Kidung Bakja Weda dalam Primbon Jawa: Doa Leluhur Penangkal Gangguan Gaib Bayi yang Jarang Diketahui

Ayu Dhea Cheryl • Dipublikasikan Jumat, 23 Januari 2026 | 02:28 WIB
prosesi penguburan ari-ari bayi dalam tradisi Jawa yang diiringi doa Kidung Bakja Weda sebagai simbol perlindungan dan keselamatan.
prosesi penguburan ari-ari bayi dalam tradisi Jawa yang diiringi doa Kidung Bakja Weda sebagai simbol perlindungan dan keselamatan.

Kidung Bakja Weda merupakan salah satu kidung tua dalam tradisi Jawa yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai doa perlindungan bayi dari gangguan energi negatif.

Kidung ini kerap dikaitkan dengan kepercayaan tentang Kakang Kawah dan Adi Ari-ari, yakni saudara gaib bayi yang diyakini lahir bersamaan secara spiritual.

Dalam penjelasan yang disampaikan melalui sebuah video YouTube kanal budaya, Kidung Bakja Weda dijabarkan sebagai kidung yang bersumber dari primbon Jawa.

Fungsinya bukan sekadar tembang atau mantra, melainkan rangkaian doa simbolik yang berkaitan erat dengan prosesi penanganan ari-ari bayi setelah kelahiran.

Baca juga:Makna Kidung Bakja Weda dalam Tradisi Jawa

Dalam kepercayaan Jawa, ari-ari atau plasenta tidak dipandang sebagai limbah medis semata. Ari-ari dianggap sebagai bagian dari “saudara” bayi yang memiliki ikatan batin kuat.

Karena itu, tata cara penguburan atau pelarungan ari-ari harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak membawa pengaruh buruk di kemudian hari.

Kidung Bakja Weda hadir sebagai doa pengiring dalam prosesi tersebut. Tujuannya adalah memohon agar Kakang Kawah dan Adi Ari-ari tidak mengganggu bayi, yang sering dipercaya menjadi penyebab bayi rewel, menangis tanpa sebab, mudah terkejut, atau sulit tidur di malam hari.

Baca juga:Tata Cara dan Simbol yang Digunakan

Dalam penjelasan tersebut, disebutkan bahwa setiap daerah memiliki cara berbeda dalam memperlakukan ari-ari. Ada yang dikubur di halaman rumah, digantung di pohon, hingga dilarung ke sungai atau laut.

Meski berbeda cara, tujuannya sama: agar anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang selamat, berbakti pada orang tua, serta berguna bagi nusa dan bangsa.

Beberapa sarana simbolik yang digunakan antara lain kendi atau periuk sebagai wadah ari-ari, kain putih, minyak wangi, beras merah, uang koin, serta tulisan huruf Arab hijaiyah atau aksara Jawa.

Semua perlengkapan ini dimaknai sebagai doa agar anak kelak bisa menulis, mengaji, dan memiliki kecerdasan lahir batin.

Baca juga:Isi Terjemahan dan Pesan Spiritual

Terjemahan bebas Kidung Bakja Weda berisi permohonan agar segala rintangan disingkirkan, langkah hidup bayi diberi keselamatan, serta perlindungan dari leluhur dan penjaga gaib.

Dalam salah satu bagian, disebutkan doa agar bayi tenang saat menangis, dengan cara digendong sambil diarahkan menghadap lokasi ari-ari ditanam.

Namun demikian, pembuat video menegaskan bahwa terjemahan bahasa Indonesia tidak sepenuhnya mampu menangkap rasa dan makna mendalam dari bahasa Jawa kuno. Karena itu, masyarakat diimbau tidak menafsirkan kidung ini secara serampangan.

Baca juga:Bukan Ajaran Agama, Melainkan Warisan Budaya

Penting dicatat, Kidung Bakja Weda bukan ajaran agama. Kidung ini bersifat budaya dan simbolik, digunakan sebagai sugesti doa keselamatan.

Praktik ini lahir dari kearifan lokal masyarakat Jawa tempo dulu dalam menjaga keseimbangan lahir dan batin seorang anak sejak dilahirkan.

Tujuan utamanya adalah menjauhkan gangguan gaib, mencegah penyakit, serta memohon ketentraman dan keberuntungan hidup. Semua dilakukan dengan niat doa, bukan pemujaan.

Baca juga:Upaya Melestarikan Budaya Nusantara

Di tengah arus modernisasi dan teknologi yang kian pesat, tradisi seperti Kidung Bakja Weda perlahan mulai ditinggalkan.

Melalui konten edukatif ini, sang kreator berharap masyarakat kembali mengenal dan menghargai warisan leluhur.

Menurutnya, melupakan adat dan budaya sama artinya dengan kehilangan jati diri. Tradisi bukan untuk ditelan mentah-mentah, melainkan dipahami sebagai bagian dari sejarah dan identitas bangsa yang patut dilestarikan.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
Sumber : DIOLAH
Primbon Jawa Kidung wakja beda Tradisi Jawa Kakang kawah Adi Ari ari ari bayi