Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perjuangan Alfin Saifullah, Mahasiswa Perantau yang Jadi Takmir Musala: Mengatur Waktu antara Kuliah, Kerja, dan Aktivitas Sosial

Rahiiq Al Bachri • Kamis, 26 Februari 2026 | 12:39 WIB

 

Di sela menyusun skripsi dan bekerja, Alfin Saifullah, setia merawat musala hingga dipercaya menjadi ketua takmir.
Di sela menyusun skripsi dan bekerja, Alfin Saifullah, setia merawat musala hingga dipercaya menjadi ketua takmir.

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap perantau tentu memiliki kisah menarik yang bisa disimak. Salah satunya Alfin Saifullah, mahasiswa UIN SATU asal Ngawi. Di sela tugas akhir, dia setia merawat sebuah musala hingga diangkat menjadi takmir.

Fajar belum sepenuhnya merekah ketika suara azan Subuh menggema dari Musala Al-Ikhlas, Dusun Srigading, Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung.

Di balik pengeras suara itu, ada sosok Alfin Saifullah. Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung asal Ngawi tersebut memulai harinya lebih awal dari kebanyakan orang.

Bagi Alfin, azan bukan sekadar panggilan ibadah, melainkan penanda dimulainya perjuangan hidup di tanah perantauan.

Keputusannya menjadi takmir musala berangkat dari alasan sederhana namun realistis: bertahan hidup sebagai mahasiswa rantau. Tawaran tinggal di musala tanpa biaya menjadi solusi untuk menekan pengeluaran.

“Awalnya diajak teman. Ada faktor ekonomi juga, karena tidak perlu mengeluarkan biaya lebih. Tapi sekaligus ingin mengabdikan diri,” tuturnya, kemarin (25/2).

Namun setibanya di Musala Al-Ikhlas, niatnya berkembang. Dia melihat area sekitar musala yang notabene bekas kompleks pesantren kurang terawat. Dari situlah kepeduliannya tumbuh.

Sedikit demi sedikit, dia membersihkan halaman, merapikan sudut-sudut bangunan, hingga menghidupkan kembali aktivitas ibadah. Upayanya tak sia-sia. Warga mulai melihat kesungguhan pemuda itu. Kepercayaan pun datang. Alfin diamanahi menjadi ketua takmir.

“Sangat disayangkan kalau bekas pesantren ini tidak dirawat. Harapan saya bisa kembali bermanfaat untuk mahasiswa atau warga sekitar,” ujarnya.

Tanggung jawab itu ia jalani di tengah jadwal yang padat nyaris tanpa jeda. Usai azan dan tadarus Subuh, pukul 05.30 WIB, dia bergegas ke SDN 1 Ringinpitu untuk bekerja sebagai penjaga sekaligus petugas kebersihan hingga pukul 09.00 WIB.

Setelahnya, dia melanjutkan pekerjaan di sebuah gerai makanan cepat saji sampai sore hari. Menjelang Magrib, dia kembali ke musala, membersihkan ruangan, lalu bersiap menjadi muazin Magrib dan Isya.

Malam harinya diisi dengan aktivitas organisasi dan menyusun skripsi sebagai mahasiswa semester akhir.

Rutinitas tersebut tentu menguras tenaga dan mental. Alfin mengakui sempat berada di titik jenuh.

“Di setengah tahun pertama, pernah merasa sangat lelah dan ingin menyerah,” katanya jujur.

Namun, dia memilih bertahan. Baginya, setiap lelah adalah bagian dari proses pendewasaan diri. Kini, Musala Al-Ikhlas terasa lebih hidup. Ada tadarus Subuh rutin, tadarus Tarawih saat Ramadan, hingga agenda ro’an mingguan bersama warga.

Dukungan masyarakat menjadi energi tambahan baginya. Musala bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan ruang tumbuh yang mempertemukannya dengan banyak pelajaran kehidupan.

Di balik kesibukan dan tanggung jawabnya, Alfin menyimpan harapan sederhana: menyelesaikan kuliah tepat waktu dan meninggalkan jejak kebaikan yang berkelanjutan.

“Sebagai mahasiswa perantau, ini pilihan yang harus saya jalani demi bertahan sampai lulus. Semoga kegiatan rutin di musala tetap berjalan ke depan,” pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#UIN SATU #takmir masjid #mahasiswa #musala