Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenang Sosok Karismatik KH Achmad Asrori Al Ishaqy RA, Sang Mursid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Senin, 13 Oktober 2025 | 04:35 WIB

Hadaratus Syaikh Romo K.H. Asrory Al Ishaqy,mursid tarekat qodriyah wanaqsabandiyah al utsmaniyah
Hadaratus Syaikh Romo K.H. Asrory Al Ishaqy,mursid tarekat qodriyah wanaqsabandiyah al utsmaniyah

RADAR TULUNGAGUNG – Jejak langkah seorang ulama besar yang dikenal dengan panggilan akrab Yai Asrori, atau KH Achmad Asrori Al Ishaqy RA, masih terus menginspirasi banyak kalangan.

Dia dilahirkan di Surabaya pada 17 Agustus 1951, adalah putra keempat dari sepuluh bersaudara dari pasangan KH Muhammad Utsman Al Ishaqy dan Nyai Hj Siti Qomariyah binti KH Munadi.

Silsilah nasab Yai Asrori sendiri sungguh luar biasa, terhubung dengan Maulana Ishaq (ayah Sunan Giri) dari jalur ayah dan Sunan Gunung Jati dari jalur ibu, bahkan bersambung hingga Nabi Muhammad SAW pada urutan ke-38.

Tanda-tanda kepemimpinan dan karismanya sudah nampak sejak masa muda, menunjukkan bahwa beliau memang dipersiapkan untuk menjadi tokoh panutan umat.

Baca Juga: Asy-Syekh Mustaqim bin Husein, Ulama Besar dan Pendiri Pondok PETA Tulungagung yang Jarang Diketahui Publik

Perjalanan spiritual dan intelektual Yai Asrori dimulai dengan menimba ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Pendidikan formal beliau memang hanya sampai kelas tiga Sekolah Dasar, namun setelah itu, Yai Asrori muda secara intensif mendalami ilmu agama di pesantren, mengikuti jejak para kyai di Jawa untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.

Pesantren pertama yang menjadi tempat belajarnya adalah Pondok Pesantren Darul Ulum, Peterongan Jombang, pada tahun 1966, di bawah asuhan KH Musta’in Romly, seorang mursyid tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah.

Setelah itu, dia melanjutkan ke Pondok Pesantren Alhidayah di Tretek Pare Kediri selama tiga tahun, mendalami kitab tasawuf dan hadits seperti Ihya’ Ulumiddin dan Shahih Bukhari. Masa studinya berlanjut singkat di Pondok Pesantren al Munawwir Krapyak Jogjakarta dan Pondok Pesantren Buntet Cirebon.

Metode dakwah yang diusung oleh Yai Asrori sangat unik dan inovatif, terutama ketika beliau berdakwah kepada anak-anak atau pemuda jalanan.

Di tengah kesibukan membantu mengajar di pondok pesantren ayahnya, Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin Darul ‘Ubuudiyyah, dia memilih untuk terjun langsung ke komunitas pemuda jalanan.

Baca Juga: Menakar Kemerdekaan dari Perspektif Ulama Tulungagung, Mencintai Tanah Air itu Sebagian dari Iman

Yai Asrori muda, yang akrab disapa Gus Rori pada masa itu, mendekati mereka dengan mengikuti hobi-hobi mereka seperti bermain musik dan nongkrong.

Melalui obrolan ringan saat berkumpul, dia menyelipkan ilmu-ilmu agama, sebuah pendekatan yang mirip dengan metode dakwah Wali Songo yang mengakulturasi budaya Islam dengan budaya lokal tanpa langsung "membabat habis" kebiasaan yang dianggap kurang Islami.

Dia menjadikan aktivitas-aktivitas tersebut sebagai "pintu masuk" untuk membimbing mereka, perlahan namun pasti, agar mau berkumpul tidak hanya dengan komunitasnya sendiri, tetapi juga dengan orang-orang saleh melalui majelis zikir.

Baca Juga: Pernah Jadi Partai Politik, Peran Nahdlatul Ulama Tak Bisa Disepelekan di Indonesia

Antusiasme terhadap metode dakwah Gus Rori terus bertumbuh, hingga akhirnya dia mengajak para pemuda tersebut untuk mengadakan majelis manaqiban dan pengajian di Gresik. Majelis pertama dilaksanakan di kampung Bedilan dan kemudian diadakan rutin setiap bulannya.

Majelis ini diisi dengan pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir al Jilany, Maulid, serta tanya jawab keagamaan.

Awalnya diberi nama jamaah KACA (Karunia Cahaya Agung), namun agar lebih familiar, Gus Rori menyebut anggotanya sebagai "Orong-Orong", merujuk pada kebiasaan pemuda-pemuda tersebut yang aktif di malam hari. Jamaah Orong-Orong inilah yang kelak "bermetamorfosis" menjadi embrio lahirnya Jamaah Al Khidmah.

Kharisma dan sikap netral serta non-partisan Yai Asrori terhadap kelompok Islam atau partai politik tertentu membuatnya sangat disegani oleh berbagai kalangan masyarakat dari strata sosial dan kelompok yang berbeda.

Majelis-majelis yang beliau pimpin bersifat inklusif dan terbuka bagi siapa saja, tanpa kesan eksklusivisme.

Hal ini memungkinkan para pejabat sipil maupun pemerintahan, dengan pandangan keagamaan atau politik yang beragam, untuk duduk rukun bersama dalam majelis beliau.

Baca Juga: Soroti Krisis Demokrasi, Abdul Hakam Sholahuddin Raih Gelar Doktor di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Pada tahun 1983, Yai Asrori mendirikan musala di Kelurahan Tanah Kali Kedinding. Karena banyaknya masyarakat yang antusias ingin memondokkan anak-anak mereka, dia kemudian mendirikan masjid dan pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah.

Pondok ini berlokasi di Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, dan menampung tak kurang dari 2.000 santri mukim serta 1.200 santri pulang-pergi.

Lembaga pendidikan formal di pondok ini bahkan lengkap, mulai dari tingkat kanak-kanak hingga perguruan tinggi, ditambah pendidikan non-formal seperti TPQ dan madrasah diniyah pada malam hari.

Majelis pengajian rutin bulanan di Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah dihadiri oleh lebih dari 20.000 jemaah dari berbagai kota di Pulau Jawa, sementara Haul Akbar tahunan dihadiri oleh tak kurang dari 200.000 jemaah dari dalam maupun luar negeri.

Majelis zikir rutin mingguan dan manaqiban bulanan juga menarik lebih dari 10.000 jemaah. Kehadiran majelis-majelis ini membawa keberkahan ekonomi bagi masyarakat sekitar Kedinding. d

Dngan terdongkraknya roda perekonomian para pengusaha warung, kos-kosan, tukang becak, sopir angkot, dan berbagai profesi lainnya.

Melihat jumlah jemaah yang mencapai ratusan ribu, Yai Asrori memikirkan keberlangsungan pembinaan jemaah di masa depan.

Maka, pada tanggal 25 Desember 2005, di Semarang, Jawa Tengah, beliau mendeklarasikan organisasi keagamaan bernama "Jamaah Al Khidmah".

Organisasi ini berfungsi sebagai Event Organizer (EO) untuk majelis zikir, khatmil Qur’an, maulid, manaqib, serta kirim doa untuk orang tua, leluhur, dan guru.

Lingkup kegiatannya juga mencakup majelis salat malam, taklim, lamaran, akad nikah, tingkepan, dan pemberian nama anak.

Menurut H. Hasanuddin, SH, Ketua Umum Jamaah Al Khidmah periode I dan II (2005-2014), organisasi ini dibentuk agar pembinaan jemaah lebih terarah dan teratur, serta terbuka bagi siapa pun tanpa syarat khusus.

Bahkan, sepeninggal Yai Asrori, Jamaah Al Khidmah justru berkembang pesat secara kuantitas, baik di dalam maupun luar negeri.

Saat ini, kepengurusan Jamaah Al Khidmah telah berdiri di 77 kabupaten/kota dan sembilan provinsi di Indonesia, serta di Malaysia, Singapura,dan Arab Saudi.

Baca Juga: Perjalanan Gus Iqdam Ketika Dakwah, Berawal dari 7 Murid

Perjalanan sufistik Yai Asrori tak bisa dilepaskan dari sang ayah, Kyai Utsman RA. Enam tahun sebelum wafat, tepatnya pada 17 Ramadhan 1398 H (21 Agustus 1978 M), Kyai Utsman menunjuk Yai Asrori sebagai mursyid tarekat penggantinya. Awalnya, Yai Asrori sempat menolak karena merasa masih ada kakak-kakaknya yang lebih senior.

Namun, pada akhirnya dia bersedia dibaiat sebagai mursyid di rumah almarhum H. Jamil di Desa Kroman Gresik.

Momen bersejarah ini diabadikan oleh Yai Asrori dalam rangkaian majelis zikir setiap 17 Ramadhan, yang dilanjutkan dengan ziarah bersama ke makam Kyai Romli Tamim di Peterongan Jombang, sebuah tradisi yang masih rutin dilaksanakan oleh Jamaah Al Khidmah hingga kini.

Yai Asrori menerima pelajaran sufistik dan tarekat pertama kali dari ayahnya, Kyai Utsman, yang beliau sebut sebagai ayah, guru, teman, dan bahkan musuh (saat berdebat ilmu). Kyai Utsman dikenal dengan akhlak mulianya, yang bukan hanya mursyid tarekat tetapi juga mursyid akhlak.

Di antara didikan Kyai Utsman kepada Yai Asrori adalah penanaman sikap rahmatan lil’aalamiin (mengedepankan belas kasih sayang kepada orang awam), sikap tawadlu’ (kerendahan hati, dengan selalu membawa kitab atau catatan saat memberikan mau’idhah), serta tuntunan rabithah, riyadlah, dan mujahadah.

Dia juga diyakini lebih banyak berdakwah melalui teladan dan perbuatan langsung daripada hanya ucapan atau tulisan.

Baca Juga: Gus Dur dan Deretan Ramalan Ajaibnya, Nomor 11 Justru Mengarah pada Dirinya Sendiri

Yai Asrori juga dikenal sebagai seorang nasionalis sejati. Buktinya terlihat dari instruksi beliau untuk mengadakan upacara bendera 17 Agustus pertama kali di Pondok Pesantren Al Fithrah pada tahun 2005.

Para santri, dengan jubah putih khas Al Fithrah, meskipun banyak yang tanpa alas kaki, mengikuti upacara tersebut, menunjukkan sikap kebangsaan beliau terhadap Pancasila dan NKRI.

Dia menyadari pentingnya kemerdekaan sebagai landasan untuk menikmati ibadah dan mengajarkan pentingnya berterima kasih kepada para pahlawan kemerdekaan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

Setiap bulan Agustus, Yai Asrori juga menginstruksikan santri untuk membuat dekorasi merah-putih dengan ucapan dirgahayu RI, yang diakhiri dengan dawuh beliau sendiri: "DAMAI, DAMAI, DAMAILAH!".

Yai Asrori wafat pada hari Selasa dini hari, 18 Agustus 2009, pukul 02.00 WIB, bertepatan dengan 26 Sya’ban 1430 H, dalam usia 58 tahun, setelah menderita sakit selama kurang lebih tiga tahun.

Meskipun sakit, Yai Asrori tetap istiqamah memimpin Haul Akbar di Pondok Pesantren Al Fithrah pada tahun 2009 dengan bantuan tabung oksigen, menjadi kebersamaan terakhirnya dengan ratusan ribu jemaah.

Baca Juga: Wisata Sejarah ke Makam Kyai Alif Ahmad Kasan yang Ada di Blitar

Kegigihan ini menunjukkan kecintaan beliau yang mendalam kepada jemaah dan semangatnya dalam mensyiarkan amalan ulama salaf salih.

Kepergian Yai Asrori merupakan kehilangan besar bagi para murid Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah Al Utsmaniyyah dan Jamaah Al Khidmah, yang menganggapnya sebagai "kiamat kecil".

Yai Asrori dimakamkan di masjid lama yang berada di kompleks Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah.  Menariknya, saat pembangunan makam, ditemukan sumber mata air tawar di sebelah timur pesarean beliau, meskipun lokasinya tidak jauh dari laut.

Penemuan ini mengingatkan pada kebiasaan beliau semasa hidup yang sering dimintai "air barokah" oleh murid-muridnya atau sering membuka tutup botol air mineral saat majelis.

Yai Asrori juga kerap merekomendasikan "air manaqib" atau "air khushushi" untuk yang sakit. Mata air tersebut kini dipugar agar para peziarah dapat merasakan kesegaran dan keberkahan air dari beliau, seolah-olah dia masih hidup. ****


Editor : Dharaka R. Perdana
#Al Ishaqi #Yai Asrori Kedinding Surabaya #al khidmad #Yai Asrori Al Ishaqi #Yai Asrori #Copler Community