Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Di Balik Tren Self-Healing: Liburan untuk Hati atau Demi Konten Sosmed? Ini Fakta Sebenarnya yang Harus Kamu Ketahui

Shofia Indana Zulfa • Jumat, 5 September 2025 | 16:25 WIB

Momen refleksi diri saat menikmati alam, tren self-healing yang ramai dibagikan di media sosial. (pixabay.com)
Momen refleksi diri saat menikmati alam, tren self-healing yang ramai dibagikan di media sosial. (pixabay.com)

RADAR TULUNGAGUNG - Di era media sosial seperti sekarang, istilah healing jadi salah satu kata yang sering berseliweran di lini masa.

Siapa sih sekarang yang tidak pernah dengar istilah healing? Kata ini rasanya sudah jadi mantra sakti tiap kali kepala lagi penuh.

Awalnya, healing itu benar-benar tentang proses penyembuhan diri, semacam me time buat mengobati stres dan mengembalikan energi positif. Tapi di era digital seperti sekarang, makna healing jadi sering bergeser.

Baca Juga: Healing Murah Meriah ala Tulungagung, Jalan Sore di Pematang Sawah yang Bikin Hati Adem

Banyak orang menyebutnya sebagai bentuk penyembuhan diri, cara untuk memulihkan emosi dan mental setelah lelah dengan rutinitas.

Namun, belakangan maknanya semakin meluas hingga jadi tren yang melekat di gaya hidup anak muda.

Fenomena ini makin terlihat saat media sosial dipenuhi foto dan video liburan bertagar self-healing.

Mulai dari perjalanan singkat ke pantai, ngopi di kafe hidden gem, hingga solo trip ke luar kota, semua dibungkus dalam narasi penyembuhan diri.

Netizen pun sering dibuat penasaran, apakah benar aktivitas ini murni untuk menenangkan hati, atau sekadar mengikuti tren agar terlihat aesthetic di media sosial?

Bukan tanpa alasan, tren ini memang kerap memunculkan paradoks: niat awalnya untuk rehat dari penat, tapi ujung-ujungnya justru fokus pada content planning.

Baca Juga: Self Healing atau Self Escaping? Ketika Healing Jadi Alasan Lari dari Masalah

Banyak yang akhirnya pulang dengan memori penuh foto dan video, tapi pertanyaan soal apakah hatinya ikut full battery masih menggantung.

Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa bagi sebagian orang, memotret momen bahagia juga bisa jadi bentuk terapi tersendiri.

Aktivitas membagikan cerita di media sosial memberi rasa koneksi dan validasi dari orang lain.

Namun, ketika fenomena self-healing lebih sering diukur dari seberapa like dan view yang didapat, makna penyembuhan diri itu sendiri bisa jadi semakin kabur.

Pada akhirnya, self-healing seharusnya kembali ke esensi utamanya: proses menyembuhkan diri, bukan sekadar memproduksi konten.

Baca Juga: Healing Dijamin Murah Meriah, Ini Segudang Manfaat Meditasi, Rugi Besar Kalau Belum Tahu!

Entah itu lewat perjalanan sunyi di alam, berkumpul dengan orang terdekat, atau bahkan hanya diam di rumah dengan buku favorit, yang terpenting adalah bagaimana aktivitas tersebut benar-benar menghadirkan ketenangan batin, bukan sekadar keindahan di layar kaca. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#me time #Energi positif #Self Healing #media sosial