Dalam dunia medis dan psikologi, kepribadian ganda memiliki istilah resmi Dissociative Identity Disorder atau DID. Meski masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, banyak dokter dan psikolog sepakat bahwa kondisi ini nyata dan benar-benar dialami oleh sebagian orang di dunia.
Data menunjukkan, sekitar tiga dari 200 orang diperkirakan mengalami DID. Angka ini memang tidak besar, namun cukup untuk menegaskan bahwa kepribadian ganda bukan sekadar mitos atau karangan fiksi.
Baca Juga: Cara Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan Lewat HP, Panduan Lengkap JMO yang Jarang Diketahui Peserta
Apa Itu Gangguan Kepribadian Ganda?
Dissociative Identity Disorder adalah gangguan mental yang ditandai dengan keberadaan dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda dalam satu individu. Setiap kepribadian dapat memiliki cara berpikir, berperilaku, hingga mengingat pengalaman yang berbeda satu sama lain.
Kondisi ini berbeda dengan gangguan kejiwaan lain yang sering disamakan dengannya. DID juga bukan gangguan yang bisa disembuhkan dengan obat semata. Penanganannya membutuhkan terapi jangka panjang, terutama untuk mengelola trauma yang mendasarinya.
Akar Masalah: Trauma Masa Kecil
Para ahli sepakat bahwa penyebab utama kepribadian ganda berkaitan erat dengan trauma berat di masa kecil. Kekerasan fisik, emosional, atau seksual yang berlangsung dalam jangka waktu lama membuat otak anak membangun mekanisme bertahan hidup.
Identitas yang terpecah menjadi cara pikiran melindungi diri dari rasa sakit yang tak tertahankan. Trauma yang tidak tertangani ini kemudian terbawa hingga dewasa dan berkembang menjadi DID.
Tidak Seperti di Film
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang kepribadian ganda berasal dari gambaran ekstrem di film. Dalam kenyataan, pergantian kepribadian tidak sesederhana mengganti pakaian sesuka hati.
Banyak pengidap DID mengalami amnesia atau kehilangan ingatan ketika kepribadian lain mengambil alih. Mereka bisa lupa apa yang baru saja dilakukan, bahkan tidak menyadari perubahan tersebut.
Ilmuwan juga menyebutkan bahwa jumlah kepribadian dalam satu individu bisa sangat banyak, bahkan hingga puluhan. Namun, sebagian besar pengidap DID tetap terlihat “normal” dalam keseharian. Penampilan dan perilaku mereka sering kali tidak mencolok.
Lebih Sering Jadi Korban, Bukan Pelaku
Berbeda dengan stereotip yang berkembang, pengidap kepribadian ganda justru lebih sering menjadi korban kekerasan, bukan pelaku. Stigma bahwa mereka berbahaya tidak didukung oleh data ilmiah.
Sebaliknya, banyak dari mereka mengalami pengucilan sosial, diskriminasi, bahkan perlakuan tidak manusiawi. Di beberapa kasus ekstrem, pengidap gangguan mental masih dipasung atau diikat karena dianggap membahayakan lingkungan.
Bahaya Berpura-pura Punya Kepribadian Ganda
Fenomena lain yang memperburuk stigma adalah adanya individu yang mengaku mengidap kepribadian ganda untuk kepentingan pribadi. Ada yang menggunakannya untuk meringankan hukuman pidana, ada pula yang mengarang kisah demi popularitas.
Kasus-kasus kebohongan semacam ini justru membuat penderita DID yang sesungguhnya semakin sulit mendapatkan empati dan bantuan. Stigma terhadap kepribadian ganda pun makin menguat di masyarakat.
Pentingnya Pemahaman dan Bantuan Medis
Kepribadian ganda adalah kondisi nyata yang membutuhkan penanganan profesional. Bantuan medis dan psikologis dapat membantu pengidap DID menjalani hidup yang lebih stabil dan bermartabat.
Pemahaman publik menjadi kunci penting untuk mengurangi stigma. Dengan mengenali fakta ilmiah tentang DID, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang pengidap kepribadian ganda sebagai ancaman, melainkan sebagai individu yang membutuhkan dukungan.
Di sekitar kita, bisa jadi ada orang yang hidup dengan kondisi ini tanpa kita sadari. Menghormati dan memperlakukan mereka sebagai manusia seutuhnya adalah langkah awal menuju lingkungan yang lebih inklusif dan beradab.
Editor : Fadhilah Salsa Bella