara 1. Prestasi itu yang kemudian membawanya bergabung dengan pembinaan Percasi Tulungagung, hingga rutin berlaga di Kejurprov Jawa Timur.
Meski beberapa kali hanya mampu bertahan di posisi empat besar porprov, Calvin tak patah arang. Dia sempat berada di persimpangan antara mengejar gelar master catur profesional atau melanjutkan kuliah.
Akhirnya, dia memilih jalur keguruan, berkuliah di jurusan pendidikan guru MI dengan beasiswa khusus atlet catur. “Sejak lulus SMA, saya sudah punya cita-cita jadi pengajar,” tuturnya.
Keputusan itu justru membuka jalan baru. Setelah fokus mengajar di MI Podorejo, Calvin mulai melatih anak-anak di lingkungannya.
Perjuangan itu tidak mudah. Sering kali cibiran datang karena dianggap terlalu muda, kurang pengalaman, atau melatih hanya demi uang. Namun, semua dijadikannya bahan bakar semangat.
Murid pertamanya adalah seorang siswi SD yang dia temui di sebuah turnamen kecil di Sumbergempol pada 2020. “Saya lihat matanya tajam. Ada potensi. Padahal waktu itu dia benar-benar belum bisa apa-apa,” cerita Calvin.
Dengan penuh kesabaran, dia melatih tanpa bayaran, bahkan berbulan-bulan hanya dibalas dengan sepiring nasi pecel.
Hasilnya luar biasa, dalam sembilan bulan, sang murid sudah menembus juara 1 kejurkab, kemudian juara 2 Kejurda 2022, hingga meraih emas nasional di nomor catur cepat pada 2023.
Sejak itu, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Kini, komunitas catur binaannya berisi sekitar 40 anak dari usia 4 tahun hingga remaja.
Baca Juga: Berlangsung Meriah, 750 Atlet Bertanding di Kejurprov Catur Jatim di Tulungagung
Beberapa bahkan telah menorehkan prestasi membanggakan, termasuk Wafina, atlet cilik Tulungagung yang berhasil menyandang gelar Women FIDE Master di usia 10 tahun.
Menurut Calvin, rahasia sukses melatih bukan sekadar teknik, melainkan pendekatan yang sesuai usia.
“Cara menyampaikan materi ke anak-anak berbeda dengan remaja atau dewasa. Saya berusaha meramu bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti,” jelasnya.
Dia selalu menanamkan filosofi “sumur bor” pada murid-muridnya. Semakin ditekan, semakin jatuh, justru makin dalam dan akhirnya mengeluarkan sumber air yang bermanfaat bagi banyak orang.
“Artinya, jangan takut dihina atau diremehkan. Justru itu jadi modal untuk lebih kuat,” tegasnya.
Ke depan, Calvin berharap catur bisa lebih membumi di Tulungagung. Selama ini, olahraga di sekolah lebih banyak didominasi basket atau voli, sementara catur kerap dipandang sebelah mata.
“Padahal dari catur, anak-anak bisa belajar konsentrasi, strategi, sampai mental juara,” katanya.
Kini, dari sebuah rumah sederhana di Tunggulsari, suara ketukan bidak catur terus terdengar. Dari sanalah, generasi baru pecatur Tulungagung ditempa, dengan mimpi melangkah hingga ke panggung internasional. ****
Editor : Dharaka R. Perdana