RADAR TULUNGAGUNG - Atlet triatlon Tulungagung, Binta Erlen Salsabela, turun mewakili Indonesia di ajang SEA Games 2025 di Thailand.
Hasilnya, satu medali emas dan satu medali perak dia raih di multievent terakbar tingkat Asia Tenggara itu.
Tapi, sebelum sampai di titik ini, dia harus molalui pola latihan yang serba terbatas di kampung halamannya.
Meski meraih medali emas di nomor women's aquathlon team relay dan medali perak di nomor women's triatlon team relay, langkah Binta menuju podium tertinggi di Asia Tenggara tidak bisa dibilang gampang.
Atlet 21 tahun ini harus melewati serangkaian seleksi ketat di tingkat nasional. Mulai dari kejurnas hingga trial yang menguras fisik dan mental untuk menentukan siapa yang layak mengisi slot di setiap nomor perlombaan.
Keberhasilannya menembus tim nasional pun membawa tanggung jawab besar untuk mematahkan dominasi negara tetangga.
Mahasiswi semester tiga Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini mengungkapkan bahwa lawan terberatnya adalah atlet dari Filipina.
"Kemarin ada persaingan ketat sama Filipina, soalnya beberapa kali SEA Games menjadi juara umum. Alhamdulillah dan target ini, target Indonesia menjadi juara umum pada cabor triatlon bisa tercapai," kenangnya.
Sebelum bertolak ke Thailand, Binta dan kolega harus menjalani pemusatan latihan selama tiga bulan di Bangka Belitung.
Durasi yang cukup panjang itu sengaja diambil demi menjinakkan cuaca panas yang identik dengan iklim di lokasi perlombaan.
Tantangan ternyata tidak hanya datang dari lawan, tetapi juga dari kondisi fisiknya sendiri. Beberapa saat menjelang keberangkatan, dia sempat dihantui cedera yang menyerang lutut kirinya, meski akhirnya ia mampu mengatasinya tepat waktu.
"Kemarin sebelum berangkat lomba sempat kena sakit kaki di lutut kiri. Tapi alhamdulillah lebih baik, lancar. Waktu hari-H lancar, diberikan kemudahan," imbuhnya.
Meski kini berstatus sebagai atlet internasional yang sukses menyumbang medali emas dan perak, Binta tetaplah sosok yang membumi.
Dia tak memungkiri bahwa selama menetap di Tulungagung harus memutar otak untuk tetap berlatih secara maksimal.
Minimnya fasilitas olahraga yang mumpuni di daerah asalnya membuat ia harus rela berbagi tempat dengan masyarakat umum saat menjalani program latihan harian.
"Ada sarananya, tapi ya berbagi sama umum juga. Saya berharap fasilitasnya dibantu supaya lebih banyak buat nge-gym," sebutnya.
Kondisi infrastruktur memang menjadi ganjalan klasik bagi para atlet lokal yang ingin berkembang. Bagi seorang atlet triatlon yang mengandalkan tiga disiplin ilmu olahraga sekaligus, kualitas aspal dan lintasan lari adalah segalanya.
Dia juga berharap adanya pembinaan yang lebih terstruktur dan didukung oleh sarana yang layak bagi para atlet yang dipersiapkan untuk level provinsi maupun nasional.
"Yang perlu diperbaiki, saya harap dibantu dengan alat-alat yang difasilitasi, pembinaan bagi atlet yang dipersiapkan untuk mewakili Tulungagung, bahkan provinsi, dan seterusnya. Untuk lari, lapangan lari yang standar nasional. Untuk bersepeda, perbaikan kualitas aspal di sebagian daerah," tandasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana