RADAR TULUNGAGUNG - Kelvin Ferdinan Rhomadhona tak silau untuk bekerja kantoran. Bahkan, dia terpacu untuk mengembangkan budi daya gurami.
Nyatanya, dia cukup sukses meski usianya masih muda.
Sektor perikanan di Tulungagung kian bergairah dengan hadirnya figur-figur muda yang visioner. Salah satunya adalah Kelvin Ferdinan Rhomadhona, warga Desa Sambijajar, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Mengawali langkah sejak lulus SMA pada 2019, Kelvin sukses mentransformasi hobi menjadi unit bisnis budi daya gurame yang tangguh terhadap fluktuasi harga pasar.
Keputusan Kelvin terjun ke dunia perikanan bermula dari keinginan untuk mandiri secara finansial. Sempat menjajaki budi daya lele karena perputarannya yang cepat, dia akhirnya melirik gurame karena waktu pengelolaannya yang lebih fleksibel.
"Layaknya lulusan SMA, saya kepikiran mencoba usaha agar tidak memberatkan orang tua. Ternyata budi daya gurame secara waktu lebih fleksibel dan alhamdulillah bisa berjalan konsisten sampai sekarang," ujar Kelvin saat berbagi kisahnya.
Namun, jalan menuju sukses tidak selalu mulus. Kelvin sempat mencicipi pahitnya kerugian besar saat satu kolam ikan siap panen miliknya mati tak bersisa.
Kejadian itu menjadi titik balik baginya untuk mendalami manajemen air secara total.
Menurutnya, kesehatan ikan sepenuhnya bergantung pada kualitas air yang bersih dan segar melalui pengaliran rutin.
"Urusan budi daya ikan itu kuncinya di air. Ikan sehat atau tidak itu tergantung lingkungannya. Selain itu, pemberian pakan sentrat harus proporsional sesuai ukuran. Jangan berlebihan, karena sisa pakan yang tidak termakan justru akan menjadi racun bagi ikan," jelas pengusaha muda ini.
Menariknya, Kelvin memiliki strategi khusus saat harga gurame di pasar sedang lesu. Alih-alih buru-buru memanen, dia memilih menahan stok ikan di kolam hingga harga kembali normal.
Untuk menyiasati biaya operasional selama masa tunggu, dia melakukan inovasi pakan alternatif.
Dia memanfaatkan sumber daya alam di sekitar kolam seperti daun jati, pisang, talas, hingga singkong yang dirajang kecil.
"Cara ini membantu meningkatkan daya tahan tubuh ikan, mempercepat pertumbuhan, sekaligus menekan biaya pakan secara signifikan. Bahan-bahannya pun mudah didapat, jadi lebih efisien," imbuhnya.
Kelvin melihat peluang ekosistem perikanan di Tulungagung masih sangat terbuka lebar bagi anak muda, asalkan dikelola dengan cara modern.
Dia mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pembudi daya, tetapi juga merambah ke sektor hilir seperti distribusi melalui marketplace hingga wisata edukasi.
"Jangan ragu untuk memulai, tapi harus siap belajar dan peduli. Di perikanan, kita mengelola makhluk hidup, jadi yang tumbuh bukan cuma ikannya, tapi juga mental dan tanggung jawab kita sebagai pengusaha," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri