TULUNGAGUNG – Setiap kali hujan deras turun berhari-hari dan sungai-sungai di Tulungagung mulai meluap, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul: potongan kayu dalam berbagai ukuran terseret arus.
Sebagian warga menganggapnya wajar, hasil dari pohon tumbang yang terpeleset tanah longsor. Namun sebagian lainnya curiga—jangan-jangan itu jejak penebangan liar di kawasan hulu yang selama ini dituding sebagai biang banjir.
Kecurigaan ini tidak berlebihan. Di beberapa kecamatan, terutama wilayah berbukit, laporan aktivitas pembalakan kerap terdengar meski belum tentu semuanya benar.
Karena itu, membedakan apakah kayu tersebut hasil ditebang atau tercabut alami menjadi penting untuk melihat akar persoalan secara jernih.
Baca Juga: Kenapa Pesisir Utara Jawa Sering Mengalami Banjir Rob? Ini Penjelasan tentang Penyebab Utamanya
Jejak Pertama: Melihat Ujung Kayu
Sejumlah relawan sering memulai pengecekan dari ujung kayu. Dalam situasi banjir, cara ini dinilai paling cepat dan akurat.
Jika ujung kayu terlihat rata, halus, seperti digunting rapi, hampir pasti kayu tersebut telah dipotong oleh alat. Kadang bekas gigi gergaji masih tampak.
Sebaliknya, kayu yang terseret banjir memiliki ujung tak beraturan—pecah, terkoyak, atau masih menyisakan akar.
Warna Potongan Mengungkap Banyak Hal
Perbedaan berikutnya bisa dilihat dari warna dan tekstur. Kayu hasil tebang biasanya berwarna cerah, bersih, dan permukaannya rata.
Sementara kayu yang tercabut alami berwarna lebih gelap, lembap, dan tidak rata karena tercabut bersama tanah atau akar.
Ciri-ciri ini sering menjadi petunjuk awal bagi petugas ketika mereka mendapati tumpukan kayu setelah banjir surut.
Kulit Kayu Bercerita
Kulit kayu pun menjadi indikator lain. Pada kayu hasil tebang, kulitnya masih rapi. Berbeda dengan kayu yang terseret air: kulitnya memar, terkelupas, bahkan sobek panjang akibat benturan arus.
Benturan dengan batu, akar, dan batang lain di sungai membuat kayu alami terlihat lebih “tersiksa”.
Dari Mana Kayu Itu Berasal?
Lokasi penemuan kayu juga memberikan gambaran. Kayu hasil tebang biasanya ditemukan di dekat permukiman, dekat jalur logging, atau muncul dalam jumlah besar dengan ukuran serupa.
Bahkan tak jarang warga menemukan banyak potongan dengan pola potong yang sama.
Sementara kayu alami cenderung bercampur dengan lumpur, ranting, tanah, hingga batu karena terbawa arus dari hutan liar atau area longsor.
Membaca Jejak Lingkungan di Hulu
Pencarian jawaban sering berlanjut ke wilayah hulu sungai. Jika ditemukan banyak pohon roboh dengan akar masih utuh, atau ada longsor kecil di tebing sungai, biasanya itu tanda tumbang alami akibat hujan ekstrem.
Namun jika ada bekas serbuk gergaji, jalur kendaraan, atau tanah yang tampak digarap, warga biasanya mulai waspada dan melapor ke aparat.
Mengapa Perbedaan Ini Penting?
Mengetahui asal kayu bukan sekadar urusan teknis. Jika kayu berasal dari illegal logging, maka banjir yang terjadi bisa menjadi alarm besar atas kerusakan lingkungan.
Namun jika penyebabnya murni faktor alam, langkah penanganan lebih fokus ke mitigasi: penguatan tebing, reboisasi, dan penataan daerah aliran sungai.
Bagi warga dan relawan lokal, kemampuan membaca tanda-tanda seperti ini dianggap penting untuk membantu investigasi awal sebelum aparat turun.
Banjir mungkin tak bisa sepenuhnya dicegah, tetapi memahami apa yang terbawa arus bisa membantu menjawab pertanyaan yang lebih besar: siapa sebenarnya yang merusak alam? ****
Editor : Dharaka R. Perdana