Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bertahan Sejak 1979, Kuliner Tahu Telur Lontong Legendaris di Tulungagung Terus Hidup hingga Generasi Ketiga

Dharaka R. Perdana • Jumat, 13 Februari 2026 | 09:48 WIB
Oky Ocktaviani menceritakan perjuangannya menjaga eksistensi bisnis kuliner warisan keluarga.
Oky Ocktaviani menceritakan perjuangannya menjaga eksistensi bisnis kuliner warisan keluarga.

RADAR TULUNGAGUNG - Makanan tradisional saat ini masih memiliki penggemar tersendiri.

Bahkan, beberapa di antaranya melegenda di Tulungagung.

Salah satunya Tahu Telur Lontong Bu Suyut yang saat ini dipegang Oky Ocktaviani, yang harus menghadapi perkembangan zaman.

Aroma bumbu kecap kacang yang khas itu sudah menguar sejak 1979.

Warung sederhana milik seorang nenek yang terus bertahan menembus zaman.

Kini, di tangan generasi ketiga, Tahu Telur Lontong Bu Suyut tak sekadar bertahan, tapi berkembang.

“Alhamdulillah, bangga bisa meneruskan usaha dari nenek,” ujar Oky Ocktaviani, penerus generasi ketiga warung Tahu Telur Lontong Bu Suyut.

Nama “Bu Suyut” sendiri lahir dari kebiasaan pelanggan.

Suyut adalah nama ayah Oky.

Sang ibu, yang dulu melanjutkan usaha keluarga, enggan memakai namanya sendiri.

Pelanggan pun terbiasa memanggilnya Bu Suyut. Sejak itu, nama tersebut melekat hingga kini.

Setelah sang ibu meninggal tiga tahun lalu, Oky mantap mengambil alih.

Sempat bekerja dan menetap di Malang, dia memilih pulang ke Tulungagung dan fokus mengembangkan usaha keluarga.

Awalnya berjualan offline dari rumah dengan mengandalkan aplikasi pesan-antar, hasilnya menjanjikan. Dari situlah keyakinan tumbuh.

“Daripada kerja ikut orang, lebih senang jadi bos untuk usaha sendiri. Capek iya, tapi puas,” katanya.

Meski berkembang, Oky memastikan rasa tetap sama. Bumbu kecap kacang yang diracik sendiri menjadi ciri khas.

Lontongnya pun dimasak tradisional, direbus hingga 4 jam agar tetap lembut tanpa bahan tambahan.

Di tengah persaingan kuliner yang kian ketat, inovasi jadi kunci.

Oky menambahkan menu baru, tahu telur tek, serta menggencarkan promosi pelajar dan diskon beli lima gratis satu.

Media sosial seperti Instagram dan TikTok juga dimaksimalkan untuk menjangkau generasi muda.

“Kalau dulu hanya dari mulut ke mulut, sekarang harus ikut perkembangan zaman,” ujarnya.

Omzet kotor per hari bisa mencapai Rp 4–5 juta. Namun, bagi Oky, pencapaian terbesar bukan sekadar angka, melainkan keberlanjutan usaha yang telah melewati tiga generasi.

Dia pun bertekad membuka cabang di luar kota dan memperluas lapangan kerja.

Pesannya sederhana untuk anak muda: jangan mudah menyerah.

“Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Kalau mau berproses dan berinovasi, pasti ada jalannya,” tuturnya. (*/c1/rka)

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kuliner #tahu telur #legendaris #Warisan Keluarga