Arta Bonsai Batu Simpan Cemara 100 Tahun Seharga Rp750 Juta, Dirintis Keluarga Sejak 1979

Davina Ar Raafika • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:00 WIB
Arta Bonsai Batu menyimpan bonsai cemara 100 tahun seharga Rp750 juta. Galeri bonsai keluarga ini telah berdiri sejak 1979 di Desa Sidomulyo, Kota Batu. (Pinterest)
Arta Bonsai Batu menyimpan bonsai cemara 100 tahun seharga Rp750 juta. Galeri bonsai keluarga ini telah berdiri sejak 1979 di Desa Sidomulyo, Kota Batu. (Pinterest)

MALANG - Arta Bonsai di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, menyimpan koleksi bonsai cemara berusia sekitar 100 tahun yang dibanderol Rp750 juta. Tempat budidaya dan galeri bonsai ini telah dikelola secara turun-temurun sejak 1979 dan kini diteruskan oleh generasi ketiga, Bapak Somad.

Koleksi bonsai cemara tersebut menjadi salah satu masterpiece utama di Arta Bonsai. Pohon itu menggunakan gaya grouping atau kelompok dengan karakter batang yang menyatu secara alami seiring pertambahan usia.

Menurut penjelasan dalam video YouTube yang menampilkan kunjungan ke lokasi, jenis cemara yang digunakan merupakan kombinasi Cemara Sargenti dan Cemara Duri, spesies asli Indonesia yang dikenal memiliki batang kokoh dan karakter kayu kering yang kuat.

Lokasi Unik di Tepi Tebing dan Sungai

Arta Bonsai berlokasi di Jalan Bukit Berbunga No. 1, Desa Sidomulyo, Kota Batu. Lokasinya berada di samping tebing dan jurang dengan aliran sungai di sekitarnya.

Kondisi geografis tersebut membuat suasana di area bonsai terasa sejuk. Bapak Somad menyebut suhu dingin Kota Batu menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis cemara.

Usaha keluarga ini bermula dari sang kakek yang menanam cemara sebagai tanaman pagar tumpangsari di kebun apel. Dari kebiasaan itu, koleksi cemara terus berkembang hingga menjadi spesialisasi utama Arta Bonsai.

Bahan Bonsai Mulai Rp250 Ribu

Meski dikenal dengan koleksi ratusan juta rupiah, Arta Bonsai juga menyediakan bahan bonsai untuk pemula.

Bahan Cemara Sargenti dan Cemara Perkumbenana ukuran dasar dibanderol mulai Rp250 ribu hingga sekitar Rp500 ribuan.

Di area yang sama, terdapat berbagai jenis tanaman lain dengan kisaran harga berbeda. Ficus Kompakta dijual sekitar Rp50 juta, sedangkan Ficus Elegan ukuran taman mencapai Rp400 juta.

Bonsai Dolar Mangkok dengan daun kecil dan tajuk rapat dibanderol sekitar Rp120 juta.

Asem Jawa 100 Tahun Belum Laku 25 Tahun

Salah satu koleksi tertua di lokasi tersebut adalah pohon Asem Jawa yang diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun.

Pohon ini didongkel dari alam dalam ukuran besar dan sudah berada di dalam pot selama sekitar 25 tahun. Hingga saat video direkam, pohon tersebut disebut belum terjual karena harganya yang tinggi, yakni sekitar Rp275 juta.

Karakter bonggolnya menjadi daya tarik utama. Bentuknya dianggap memiliki gerak alami khas pohon asem tua di alam liar.

Baca Juga: Weton Senin Pon Menurut Primbon Jawa: Rezeki Datang Saat Dewasa, Filosofinya Dikaitkan dengan Laut Selatan

Cemara Rp750 Juta Jadi Andalan Kontes

Koleksi cemara grouping senilai Rp750 juta disebut sering mengikuti kontes bonsai. Karakter keringan dan penyatuan batang menjadi nilai artistik utama.

Bapak Somad menjelaskan bahwa batang-batang pada kelompok cemara itu menyatu secara alami akibat proses pertumbuhan yang sangat panjang.

“Batangnya menyatu sendiri karena usia,” demikian penjelasan yang disampaikan saat menunjukkan detail struktur pohon.

Cemara Sinensis 13 Tahun Banyak Diekspor

Koleksi penting lainnya adalah Cemara Sinensis bergaya tegak lurus yang dihasilkan melalui proses drafting atau tempelan.

Batang dasarnya menggunakan cemara pua-pua yang kemudian ditempel dengan cemara sinensis berdaun kecil. Proses penyatuan batang tersebut memakan waktu sekitar 13 tahun.

Bonsai jenis ini disebut banyak dikirim ke Singapura dan dibanderol sekitar Rp150 juta.

Ulmus Rp125 Juta Tanpa Pahatan

Di area galeri juga terdapat bonsai Ulmus berdaun mikro dengan harga sekitar Rp125 juta.

Yang membuat pohon ini menonjol adalah guratan tua pada batangnya. Bapak Somad menegaskan bahwa tekstur tersebut terbentuk secara alami tanpa dipahat.

Karakter alami semacam itu menjadi salah satu faktor yang dicari kolektor bonsai karena sulit direkayasa.

Teknik Ganti Daun Jadi Kunci Estetika

Salah satu teknik yang paling sering digunakan di Arta Bonsai adalah grafting atau ganti daun.

Pohon lokal seperti beringin iprik atau cemara biasa ditempel dengan jenis berdaun mikro, misalnya Dolar Mangkok, cemara kisu atau bimpong, dan Sinensis.

Tujuannya adalah menghasilkan tampilan daun yang lebih kecil dan rapat sehingga proporsi bonsai terlihat lebih ideal.

Proses penyambungan dilakukan menggunakan plastik pengikat. Penyatuan sempurna dapat memakan waktu beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.

Perawatan Rutin Dua Kali Setahun

Untuk jenis yang tumbuh cepat seperti Ulmus, pemangkasan dilakukan sekitar dua kali dalam setahun.

Pemangkasan bertujuan menjaga bentuk awan-awan atau terap-terap pada tajuk pohon agar tetap proporsional.

Media tanam yang mulai berkurang tidak selalu diganti total. Di lokasi ini, media cukup ditambah pupuk secara berkala untuk menjaga ketersediaan nutrisi.

Baca Juga: Peredaran Sabu Masih Jadi Ancaman di Tulungagung, BNNK Sebut Hampir Semua Kasus Hukum Didominasi Penyalahguna Sabu

Gaya Rusak Jadi Ciri Khas Bapak Somad

Bapak Somad mengaku menyukai gaya ekstrem atau “rusak-rusak”.

Pada gaya ini, cabang pohon sengaja dipatahkan secara bertahap selama bertahun-tahun untuk menciptakan karakter tua seperti pohon yang bertahan di alam liar.

Prosesnya tidak dilakukan sekaligus. Cabang dibentuk sedikit demi sedikit agar jaringan pohon tetap mampu beradaptasi.

Pendekatan tersebut menghasilkan tampilan yang lebih dramatis dan tidak terlalu rapi seperti bonsai konvensional.

Cemara dari Batu Bisa Hidup di Daerah Panas

Karena berasal dari daerah sejuk, bonsai cemara sering dianggap sulit dipindahkan ke wilayah panas.

Bapak Somad menjelaskan bahwa pohon tetap bisa beradaptasi asalkan melalui masa karantina.

Pada tahap awal, pohon ditempatkan di area teduh dengan penyiraman dikurangi menjadi sekali sehari selama sekitar tiga hingga empat bulan.

Setelah terbiasa, pohon baru dipindahkan ke lokasi dengan paparan matahari penuh.

Lahan 1 Hektar Berisi Ribuan Pohon

Skala Arta Bonsai tergolong besar untuk ukuran galeri bonsai keluarga.

Lahannya mencapai sekitar satu hektar dan dipenuhi ribuan pohon dalam berbagai tahap pertumbuhan, mulai dari pembibitan, bahan mentah, hingga bonsai jadi bernilai ratusan juta rupiah.

Pengunjung dapat melihat langsung proses pembentukan bonsai dari tahap awal hingga siap kontes atau siap jual.

Koleksi Lain: Murbei, Kelor, hingga Golden Ligustrum

Selain cemara dan beringin, Arta Bonsai juga menyimpan berbagai jenis tanaman lain.

Bonsai Murbei tua dengan buah kecil dan manis dihargai sekitar Rp12 juta.

Pohon Kelor atau Morengga berukuran besar dibanderol antara Rp15 juta hingga Rp40 juta tergantung bentuk dan ukuran batang.

Tanaman hias Golden Ligustrum dengan varian hijau, varigata, dan emas dijual sekitar Rp4,5 juta.

Untuk bahan bonsai Serut ukuran kecil, harganya sekitar Rp2 juta, sedangkan ukuran lebih besar mencapai Rp5 juta.

Terbuka untuk Umum Setiap Hari

Menjelang akhir video, Bapak Somad menegaskan bahwa Arta Bonsai terbuka untuk umum setiap hari.

Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota lainnya untuk melihat koleksi bonsai secara langsung.

Dengan sejarah hampir setengah abad, ribuan koleksi, serta keberadaan bonsai cemara berusia sekitar 100 tahun seharga Rp750 juta, Arta Bonsai kini menjadi salah satu destinasi bonsai paling menonjol di Kota Batu, Malang.

Editor : Davina Ar Raafika
Sumber : Yt AUDREY A
Arta Bonsai bonsai cemara bonsai Batu Malang bonsai Rp750 juta Bapak Somad