RADAR TULUNGAGUNG – Nama Paulus Soegiono Loekito tak bisa dilepaskan dari dunia literasi di lingkungannya di Tulungagung.
Pria 60 tahun ini dikenal sebagai kolektor buku jadul yang sudah mulai mengoleksi sejak 1981 silam.
Ribuan buku tersimpan rapi di rak kayu sederhana buatannya, menjadi saksi perjalanan panjang kecintaannya pada dunia literasi.
“Sejak SMP, 1981. Koleksi pertama soal sejarah, agama. Lalu merambah ke sosial khususnya,” tutur Paulus, Minggu (14/9).
Baca Juga: Berikut 6 Rekomendasi Webtoon Horor Thriller yang Harus Kamu Baca, dari On Going Sampai Tamat,
Bagi Paulus, buku bukan sekadar bacaan. Ia menyerap ilmu, memperkaya wawasan, dan bahkan mendorong dirinya belajar berbagai bahasa asing.
Dari buku berbahasa Prancis, ia lalu mendalami bahasa Latin hingga akhirnya dikenal sebagai seorang poliglot.
Salah satu koleksi yang paling berkesan adalah buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Presiden Soekarno. Buku tersebut sulit ditemukan setelah Soekarno wafat pada 1970 dan baru booming lagi di era 1990-an.
“Sulitnya karena beliau meninggal tahun ’70. Buku itu sempat booming lagi tahun 1995-an. Jadi seperempat abad kemudian baru ada masa orang pada nyari buku itu,” jelasnya.
Setelah pencarian panjang, Paulus akhirnya mendapatkan dua jilid buku itu di pasar loak Jakarta dengan harga Rp40–50 ribu.
Baginya, karya Soekarno sangat berharga. “Soekarno dikenal oleh dunia. Orang bilang (Soekarno) Cicero-nya Indonesia,” ujarnya.
Kini, koleksinya mencapai lebih dari 1.000 judul dengan tema beragam: sosial, budaya, filsafat, hingga agama. Ia bahkan memiliki kitab suci dalam berbagai terjemahan, termasuk Alquran berbahasa China.
Namun, Paulus menekankan bahwa koleksi tersebut bukan hanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin bukunya memberi dampak bagi orang-orang sekitar, khususnya kaum muda.
Baca Juga: Tandyo Budi Revita Pernah Menulis Buku Otobiografi sebagai TNI, Begini Pendapat Penyuntingnya
“Saya ingin kasih pembelajaran ke anak-anak muda sekarang. Karena setelah mereka sudah melek teknologi, hal-hal yang tradisional sering kali hilang,” tegasnya.
Sebagai kolektor buku jadul, Paulus Soegiono Loekito merasa punya tanggung jawab untuk menjaga budaya membaca dan menghargai sejarah.
Baca Juga: Manfaat Membaca Buku Setiap Hari untuk Kesehatan Otak dan Wawasan
Pesannya untuk anak-anak muda sederhana tapi mendalam: jangan melupakan akar budaya. “Saya kalau ketemu anak-anak muda sering ngomong, jangan lupakan akar budayamu,” katanya.
Bagi Paulus, buku bukan hanya koleksi, melainkan warisan yang harus dijaga. Lewat literasi, ia berharap generasi muda tidak hanya pandai secara teknologi, tetapi juga kaya wawasan budaya dan sejarah. ****
Editor : Dharaka R. Perdana