Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pedagang Kuliner Kena Dampak Kelangkaan LPG 3 Kg, Terpaksa Libur Jualan Karena Kehabisan Gas

Matlaul Ngainul Aziz • Kamis, 27 Juli 2023 | 22:00 WIB

 

GAS: Gas di Tulungagung semain langka, pedagang kuliner mengeluhkan kondisi tersebut.
GAS: Gas di Tulungagung semain langka, pedagang kuliner mengeluhkan kondisi tersebut.

RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM – “Sejak awal Juli itu sudah susah banget carinya. Jadi kalau mau cari itu harus dari pagi, kalau sudah siang pasti tidak kebagian.”

Begitulah rentetan kalimat bernada keluhan yang meluncur dari mulut penjual bakso keliling. Ibrahim. Semua tidak lepas dari berkurangnya pasokan elpiji 3 kilogram (kg) di pasaran. Ternyata dampaknya tidak hanya dirasakan ibu rumah tangga. Para pedagang kuliner pun ikut merasakan.

Kepada Koran ini, Ibrahim mengaku mustahil untuk beralih ke tabung 12 kg. Karena itu dianggap bukan solusi bagi dia. Apalagi bisa mengoreksi keuntungan dan mengancam mata pencahariannya. “Setiap hari, saya harus antre pagi buta di pengecer. Mana bisa jualan kalau tidak ada elpiji 3 kg ini,” jelasnya kemarin (26/7).

Belum lagi, adanya syarat baru dalam mendapatkan gas subsidi tersebut. Menurutnya untuk mendapatkan gas elpiji 3 kg harus menyertakan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu keluarga (KK). Ditambah, satu KTP hanya dijatah dua tabung gas, sedangkan kebutuhannya per hari empat tabung gas melon. “Per hari itu normalnya butuh empat tabung gas, itu buat masak dan satu buat keliling. Kalau yang buat keliling itu habisnya setiap empat hari. Ya karena dibatasi per KTP dapat dua tabung, terpaksa cari di tempat lain. Butuhnya setiap hari empat tabung,” ucapnya.

Disinggung ihwal keengganan beralih ke tabung gas elpiji 12 kg, dia mengaku bahwa harganya terlalu mahal untuk skala bisnis yang dijalankan. Jika beralih ke tabung gas tersebut, dia terpaksa memangkas keuntungan. Diketahui, keuntungan yang ia dapatkan dari berjualan bakso keliling ini hanya berkisar Rp 50 ribu per harinya. “Ya kita kan butuh makan dan rokok juga, jadi untungnya segitu. Cukup tidak cukup ya dapatnya segitu, Mas. Belum lagi kebutuhan kedua anak saya juga,” tutupnya.

Hal yang tidak jauh berbeda dilontarkan pedagang soto, Anis Munthoimah. Dia mengaku mengalami hal serupa dalam memenuhi kebutuhan gas elpiji untuk menjalani bisnisnya tersebut. Menurutnya, pedagang kuliner dengan omzet kecil sangat merasakan dampak dari persyaratan baru dalam pembelian tabung gas subsidi tersebut. “Per hari itu butuh dua tabung gas LPG 3 kg, itu pun kadang habis, kadang juga tidak. Ya yang jadi masalah itu ketersediaannya, cari siang sedikit saja sudah pasti kehabisan,” ungkapnya.

Disinggung jika gas habis, wanita asal Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu ini mengaku terpaksa tidak berjualan. Otomatis untuk hari itu tidak ada penghasilan yang didapat dari berjualan. “Mau bagaimana lagi, daripada merugi lebih baik tidak berjualan saat persediaan gas habis,” tandasnya.(ziz/c1/rka)

 

 

 

 

Editor : Nanda Nila Alvinda
#pedagang kuliner #tulungagung dimana #LPG 3 kg langka