Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cuaca Ekstrem Hambat Produksi Genting di Desa Notorejo Gondang Tulungagung, Perajin Terpaksa Hentikan Produksi

Dharaka R. Perdana • Selasa, 3 Februari 2026 | 12:14 WIB
Perajin genting di Desa Notorejo, Gondang, Tulungagung, harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan.(ABDUL HAMID/RADAR TULUNGAGUNG)
Perajin genting di Desa Notorejo, Gondang, Tulungagung, harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan.(ABDUL HAMID/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Cuaca ekstrem memberi tantangan tersendiri bagi perajin genting di Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung.

Alasannya, mereka masih mengandalkan matahari untuk pengeringan tradisional. Dengan begitu, mereka harus menahan diri agar tidak terlalu merugi.

Derai hujan yang turun hampir setiap hari dalam sepekan terakhir bukan hanya membasahi pekarangan warga Desa Notorejo, Kecamatan Gondang.

Bagi para perajin genting tradisional, hujan juga menggenangi harapan yang biasanya mengering bersama tanah liat di bawah terik matahari.

Di desa yang sejak lama dikenal sebagai sentra genting itu, cuaca ekstrem menjadi musuh utama. Proses produksi yang sepenuhnya bergantung pada panas matahari kini tersendat.

Genting-genting yang telah dicetak hanya bisa teronggok di gudang, menunggu cuaca bersahabat.

Sunaryo, 56, salah satu perajin genting di Desa Notorejo, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.

Lelaki yang telah menekuni usaha genting sejak 2009 itu biasanya mampu memproduksi sekitar 300 genting per hari saat cuaca cerah. Namun kini rutinitas itu terpaksa berhenti.

“Sudah tiga hari ini sama sekali tidak bisa produksi,” ujarnya lirih, Selasa (31/1).

Bagi Sunaryo, tahap pengeringan adalah nyawa dari sebuah genting. Tanpa kering sempurna, genting tak mungkin masuk ke tungku pembakaran. Memaksakan proses hanya akan berujung kerugian.

“Kalau belum kering tapi dibakar, pasti pecah atau berubah bentuk. Jadi ya lebih baik berhenti dulu daripada rugi,” katanya.

Genting-genting buatannya selama ini tak hanya memenuhi kebutuhan warga Tulungagung, tetapi juga dikirim ke Kediri dan Malang.

Namun, hujan yang tak menentu membuat perhitungan produksi ikut berantakan.

“Kalau cuaca cerah, enak. Produksi bisa diperkirakan, pelanggan juga tidak kecewa. Kalau seperti ini, semuanya meleset,” keluhnya.

Cerita serupa juga dirasakan Eko Destiawan, 36. Di gudangnya, genting mentah hasil cetakan menumpuk, belum bisa dipindahkan ke tahap berikutnya.

“Masalahnya itu kalau musim hujan, genting keringnya lama. Akhirnya numpuk di gudang dan tidak bisa diapakan,” tutur Eko.

Dia menjelaskan, genting mentah sangat rentan. Sedikit saja dipindahkan sebelum waktunya, bentuknya bisa berubah dan kualitasnya menurun.

“Kalau dipindah pasti berubah bentuk. Kalau gudang sudah penuh, ya otomatis tidak bisa produksi lagi,” imbuhnya.

Kondisi ini membuat sebagian perajin memilih berhenti sementara sembari menunggu matahari kembali muncul.

Padahal, permintaan genting di pasaran masih relatif stabil seiring pembangunan rumah yang terus berjalan.

Di tengah keterbatasan itu, para perajin hanya bisa berharap cuaca segera membaik.

Matahari bagi mereka bukan sekadar sumber cahaya, melainkan penentu hidup-matinya usaha.

“Harapannya cuaca bisa stabil lagi biar kami bisa produksi seperti biasa,” pungkas Eko.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#produksi #cuaca ekstrem #perajin genting