Rasa penasaran soal kepribadian bisa berubah bukan hal baru. Sejak lama, topik ini menjadi salah satu pertanyaan terbesar dalam dunia psikologi. Kepribadian dianggap sesuatu yang melekat kuat pada diri manusia, sehingga wajar jika banyak orang ingin tahu apakah sifat dasar tersebut masih bisa dimodifikasi seiring waktu.
Berbagai penelitian modern mencoba menjawab apakah kepribadian bisa berubah atau sebenarnya cenderung menetap. Jawabannya ternyata tidak sesederhana hitam dan putih. Kepribadian memang relatif stabil, tetapi bukan berarti sepenuhnya kaku dan tak bisa berkembang.
Apa Itu Kepribadian?
Secara umum, kepribadian dapat dipahami sebagai pola berpikir, emosi, dan perilaku yang membedakan satu individu dengan individu lainnya. Pola ini memengaruhi cara seseorang merespons situasi, mengambil keputusan, hingga berinteraksi dengan lingkungan sosial.
Dalam psikologi, terdapat berbagai pendekatan untuk memahami kepribadian, mulai dari psikoanalisis, behavioristik, humanistik, hingga biologis. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, pendekatan trait atau sifat kepribadian menjadi yang paling banyak digunakan dalam riset ilmiah.
Pendekatan Trait dan Big Five Personality
Pendekatan trait memandang kepribadian sebagai kumpulan karakteristik dasar yang relatif konsisten. Salah satu model paling populer adalah Big Five Personality atau OCEAN, yang mencakup neurotisisme, ekstraversi, keterbukaan terhadap pengalaman, keramahan, dan kehati-hatian.
Setiap individu memiliki kelima trait tersebut, tetapi dengan tingkat yang berbeda-beda. Misalnya, seseorang dengan tingkat neurotisisme tinggi cenderung lebih mudah cemas dan sensitif terhadap tekanan dibandingkan mereka yang rendah pada trait tersebut.
Hasil Riset: Stabil tapi Bisa Berubah
Sebuah penelitian longitudinal yang dipublikasikan pada 2019 menelusuri perkembangan kepribadian partisipan selama 50 tahun, sejak usia remaja hingga lanjut usia. Hasilnya menunjukkan bahwa trait kepribadian cenderung stabil dalam jangka panjang.
Namun, stabil bukan berarti stagnan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, kepribadian seseorang cenderung semakin matang. Artinya, perubahan tetap terjadi, meski tidak drastis dan berlangsung secara perlahan.
Peneliti lain juga menemukan bahwa tingkat kestabilan kepribadian sangat bergantung pada rentang waktu pengamatan. Perubahan akan lebih terasa jika membandingkan kepribadian seseorang dalam jarak puluhan tahun, dibandingkan hanya beberapa bulan atau tahun.
Faktor yang Memengaruhi Perubahan Kepribadian
Salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan kepribadian adalah lingkungan sosial. Penelitian pada 2005 menunjukkan bahwa peran sosial yang dijalani seseorang dapat membentuk arah perkembangan kepribadiannya.
Sebagai contoh, seseorang yang bekerja di lingkungan yang menuntut disiplin, kerja keras, dan ketepatan waktu lama-kelamaan akan menginternalisasi kebiasaan tersebut. Pola perilaku yang diulang terus-menerus akhirnya menjadi bagian dari kepribadian.
Selain itu, peristiwa besar dalam hidup seperti pernikahan, menjadi orang tua, perubahan karier, atau pengalaman traumatis juga dapat memicu perubahan pada aspek tertentu dari kepribadian seseorang.
Mengubah atau Mengembangkan Kepribadian?
Meski kepribadian bisa berubah, para ahli menilai perubahan tersebut jarang terjadi secara cepat dan menyeluruh. Lebih sering, perubahan bersifat gradual dan tidak disadari dalam keseharian.
Karena itu, banyak psikolog menyarankan pendekatan mengembangkan kepribadian dibanding memaksakan perubahan total. Anggapan bahwa ada tipe kepribadian yang lebih baik dari yang lain, seperti ekstrovert lebih unggul dibanding introvert, dinilai keliru.
Setiap ciri kepribadian memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung konteks dan situasi. Dengan mengenali kepribadian sendiri, seseorang dapat belajar merespons lingkungan secara lebih adaptif dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Editor : Fadhilah Salsa Bella