RADAR TULUNGAGUNG - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pernyataan penting di hadapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB di New York, Amerika Serikat. Yakni mengenai solusi dua negara untuk perdamaian Palestina.
Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap membuka opsi untuk mengakui Israel, dengan syarat utama: Israel harus terlebih dahulu mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Baca Juga: PBB Tegaskan Israel Lakukan Genosida di Gaza, Dampak Global dan Seruan Internasional Mendesak
"Jika Palestina diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, dan jika Israel menunjukkan kesediaan yang sama, maka Indonesia siap mempertimbangkan untuk mengakui Israel," ujar Prabowo dalam forum tersebut.
Pernyataan ini menjadi titik penting dalam arah kebijakan luar negeri Indonesia, yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel karena faktor historis dan komitmen terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa komitmen Indonesia terhadap Palestina tidak berubah, namun Indonesia juga berpandangan bahwa solusi damai membutuhkan timbal balik dan pengakuan yang setara dari kedua belah pihak.
Dalam forum tersebut, Prabowo juga mengecam keras aksi militer Israel di Gaza yang telah menewaskan ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Ia menyerukan gencatan senjata permanen dan mendesak negara-negara anggota PBB untuk mendorong rekonstruksi Gaza serta pemulihan layanan kemanusiaan.
"Kami tidak bisa hanya menonton ketika kekerasan terus berulang. Dunia harus bertindak, dan tindakan pertama adalah pengakuan terhadap hak Palestina untuk hidup sebagai negara yang merdeka," tambahnya.
Pernyataan Presiden Prabowo turut menggarisbawahi dukungan Indonesia terhadap Deklarasi New York yang telah disahkan Majelis Umum PBB pada 12 September 2025.
Deklarasi tersebut menyerukan penghentian kekerasan, pengakuan dua negara, serta komitmen internasional terhadap perdamaian abadi.
Langkah diplomatik ini mendapat perhatian luas dari komunitas internasional karena menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, juga membuka ruang dialog dan solusi realistis bagi konflik berkepanjangan di Timur Tengah. ****
Editor : Dharaka R. Perdana