RADAR TULUNGAGUNG - Baru sebulan menjabat sebagai Kajari Tulungagung, Daniel De Rozari mulai mencuri perhatian publik.
Gaya komunikasinya yang hangat dan keterbukaannya terhadap media menjadi kesan pertama yang muncul.
Namun di balik itu, perjalanan panjang pria kelahiran Nusa Tenggara Timur ini menyimpan banyak cerita tentang “jam terbang” yang ia bawa sebelum akhirnya bertugas di Bumi Gayatri.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tulungagung, Daniel mengaku memperoleh sambutan yang sangat hangat.
“Ketika saya masuk Tulungagung, kami disambut baik oleh pemkab, Forkopimda, dan masyarakat. Kesan pertama sangat baik,” ujarnya.
Lahir dan besar di NTT, karier kejaksaan Daniel dimulai dari tanah kelahirannya sendiri. Tahun 2007, ia memulai tugas pertama di Pulau Rote.
Setelah itu ia dipindahtugaskan ke Kejari Manggarai dan kemudian dipercaya menjadi Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) di Kejari Manggarai Barat, Labuan Bajo.
Perjalanannya berlanjut ke berbagai daerah berbeda karakter. Dia pernah berdinas di Gunungkidul sebagai Kasi Pidum, kemudian Depok Jawa Barat sebagai Kasi Pidsus. Dari Depok ia naik ke posisi lebih strategis,
“Saya jadi Kasi Penyidikan pada Asisten Pidsus di Kejati Jawa Barat, lalu menjadi koordinator di Jawa Barat,” kenangnya.
Karier puncaknya sebelum ke Tulungagung datang pada Oktober 2023 saat ia dipercaya menjadi Kajari Sambas, Kalimantan Barat.
Kurang dari dua tahun kemudian, ia kembali mendapat amanah baru, memimpin Kejari Tulungagung sebagai kajari kedua dalam kariernya.
Meski baru sebulan tinggal di Tulungagung, Daniel langsung menemukan kesan positif. Dia menilai, kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini cukup makmur.
“Indeks pembangunan manusianya tinggi, datanya bagus. Dan yang paling cocok, kulinernya. Enak dan murah,” ujarnya sambil tersenyum.
Sikap ramah masyarakat dan suasana kota yang tenang menjadi nilai tambah yang membuatnya cepat beradaptasi. “Sangat kerasan. Satu bulan ini sangat kerasan,” tegasnya.
Masuk pada ranah penegakan hukum, Daniel mengakui bahwa dinamika perkara di Tulungagung cukup beragam, terutama pada ranah pidana umum.
“Dinamikanya banyak dan beraneka ragam, tetapi memang masih didominasi narkoba. Itu PR kita bersama untuk mencegah,” katanya.
Ia juga menyadari jumlah jaksa yang ada saat ini tidak sebanding dengan banyaknya perkara. “Jaksanya agak kurang dibanding jumlah perkara,” ujarnya.
Untuk perkara korupsi, Daniel memilih berhati-hati. Ia baru satu bulan bertugas dan sedang mempelajari kembali seluruh berkas perkara.
“Kasus korupsi ada, dan perkara yang sedang berjalan pasti akan berjalan sampai selesai. Berikan kepercayaan kepada teman-teman di Kejari Tulungagung,” katanya.
Meski begitu, ia enggan memberi penilaian apakah tingkat kasus korupsi di Tulungagung tergolong tinggi atau tidak. “Saya belum bisa menyimpulkan,” jawabnya singkat.
Dalam visi ke depan, Daniel menegaskan bahwa kehadiran kejaksaan harus memberikan nilai bagi pembangunan daerah.
“Semoga kehadiran kami dapat mendukung pembangunan di Tulungagung. Kami siap bersinergi dengan pemerintah daerah, terutama dalam upaya pencegahan korupsi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas daerah, khususnya terkait ancaman narkoba. “Harapannya Tulungagung semakin aman dari perkara pidana umum, terutama narkoba. PR kita bersama menciptakan Tulungagung yang kondusif,” tandasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana