RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Perdebatan mengenai ego dan rasa percaya diri kembali menjadi sorotan setelah muncul pembahasan mengenai sosok Cristiano Ronaldo. Dalam sebuah diskusi, megabintang asal Portugal itu justru dinilai bukan sebagai pribadi yang memiliki ego berlebihan, melainkan seseorang yang mampu mengendalikan egonya dan mengubahnya menjadi kepercayaan diri tinggi.
Pandangan tersebut muncul dengan membandingkan perjalanan karier Cristiano Ronaldo dengan sejumlah tokoh besar dunia seperti Diego Armando Maradona hingga Napoleon Bonaparte.
Cristiano Ronaldo disebut menjadi contoh atlet yang mampu menerima kritik dan terus berkembang sepanjang kariernya.
Pada awal kedatangannya di Manchester United, Ronaldo kerap mendapat kritik karena dianggap terlalu banyak melakukan dribel dan bermain individualistis.
Namun, alih-alih menolak kritik, pemain Portugal itu justru mengubah gaya bermainnya menjadi lebih efektif.
Perubahan tersebut kemudian membawa Ronaldo berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dunia hingga akhirnya direkrut Real Madrid dengan status bintang.
Ronaldo Terus Belajar dan Beradaptasi
Perjalanan Ronaldo tidak berhenti ketika mencapai puncak karier di Real Madrid.
Ia disebut terus belajar dan berusaha meningkatkan kualitas permainannya dari waktu ke waktu.
Salah satu contoh yang diangkat adalah kemampuannya beradaptasi dengan perubahan usia dan kondisi fisik.
Ketika tidak lagi mampu melakukan dribel cepat seperti saat muda, Ronaldo mengubah perannya menjadi predator di kotak penalti.
Transformasi tersebut terlihat dari perbedaan gaya bermain Ronaldo saat membela Manchester United, Real Madrid, Juventus, hingga Al Nassr.
Meski gaya bermainnya berubah, ia tetap mampu menjadi pemain penting dan terus mencetak gol.
Disiplin juga menjadi faktor yang sering disorot dari sosok Ronaldo.
Ia dikenal sebagai pemain yang datang lebih awal ke sesi latihan dan pulang paling akhir dibanding rekan-rekannya.
Mentalitas untuk terus berkembang serta kemampuan menerima kritik disebut menjadi salah satu kunci utama keberhasilannya.
Perbedaan Confidence dan Ego
Dalam pembahasan tersebut, rasa percaya diri atau confidence dianggap berbeda dengan ego yang berlebihan.
Confidence dinilai membuat seseorang yakin terhadap kemampuannya, tetapi tetap terbuka terhadap masukan dan perubahan.
Sebaliknya, ego yang tidak terkendali dapat membuat seseorang menolak kritik dan merasa tidak tersentuh.
Cristiano Ronaldo disebut lebih menunjukkan sikap confidence dibanding ego.
Bahkan, di tengah masa sulit sekalipun, Ronaldo tetap memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah yang terbaik.
Mentalitas tersebut diyakini menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus bertahan di level tertinggi.
Maradona Disebut Gagal Mengendalikan Ego
Sebagai perbandingan, nama Diego Armando Maradona juga ikut dibahas.
Legenda Argentina itu diakui sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Maradona berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986 dan mencatatkan sejumlah momen ikonik dalam sejarah sepak bola.
Ia juga sukses mengangkat Napoli menjadi juara Serie A, pencapaian yang membuat namanya begitu dihormati hingga stadion klub tersebut kini menggunakan namanya.
Namun, Maradona dinilai gagal mengendalikan ego dan gaya hidupnya.
Ia disebut terjebak dalam kehidupan malam, pesta, hingga penyalahgunaan narkoba.
Pada akhirnya, perjalanan kariernya juga terganggu, termasuk ketika tidak dapat memperkuat Argentina pada Piala Dunia 1994 karena kasus doping.
Meski tetap dikenang sebagai legenda, banyak pihak menilai karier Maradona bisa menjadi lebih besar jika mampu mengendalikan egonya.
Napoleon Jadi Contoh Lain Bahaya Ego
Selain Maradona, sosok Napoleon Bonaparte juga dijadikan contoh mengenai dampak buruk ego yang tidak terkendali.
Napoleon dikenal sebagai jenderal besar yang berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah Eropa dan menjadi Kaisar Prancis.
Namun, kejayaannya mulai runtuh ketika memutuskan melakukan invasi ke Rusia.
Keputusan tersebut diambil meski mendapat banyak peringatan dari orang-orang di sekitarnya.
Napoleon disebut merasa tidak terkalahkan karena selama ini selalu meraih kemenangan.
Ia membawa sekitar 600 ribu pasukan menuju Rusia pada musim dingin.
Namun, sebagian besar pasukannya tidak kembali dan hanya menyisakan sekitar 10 persen dari jumlah awal.
Kekalahan tersebut menjadi awal dari kejatuhan Napoleon hingga akhirnya berakhir di pengasingan.
Ronaldo Dinilai Punya Jiwa Kepemimpinan
Diskusi tersebut juga menyoroti sisi lain Cristiano Ronaldo sebagai rekan setim dan pemimpin.
Ronaldo dinilai tidak menunjukkan ego yang berbahaya atau bersifat toksik.
Baca Juga: Portugal Gagal Kunci Tiket Piala Dunia 2026 Lebih Awal, Cristiano Ronaldo Lampaui Gol Carlos Ruiz
Salah satu contoh yang disebut adalah ketika ia mendorong Joao Moutinho untuk mengambil tendangan penalti demi meningkatkan kepercayaan diri rekannya tersebut.
Contoh lain terjadi saat membela Real Madrid.
Ketika Karim Benzema mengalami kesulitan mencetak gol dan mendapat tekanan dari suporter, Ronaldo disebut memberikan kesempatan kepada Benzema untuk mengeksekusi penalti.
Tindakan tersebut dinilai menunjukkan bahwa Ronaldo mampu mengesampingkan kepentingan pribadi demi membantu rekan setimnya.
Karena itu, Cristiano Ronaldo dipandang sebagai figur yang memiliki rasa percaya diri tinggi, tetapi tetap mampu mengendalikan ego dan terus berkembang sepanjang kariernya.
Editor : Ingge Nayla Ayu KarinaSumber : SUARA BERKELAS, You Tube, DIOLAH