RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Cristiano Ronaldo kembali menjadi perbincangan publik. Namun kali ini bukan karena gol atau prestasinya di lapangan, melainkan mengenai karakter dan mentalitas yang dimilikinya.
Dalam sebuah diskusi, megabintang asal Portugal itu disebut bukan sebagai sosok yang memiliki ego berlebihan. Sebaliknya, Cristiano Ronaldo dinilai mempunyai rasa percaya diri yang sangat tinggi serta kemampuan mengendalikan ego, sesuatu yang dianggap menjadi salah satu rahasia kesuksesannya selama lebih dari dua dekade berkarier di sepak bola.
Pandangan tersebut muncul melalui perbandingan dengan sejumlah tokoh besar dunia seperti Diego Armando Maradona dan Napoleon Bonaparte.
Ronaldo Dinilai Mampu Menerima Kritik
Pada awal kariernya di Manchester United, Cristiano Ronaldo dikenal sebagai pemain dengan kemampuan dribel luar biasa.
Namun, gaya bermainnya saat itu juga menuai banyak kritik. Ronaldo dianggap terlalu individualistis dan sering memegang bola terlalu lama.
Alih-alih menolak kritik, pemain yang kini membela Al Nassr itu justru melakukan perubahan besar.
Ia perlahan mengubah permainannya menjadi lebih efektif dan efisien.
Perubahan tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang membuat Ronaldo berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia hingga akhirnya direkrut Real Madrid.
Kemampuan menerima masukan dan mengubah kelemahan menjadi kekuatan disebut sebagai bukti bahwa Ronaldo mampu mengendalikan egonya.
Tidak Pernah Berhenti Belajar
Meski telah meraih berbagai gelar bergengsi, Cristiano Ronaldo disebut tidak pernah berhenti belajar.
Ia terus meningkatkan kualitas dirinya melalui latihan dan disiplin tinggi.
Ronaldo dikenal sebagai pemain yang selalu datang lebih awal ke tempat latihan dan pulang lebih akhir dibandingkan rekan-rekannya.
Etos kerja tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia mampu bertahan di level tertinggi dalam waktu yang sangat panjang.
Selain itu, Ronaldo juga dinilai sangat memahami kemampuan dirinya.
Saat usia bertambah dan kemampuan fisiknya mulai berubah, ia tidak memaksakan diri bermain seperti saat masih muda.
Sebaliknya, Ronaldo beradaptasi dengan mengubah perannya menjadi penyerang yang lebih fokus mencari posisi terbaik di area penalti.
Transformasi itu terlihat jelas dari perbedaan gaya bermainnya saat membela Manchester United, Real Madrid, Juventus, hingga Al Nassr.
Confidence dan Ego Dinilai Berbeda
Dalam diskusi tersebut, dijelaskan bahwa confidence atau rasa percaya diri sangat berbeda dengan ego.
Seseorang yang memiliki ego berlebihan cenderung menolak kritik dan merasa dirinya tidak bisa disentuh oleh kesalahan.
Sebaliknya, orang yang memiliki confidence tetap yakin terhadap kemampuannya, tetapi masih mau belajar dan menerima masukan.
Cristiano Ronaldo dianggap masuk dalam kategori kedua.
Ia memiliki keyakinan besar terhadap kemampuannya, bahkan ketika berada dalam situasi sulit.
Mentalitas untuk terus percaya bahwa dirinya adalah yang terbaik dinilai menjadi salah satu faktor penting di balik konsistensi kariernya.
Maradona Jadi Contoh Sulitnya Mengendalikan Ego
Nama Diego Armando Maradona juga muncul sebagai perbandingan.
Legenda Argentina itu diakui sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Maradona berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 dan mengangkat Napoli menjadi juara Serie A.
Prestasinya membuat nama Maradona dikenang hingga saat ini.
Namun, perjalanan kariernya juga diwarnai berbagai masalah di luar lapangan.
Maradona disebut terjebak dalam gaya hidup yang buruk, mulai dari pesta hingga penyalahgunaan narkoba.
Kariernya bahkan sempat terganggu setelah tersandung kasus doping pada Piala Dunia 1994.
Meski statusnya sebagai legenda tidak terbantahkan, banyak pihak menilai Maradona dapat mencapai lebih banyak hal apabila mampu mengendalikan ego dan gaya hidupnya.
Napoleon Bonaparte Juga Disebut Jadi Korban Ego
Perbandingan lainnya diarahkan kepada Napoleon Bonaparte.
Napoleon dikenal sebagai salah satu jenderal terbesar dalam sejarah yang berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah Eropa.
Namun, kesuksesan besar tersebut disebut membuatnya merasa tidak terkalahkan.
Ketika mendapat saran agar tidak menyerang Rusia, Napoleon tetap melanjutkan rencananya.
Keputusan itu akhirnya menjadi salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah militer.
Invasi Rusia menyebabkan sebagian besar pasukannya gugur dan menjadi awal dari kejatuhannya.
Ronaldo Dinilai Punya Jiwa Pemimpin
Selain dikenal sebagai sosok disiplin, Cristiano Ronaldo juga dinilai memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.
Beberapa momen menunjukkan bahwa dirinya tidak selalu mengutamakan kepentingan pribadi.
Ronaldo pernah mendorong rekan setimnya untuk mengambil penalti demi meningkatkan rasa percaya diri.
Ia juga disebut pernah memberikan kesempatan kepada Karim Benzema untuk mengeksekusi penalti ketika penyerang asal Prancis tersebut sedang mengalami masa sulit.
Tindakan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa Ronaldo tidak memiliki ego yang bersifat merusak.
Sebaliknya, ia mampu menggunakan rasa percaya diri yang dimilikinya untuk membantu rekan setim berkembang.
Pada akhirnya, Cristiano Ronaldo disebut sebagai contoh bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh bakat dan kemampuan, tetapi juga oleh kemampuan seseorang dalam mengendalikan ego, menerima kritik, serta terus belajar sepanjang hidupnya.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : SUARA BERKELAS, You Tube, DIOLAH