Radar Tulungagung - Di tengah gempuran standar hidup ‘sempurna’ ala media sosial, muncul sebuah fenomena menarik yang menjadi perbincangan hangat di kalangan perempuan muda: Marriage Is Scary sebuah ungkapan jujur yang menggambarkan ketakutan akan pernikahan, bukan lagi sekadar candaan, tetapi keresahan nyata.
Fenomena ini mencuat di platform X (dulu Twitter), menjadi topik viral karena banyak perempuan secara terbuka membagikan ketakutan mereka tentang realitas hidup setelah menikah.
Sebuah pergeseran cara pandang yang patut dicermati, di mana pernikahan kini bukan lagi dianggap sebagai “tujuan akhir” perempuan, melainkan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat matang bahkan ditakuti.
Ketakutan perempuan terhadap pernikahan bukan hadir tanpa alasan.
Banyak di antara mereka merasa pernikahan sering kali menjadi jebakan peran gender yang timpang.
Ekspektasi terhadap perempuan untuk menjadi istri sempurna, ibu ideal, sekaligus pengelola rumah tangga tanpa celah masih begitu kuat melekat dalam budaya masyarakat Indonesia.
Fenomena Marriage Is Scary seolah menjadi representasi kegelisahan perempuan masa kini terhadap institusi pernikahan yang belum sepenuhnya adil bagi mereka.
Perempuan modern bukan takut menikah karena takut komitmen, melainkan karena takut kehilangan kebebasan, kesempatan, dan dirinya sendiri.
Perempuan berhak memilih jalan hidupnya sendiri menikah atau tidak menikah tanpa perlu tunduk pada standar kuno atau ekspektasi media sosial yang tidak realistis.
Karena pada akhirnya, menikah itu bukan perlombaan, bukan pula tentang mengejar gengsi.
Tapi tentang kesiapan, keseimbangan peran, dan keberanian menjadi diri sendiri dalam ikatan yang sehat dan setara.