JAKARTA - Cara efektif membaca buku menjadi penting ketika seseorang mampu menyelesaikan banyak bacaan, tetapi justru lupa sebagian besar isinya.
Masalah tersebut bukan selalu karena kemampuan mengingat yang buruk, melainkan karena proses membaca sering dilakukan secara pasif tanpa mengolah, menuliskan, dan menjelaskan kembali informasi yang diperoleh.
Fenomena membaca tetapi tidak mampu menceritakan kembali isi buku cukup umum terjadi. Setelah menutup halaman terakhir, seseorang mungkin hanya mampu mengatakan bahwa bukunya bagus tanpa menjelaskan gagasan utama yang dibahas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah budaya konsumsi informasi yang semakin cepat. Media sosial membuat orang terbiasa menerima informasi dalam potongan pendek, sementara buku membutuhkan perhatian dan proses berpikir yang lebih panjang.
Baca Juga: Rekomendasi Game Terbaik 2025: Hades 2 Buktikan Kualitas Roguelike Premium Lewat Visual Rapi
Otak Tidak Sekadar Membutuhkan Informasi
Dalam pembahasan yang dikutip dari video tersebut, membaca disebut sebagai keterampilan yang perlu dilatih. Otak manusia tidak secara khusus dirancang untuk membaca sehingga aktivitas tersebut membutuhkan proses belajar dan pembiasaan.
Berbeda dengan video yang langsung memberikan gambar dan suara, membaca memaksa seseorang membangun gambaran sendiri dari kata-kata yang ada di halaman.
Misalnya, ketika membaca adegan seseorang melompat melewati pagar, otak dapat melakukan simulasi terhadap gerakan tersebut. Proses semacam ini disebut grounded cognition.
Karena itu, membaca bukan hanya aktivitas menerima informasi. Ada proses mental untuk mengolah, membayangkan, menghubungkan, dan menafsirkan informasi.
Jangan Terjebak Mengejar Jumlah Buku
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menjadikan jumlah buku sebagai ukuran keberhasilan. Dalam video tersebut diceritakan pengalaman menjalankan tantangan membaca 36 buku dalam setahun.
Target itu berhasil diselesaikan, tetapi muncul persoalan baru. Dorongan untuk memenuhi target membuat pemilihan buku terkadang lebih didasarkan pada ketebalan halaman daripada kebutuhan.
Buku yang tipis dipilih agar lebih cepat selesai, sementara buku yang sebenarnya dibutuhkan justru dapat terabaikan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa target membaca tidak selalu buruk. Tantangan membaca tetap dapat membentuk kedisiplinan dan kebiasaan positif. Namun, kuantitas sebaiknya tidak mengalahkan kualitas pemahaman.
Membaca dengan Strategi
Ada beberapa cara yang dapat membuat proses membaca lebih efektif. Pertama, menentukan waktu membaca. Pagi hari ketika pikiran masih relatif segar dapat dimanfaatkan untuk membaca. Malam sebelum tidur juga dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan pada layar.
Kedua, menentukan tujuan sebelum memilih buku. Jangan sekadar mengikuti buku yang sedang populer. Pertimbangkan persoalan atau kebutuhan yang ingin dijawab melalui bacaan.
Ketiga, pembaca tidak harus mengikuti urutan halaman secara kaku, terutama ketika membaca buku nonfiksi. Daftar isi dapat digunakan untuk menemukan bagian yang paling relevan.
Pembaca juga tidak harus menyelesaikan buku yang dianggap tidak memberikan manfaat. Waktu terbatas, sedangkan jumlah buku yang tersedia sangat banyak.
Jangan Cuma Highlight
Memberikan stabilo pada kalimat penting memang membantu menemukan kembali informasi. Namun, menandai teks saja merupakan aktivitas yang relatif pasif.
Cara yang lebih aktif adalah menulis ulang gagasan menggunakan bahasa sendiri. Setelah menemukan ide penting, berhentilah sejenak dan jelaskan kembali maksudnya berdasarkan konteks kehidupan.
Misalnya, konsep tentang disiplin dapat diterjemahkan menjadi tindakan konkret yang berkaitan dengan pekerjaan atau kebiasaan pribadi. Proses menerjemahkan gagasan membuat pembaca tidak sekadar mengenali kalimat, tetapi memahami maknanya.
Rangkuman singkat di akhir setiap bab juga dapat menjadi catatan penting ketika buku tersebut ingin dibaca kembali.
Buku Lama Bisa Memberikan Makna Baru
Membaca ulang buku yang pernah dibaca bukan berarti membuang waktu. Manusia berubah karena pengalaman, usia, lingkungan, dan persoalan yang dihadapi.
Akibatnya, satu buku dapat memberikan pemahaman berbeda ketika dibaca kembali beberapa tahun kemudian.
Membaca secara perlahan juga memungkinkan pembaca berhenti pada gagasan yang benar-benar menarik perhatian. Ukuran keberhasilan bukan seberapa cepat buku selesai, melainkan seberapa banyak ide yang membuat pembaca berpikir.
Pengetahuan Harus Dipraktikkan
Masalah terbesar muncul ketika membaca berhenti sebagai konsumsi informasi. Seseorang dapat merasa produktif hanya karena telah menyelesaikan sebuah buku, meskipun tidak ada satu pun gagasan yang dipraktikkan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai illusion of competence atau ilusi pengetahuan. Untuk menghindarinya, pembaca dapat menjelaskan kembali apa yang dipelajari kepada orang lain.
Diskusi dengan teman, membuat tulisan, mengunggah rangkuman, atau menjawab pertanyaan berdasarkan isi buku merupakan cara untuk menguji pemahaman.
Membaca juga tidak menjamin seseorang mampu mengingat seluruh isi buku. Detail dan kalimat tertentu pasti dapat terlupakan.
Namun, proses membaca tetap meninggalkan pengaruh. Seperti saringan yang dicuci dengan air, mungkin tidak ada air yang berhasil ditampung, tetapi saringan tersebut menjadi lebih bersih.
Begitu pula membaca. Tidak semua informasi harus diingat selamanya. Yang lebih penting, proses tersebut dapat membantu membersihkan cara berpikir, memperluas perspektif, dan membuat seseorang lebih mampu memahami dunia di sekitarnya.
Baca Juga: Rekomendasi Game Terbaik 2025: Hades 2 Buktikan Kualitas Roguelike Premium Lewat Visual Rapi
Editor : Muhamad Ahsanul WildanSumber : Edutektif