Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nyai Muklina Sohib, Denanyar: Literasi Pesantren, Cara Santri agar Up to Date

Anggi Septian A.P. • Selasa, 14 Juli 2026 | 18:29 WIB
Nyai Muklina Sohib berharap Radar Tulungagung menjalin kerja sama dengan pesantren untuk menghidupkan budaya membaca dan menulis santri.(JEJE/RADAR TULUNGAGUNG)
Nyai Muklina Sohib berharap Radar Tulungagung menjalin kerja sama dengan pesantren untuk menghidupkan budaya membaca dan menulis santri.(JEJE/RADAR TULUNGAGUNG)

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – Di tengah derasnya arus digital, menjaga budaya membaca dan menulis di kalangan santri menjadi tantangan tersendiri.

Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, Dra. Nyai Hj. Muklina Sohib, berharap media massa dapat mengambil peran lebih besar untuk membangun kembali tradisi literasi di lingkungan pesantren.

Harapan tersebut disampaikan Nyai Muklina saat menerima kunjungan manajemen Radar Tulungagung di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Selasa (14/7).

Menurut cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Bisri Syansuri itu, kolaborasi antara pesantren dan media menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kemampuan menulis generasi muda.

"Peran media di pesantren sebetulnya bisa dimaksimalkan dengan memberikan materi-materi tentang menulis dan membaca. Hari ini kita harus mengakui bahwa budaya membaca memang menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dulu," ujarnya.

Nyai Muklina mengenang, ketika dirinya masih aktif di lingkungan pesantren, para santri memiliki akses terhadap majalah dinding (mading) dan surat kabar yang menjadi sumber informasi sekaligus sarana belajar.

"Dulu di Pondok Pesantren Denanyar ada mading dan ada koran Jawa Pos. Santri membaca, berdiskusi, lalu menulis. Itu menjadi bagian dari keseharian," kenangnya.

Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Di sisi lain, aturan pesantren yang tidak memperbolehkan santri membawa telepon genggam membuat akses terhadap informasi dari luar menjadi lebih terbatas.

Meski demikian, menurut Nyai Muklina, kebijakan tersebut tetap penting demi menjaga fokus santri dalam belajar dan membentuk karakter.

Karena itu, ia memandang kehadiran media massa justru bisa menjadi jembatan agar para santri tetap memperoleh informasi yang berkualitas tanpa harus bergantung pada media sosial.

"Nanti mungkin bisa kita adakan kerja sama dengan Radar supaya anak-anak ini kegemarannya membaca tidak berkurang hanya karena tidak memegang HP," katanya.

Menurut Nyai Muklina, perkembangan teknologi informasi memang tidak dapat dihindari.

Telepon pintar dan media sosial memiliki banyak manfaat, tetapi juga menyimpan tantangan yang harus disikapi secara bijaksana.

"HP itu banyak nilai positifnya, tetapi juga banyak nilai negatifnya. Karena itu kita harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi dengan cara yang benar," ungkapnya.

Ia berharap media lokal seperti Radar Tulungagung mampu menghadirkan berita-berita yang tidak sekadar cepat, tetapi juga edukatif, inspiratif, dan memberi manfaat bagi pembacanya, khususnya kalangan pelajar dan santri.

"Kami punya harapan kepada Radar Tulungagung agar bisa memberikan berita-berita yang menarik dan membawa manfaat untuk generasi muda. Bagaimana mereka tetap gemar membaca dan menulis sehingga pengetahuannya terus bertambah," tuturnya.

Lebih jauh, Nyai Muklina menilai kemampuan membaca dan menulis merupakan fondasi penting bagi lahirnya generasi yang kritis dan berwawasan luas.

Di pesantren, tradisi literasi sejatinya telah tumbuh sejak lama melalui kajian kitab, diskusi, hingga budaya menulis yang menjadi bagian dari proses pendidikan.

Karena itu, kolaborasi antara pesantren dan media dinilai dapat menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga semangat literasi di tengah perubahan zaman.

Bagi Nyai Muklina, media bukan sekadar penyampai informasi. Lebih dari itu, media memiliki tanggung jawab mencerdaskan masyarakat melalui sajian berita yang berkualitas, mendidik, dan mampu menginspirasi generasi muda agar terus belajar, membaca, serta menulis.(ai/ang)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Nyai Muklina Sohib #Pondok Pesantren Denanyar #Budaya Membaca Santri #Literasi Pesantren #radar tulungagung